Budaya Ilmiah Kita Kurang

Bahkan seorang professor IT di Jepang tiap tahun menghasilkan tidak kurang dari 30 paper ! Sejak tahun 1996 sampai 2007 (saat ini) dia masih melakukan penelitian terus menerus dan dari penelitian itulah ia lahirkan banyak karya tulis brilian yang menjadi inti dari pengembangan riset di industri.

Alhamdulillah, sembari menjalani aktivitas sebagai “calon pengangguran baru”, saya iseng-iseng searching di beberapa universitas luar negri. Minat cari beasiswa sih ada, cuman belum ada gambaran yang cukup ‘terang’ tentang beasiswa yang akan diambil. Sembari browsing ke beberapa lab, untuk mencari seorang Professor yang cukup layak menjadi supervisor untuk Master Degree (S2), iseng-iseng saya buka beberapa lab di beberapa universitas Jepang. Awalnya, saya sedikit mencemooh tampilan dasar dari web mereka. Ya, web mereka bahkan sangat simpel, hanya terdiri dari beberapa baris kode HTML. Sama sekali tidak ada pernak-pernik CSS dan Javascript di sana. Apalagi AJAX ! Huh… apaan nih ? Aku masih penasaran dengan beberapa link yang ada. Aku mencoba melihat lebih dalam tiap-tiap fakultas yang ada, kemudian langsung masuk ke beberapa lab informatics and computer system yang ada di sana.

Tak ada yang istimewa. Tampilan biasa saja. Tapi setelah aku lihat bagian Papers atau tepatnya halaman daftar jurnal ilmiah, aku sempat sejenak tertegun dan kaget. Luar biasa, hampir tiap anggota laboratorium, mulai dari Professor, Associate Professor (atau gampangnya asisten professor), Research Student (Mahasiswa Riset), Doctor Candidate (Calon Doktor) dan Master Candidate (Calon Master) masing-masing memiliki karya tulis ilmiah yang cukup banyak. Tidak kurang dari dua puluh paper. Bahkan seorang professor IT di Jepang tiap tahun menghasilkan tidak kurang dari 30 paper ! Sejak tahun 1996 sampai 2007 (saat ini) dia masih melakukan penelitian terus menerus dan dari penelitian itulah ia lahirkan banyak karya tulis brilian yang menjadi inti dari pengembangan riset di industri. Sebagai contoh aja, silahkan lihat berita dari KCM (Kompas Cyber Media) berikut ini :

Hard Drive Kapasitas Raksasa Dekati Kenyataan

Sudah ? Apa komentar Anda ? Mereka melakukan perjuangan yang luar biasa di pengembangan teknologi bahan, dan sudah memasuki era nano technology (teknologi nano), sehingga mereka bisa membuat head Hard Drive dengan ukuran 4 TB yang siap dilaunching. Apakah ukuran hard drive itu lebih besar dari yang kita miliki ? Tentu tidak. Mereka melakukan rekayasa di bagian head hard disk tersebut. Head hard disk mereka 2000 kali lebih kecil dari sehelai rambut ! Ini tidak bisa dilakukan jika sebuah perusahaan tidak mengusai teknologi bahan. Dan untuk menguasai teknologi bahan, butuh riset yang melibatkan ratusan bahkan ribuan akademisi di seluruh Jepang. Hasilnya? Amerika dengan ASUS nya mungkin bisa dikalahkan oleh HITACHI dari Jepang. Walhasil, Jepang sepertinya menjadi negara pertama yang menggunakan nano technology untuk implementasi teknologi informasi.

Contoh lain, Anda pernah mendengar tentang teknologi graph, distributed computing dan database optimization yang digunakan untuk pembuatan sebuah search engine, semacam Google atau Yahoo. Belum ? Oke, coba buka link di bawah ini, sebuah web milik Professor Hirokawa :

Web Mining and Data Engineering Group

Seorang Sensei (Guru) di Jepang, yakni Professor Hirokawa (Hirokawa Sensei) sedang melakukan riset tentang The Next Generation of Search Engine. Ya, ia membuat sebuah simulasi penajaman algoritman mesin pencari, sehingga mesin pencari yang ia miliki dilengkapi dengan sistem kecerdasan buatan yang bisa menganalisa kata kunci yang dimasukkan oleh user dan menganalisa data dalam jumlah yang sangat besar. Analisa ini dimanfaatkan untuk menelusuri unsur historis dari kata kunci yang dimasukkan. Jika Anda memasukkan kata kunci “tulang”, maka yang akan dikeluarkan oleh Search Engine tidak hanya semua halaman web yang berhubungan dengan tulang, tapi juga halaman-halaman khusus yang mengklasifikasikan data-data historis yang berhubungan dengan “tulang”. Data-data ini akan semakin lengkap, jika semakin banyak orang yang memasukkan kata kunci “tulang” dan mencari hal-hal yang terkair dengannya. Luar biasa bukan ? Itulah teknologi Web Mining dan Data Engineering yang dikembangkan oleh Professor Hirokawa dan kawan-kawan di Kyushu University.

Tiba-tiba, ada sebersit rasa iri dalam hati. Kenapa kita tidak bisa bangga dengan universitas kita sendiri ? Saya melihat, ada sesuatu yang kurang di Indonesia. Ribuan alumni luar negri sudah banyak di Indonesia. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang menduduki jabatan penting di pemerintahan. Tapi, mengapa kita tidak bisa sekuat mereka dalam “budaya ilmiah” ? Kita, terus terang, lebih suka membeli dan terima jadi daripada harus bersusah payah untuk membuat. Jelas, karena dengan membeli ada pihak-pihak yang diuntungkan, menerima fee dari pembelian tadi. Tidak usah membantah dan mengelak. Sudah menjadi rahasia umum kalau pejabat kita adalah orang yang paling tidak menghargai riset dan lebih suka menjadi konsumen pasar global. Berapa banyak produk kita yang sudah dipatenkan di luar negri ? Coba buka artikel ini :

Memburu Paten di Bidang Elektronika

Jumlah Peneliti Iptek Minim, IPT Indonesia Terpuruk

Produk IDKM Terancam Dipatenkan Pengusaha Asing

Indonesia Ladang Subur Biopiracy

Sudah ? Oke, sekarang kita membahas bagaimana sistem pendidikan kita. Kita mulai saja dengan membandingkan unsur organisasi terkecil dari sebuah universitas : Laboratorium. Lab yang ideal seharusnya adalah lab yang produktif dengan penelitian dan dana hibah. Di luar negri, seorang petinggi lab (Professor atau Associate Professor) seolah menjadi “Dewa” yang sangat berkuasa. Bagaimana tidak ? Ia bisa saja langsung mengajukan project ke Kementerian Pendidikan di negaranya. Tidak harus melalui universitas. Ia juga sangat berkuasa menangani semua riset industri dan dana hibah perusahaan.

Supaya adil, jabatan professor sangat bisa jadi berpindah kepada orang lain yang lebih produktif darinya. Artinya, dalam jangka waktu tertentu seorang professor akan diuji kelayakannya dengan berbagai hasil penelitian dan jurnal yang dihasilkan. Rutin dan jelas tolok ukurnya. Tidak seperti di negeri kita. Lab tidak pernah terurus, tidak memiliki struktur, dan jabatan Professor bisa dibawa sampai mati. Padahal bisa jadi ia tidak produktif untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Apa hasilnya ? Penelitian kita tidak pernah punya arah yang pasti. Hanya jadi wacana saja. Bahkan banyak sekali sarjana ilmu pasti (S1) mengambil ilmu yang bertolak belakang dengan keahliannya di tingkat Master (S2), hanya untuk kepentingan jabatan dan bisnis.

Budaya ilmiah kita memang masih kurang. Kita masih suka melakukan hal-hal percuma yang tidak pernah membawa derajat dan kehormatan bangsa ini menjadi lebih baik, setidaknya di hadapan rakyat mereka sendiri. Yah, hanya sebuah keluhan saja. Repot memang, jadi negara dunia ketiga. Hanya menjadi objek kepentingan bisnis negara industri dan kapitalis. Tapi setidaknya, meskipun miskin, harusnya kita bangga dengan apa yang kita miliki. Ironisnya, saat ini kita makan aja susah, apalagi koq disuruh bangga.

Apa yang mau kita banggakan ? Moral, agama, ilmu atau mungkin yang paling logis adalah korupsinya? Ya, kitalah negara pertama yang paling pandai mengimplementasikan Korupsi sebagai budaya dan soko guru perekonomian negara.

SELAMAT !

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

4 Comments

  • Herianto says:

    Kritik yg bagus bung…
    Saya ingin menambahi bahwa kbanyakan para ahli kita jagonya cuma sampe tataran ide doang, jarang yg sampe tataran aplikatif. Lihatlah bagimana para bos2 intelektual kita kbanyakan jadi komentator, pengulas dan jarang yg sudi masuk ke ranah real dari permasalahannya. Mereka bangga dengan sebutan konseptor doang, sementara pekerjaan nyata mereka anggap cuma masalah teknis yg remeh.
    Di Malaysia saja saya dengar, apa pun idenya, harus jelas nilai aplikatifnya (manfaat di dunia nyatanya) kemana ?

    Salam kenal… :)

  • loommy says:

    apalagi masih ngurusin korupsi yo sri…? :D

  • @Herianto
    Wah, mas. Kalo sudah sampai tataran riil sulit di Indonesia, soalnya butuh duit alias doku dan masalah doku biasanya lumayan sulit di INdon, palagi kalo dah nyangkut sama pemerintah….bisa mati gaya penelitinya. Ya, lumayan to mas. Baru bisa jadi wacana-ers …

    @loommy
    iyo lah. Mangan wae angel, opo meneh kon riset. Dipakani opo anak bojone ? Kqkqkq…..

  • Jim says:

    kebutuhan dasarnya dipenuhi dulu, pangan-sandang-papan plus pendidikan. jadi bapak-bapak dan ibu-ibu yg pinter di indonesia ini bisa tenang melakukan riset. lha wong perusahaan yg cari untung di indonesia ini rata-rata isinya juwalan thok. wegah riset. ngentekno duwit. gak jelas ono sing tuku.

Leave a Reply