Antara Rating dan Tayangan Edukatif

“Wis le…, channel-e dipindah wae. Ibu wegah, lagi maem saur koq nang TV enek artis nirokake asu nguyuh, lha sik diuyuhi we podo-podo uwong ! ”
(Sudahlah nak, channelnya dipindah saja. Ibu malas, sedang makan sahur koq di TV ada artis yang menirukan anjing buang air, lha yang jadi sasaran buang air sama-sama manusia lagi).

Itulah ucapan spontan, simbok (bahasa Jawa, artinya Ibu) saya saat melihat sebuah tayangan pengantar saur yang jauuuhhh beda dengan tayangan tahun sebelumnya, di channel televisi yang sama. Saya, selaku anak, cuman mengangguk saja dan memindah-mindah channel mencari acara yang Islami. Yaa, namanya juga Ramadhan, masak nggak ada peningkatan sama sekali sih ? Tiap hari udah disuguhin “dagelan kasar” terus, penginnya sich ada acara yang agak Islami gitu, tapi jangan serius-serius banget. Mandeg di salah satu stasiun TV, ehh ada sinetron Islami yang diselingi dengan sinekuiz yang cukup lumayan padat dan berisi. Meskipun hadiahnya nggak se-bombastis tayangan lain, cerita yang ditampilkan lumayan mendidik daripada tayangan lainnya.

Ternyata kekhawatiran yang saya rasakan juga dirasakan oleh berbagai pihak. Artinya, saya masih manusia normal, gitu (hehehe). Beberapa hari setelah kejadian tadi, seluruh surat kabar memuat berita yang hampir serupa, pernyataan dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) bahwa hampir separuh dari tayangan Ramadhan masih belum edukatif. Parahnya lagi, mereka siap mempidanakan beberapa tayangan ini dan tentu ini jadi pukulan yang cukup telak untuk para pelaku industri hiburan (Republika, Rabu 26 September 2007).

Beberapa tokoh masyarakat, yang sebelumnya tidak angkat bicara, kemudian menyuarakan kegelisahan umat. Lihat beberapa komentar mereka :

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono memandang, ”Sinetron dan film tayangan televisi tidak mencerdaskan kaum perempuan. Sebaliknya, justru mengajarkan kejudesan dan kejahatan.”

Pakar Ilmu Komunikasi, Effendi Gazali, ”Untuk mengubah tayangan televisi yang cenderung membodohi itu ke siaran yang lebih mencerdaskan bangsa, tidak bisa diserahkan hanya kepada pemilik modal. Harus ada tekanan massif dari publik.”

(Republika, 16 September 2007)

Terus, bagaimana respon pihak yang merasa dikritisi oleh KPI ini ? Kayaknya sich adem-adem aja lagi. Simak cuplikan berita ini :

Pihak pembuat sinetron tak serta merta sepakat dengan ide-ide tersebut. Pasalnya, pasar yang dikendalikan oleh rating masih mendikte rumah produksi dalam berkarya. `’Perusahaan pembuat ratinglah yang mesti ditata ulang. Sebab, hasil karya kami banyak yang ditolak stasiun televisi dengan alasan rating. Rating itu ibarat binatang buas yang mematikan,” kata Groza Subhakty, head of corporate affairs Multivision Plus.

(Republika, 16 September 2007)

Owh, jadi begitu tho, cara pikir industri TV. Hmm, ini subjektif loh (tapi kelihatannya memang bener deh !). It’s all about the money. Kalau rating tinggi, berarti ia akan terus mendapatkan tempat, sebagaimana sebuah sinetron penuh tangis dan melankolis Tersandung yang sampai masuk MURI gara-gara memecahkan rekor jumlah episode terbanyak. Ya, rating tinggi selalu menarik minat para pengiklan dan pemilik produk.
Gimana caranya ya, biar tetep edukatif tapi punya rating tinggi ? Mungkin seperti utopia di siang bolong, mengharap ada uang turun dari langit. Barangkali yang bisa dilakukan adalah, memasukkan sedikit kepentingan industri di tengah-tengah idealisme tayangan edukatif. Tayangan inilah yang nantinya bakalan selamat dari KPI dan kritik pemilik modal televisi.

Bagaimana dengan kita ? Bagaimana dengan konsumen televisi seperti kita-kita ini ? Ada artikel menarik dari blognya Bang Andri tentang kampanye anti ‘Sinetron Tak Bermutu’. Silahkan dibaca sendiri. Barangkali, bulan puasa ini kita harus puasa nonton TV juga. Kenapa ? Tak lain agar kita tidak selalu menuruti keinginan TV. Bisa-bisa kita jadi budak TV deh. Coba simak penggalan penuturan Ahan Syahrul Arifin berikut ini :

Banyaknya tayangan religi terbukti tidak memberikan efek apa-apa terhadap pemirsanya. Pemirsa TV hanya merasa terhibur dengan tayangan religi, tanpa mendapatkan makna yang mendalam dari tayangan tersebut. Sebab, penayangan acara religi mengusung nilai agama oleh para pemilik modal hanya dipergunakan mengejar dan mencari keuntungan bisnis.

Agama hanya dijadikan tameng bisnis oleh para pemilik TV, agar TV-nya tetap diminati oleh para pemirsanya. Selama ramadhan, seluruh TV yang ada berubah menjadi sangat religius, tidak ada satupun TV yang tetap mempertahankan format penyiarannya seperti sebelum ramadhan. Memasuki bulan ramadhan, mereka membalut tayangan dengan kentalnya aspek-aspek keagamaan.

Karenanya, satu-satunya jalan paling baik agar tidak terjebak dalam komersialisasi agama saat ramadhan melalui tayangan-tayangan TV. Hendaknya kita juga layak untuk berpuasa dari menonton TV guna menyelamatkan kebiadaban kapitalisme berjubah media.

(Sumber : Eramuslim.Com)

Siap puasa nonton TV ? Siap nggak ketemu pembawa acara yang menggoda hati ? Siap nggak ketemu ustadz-ustadz idola nan memukau ? Siap nggak ketemu sama Naruto dan Avatar ? Yuk, kita sama-sama nurunin rating semua acara di televisi, sebagai bukti kalau konsumen adalah pengendali, bukan objek yang dikendalikan !

Boikot Rating !
*(heleh…. sok hero)

Be Sociable, Share!
Categories: Care and Share

17 Comments

  • nurussadad says:

    Sekarang males sih nonton acara sahur kayak gitu, klo sahur paling nonton yang di SC**, yang laen mah bikin males sahur

  • meyedihkan memang, bagaimana budaya TV kita malah lebih mementingkan acara ramadhan, dengan dagelan kasar, kuis yang nggak ada hubungan dengan islam..sementara ini sinetronnya Dedy Mizwar sudah cukup menghibur sebagai pencerahan

  • starboard says:

    banyak penikmat serial Para Pencari Tuhan juga.. saya ikut !

    Syukur kalo ada perhatian dr pemerintah, acar tv skg gak mutu, udah acara dari tahun yll gak berubah format, wakxz..

  • sigid says:

    Sepertinya rating itulah yang menyesatkan.
    Yang mereka maksud rating itu apa yah, apakah banyaknya penonton pada suatu tayangan?
    Sekarang kasusnya di Indonesia penonton tidak punya pilihan lain. Di jam-jam Prime Time semua televisi menayangkan sinetron, jam lain sinetron lagi.
    Kalau rating itu tentang jumlah acara yang paling banyak ditonton, itu tidak fair karena penonton tidak punya pilihan tontonan lain yang bermutu.
    Coba sekarang jika semua televisi pada jam prime time menayangkan dokumenter National Geographic pasti National Geographic yang ratingnya bagus.

  • syaamil says:

    Kata bang Chaerul Umam,tuhan di pertelivisian kita memang udah ganti, bukan Allah Azza Wajalla, tapi Rating.
    Kata bunda Neno Warisman, pendidik pertama untuk anak-anak juga bukan ibu lagi, tapi TELEVISI!
    Yang bikin gemes, televisi membuat anak-anak jadi penakut. Mau pipis aja takut pocong…
    Kita mesti jatuh bangun buat memurnikan aqidah kita dan anak-anak kita.
    Maju terus pertelivisian Indonesia(lho!)
    Semua tergantung tangan kita. Tinggal klik! atau ganti channel…
    (puasa gini, ane cuma bisa nonton PPT sambil makan sahur. he.he.he)

  • Berpuasa dari Layar TV ? Boleh. tapi saya tidak siap untuk berpuasa dari depan Layar Komputer. :mrgreen:

  • popo says:

    saya juga penggemar PPT, soalnya acara tv lain dari tahun ke tahun monoton dan tidak mendidik

  • oon says:

    lah aku sudah gak pernah nongton tipi setiap sahur lho om!

  • mr.bambang says:

    Ataukah perlu bikin Rating Tandingan??????

  • mizz_jumper says:

    katanya bang deddy mzwr,,tingginya rating suatu acara bkn karena penonton suka dgn acara tsb tetapi karena tidak ada pilihan lain buat ditonton.apalagi intensitas masy kita buat nonton tv tu luar biasa bgt.ga enak aja klo bangun tidur ga nyetel tv,pas sarapan,pulang sekolah,mau bobo,kita udah terconditioning spt itu.2 jam rumah mati lampu rasane suepi……bgt
    gimana yha….?

  • Dimas says:

    Saya siap untuk puasa Avatar dan Naruto dari layar kaca. Episode2-nya diulang-ulang terus sih. Lagian udah tahu ceritanya :p

  • sampah_borneo says:

    cb ksh koment dari sebrang pulau…(west klimantan)
    klo acara tv bnyk ga mutunya kyk gtu n trus kita puasa ga’ nonton tv,saya sih setuju n betah2 aj…ad untungny jg yaa ga punya tv’.Selain itu klo ga pake parabola siaran tv ga’mw mampir…heehee.Setuju ga’selama bulan Ramadhan,kite puasa ga’nonton tv…hayoo sp yg se7..??

  • iqranegara says:

    pada demam PPT nih
    emang sih, sinetron ini bagai oase di tengah padang gersang
    kalo boleh minjem istilah tolakangin… orang pintar, nonton PPT
    salut buat bang Dedy Mizwar atas karya2 yang menginspirasi, dan SCTV yang BERANI BEDA (kayak Lativi)

    DICARI: program TV yang seperti ini atau yang lebih baik

  • tapi sayange di re-run mas, ngga tau kenapa, sekarang diulangin lagi ceritane …..

  • mizz_jumper says:

    inilah tantangan buat kita,,,,bisa ngga bikin acara yang disukai pemirsa,menghibur tapi juga amat sangat mendidik….
    bikin ide ceritanya,,,sapa tau ada produser yg maw bikin

  • mizz_jumper says:

    Oo……….itu mah biasa,,,,pas dulu zamannya sinetron Kiamat sudah dekat di re-run juga dari awal tapi ada trus ada kelanjutannya

  • taufik says:

    mari jadi penonton yang kritis

Leave a Reply