Tips Milih Beasiswa

Scholarship Fair

Hari ini dan besok, UGM menyelenggarakan event scholarship fair sebagai sebuah cara untuk memberdayakan alumni yang berminat untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Barusan saya dari sana dan melihat banyak sahabat-sahabat alumni yang berjubel ingin melihat lebih jauh peluang beasiswa yang bisa mereka raih. Bicara tentang beasiswa, meskipun saya bukan pakar, saya ada beberapa tips melihat kualitas sebuah yayasan / penyedia beasiswa yang akan saya share di sini, sekalian dengan beberapa tips off the record yang semoga bisa jadi tambahan teman-teman yang sedang getol cari info beasiswa. Oke, langsung saja yha :

1. Lihat lebih dulu di web mereka. Saat kita ditawari beasiswa, hal pertama yang harus kita lihat, selain Major / bidang studi yang sedang kita tekuni, adalah : requirement dan MoU beasiswa tersebut. Studi di luar negeri memang terlihat menyenangkan, dengan catatan kalau uang kita cukup untuk hidup di sana. Maka dari itu, tawaran beasiswa harus benar-benar kita pertimbangkan juga :


– jumlah beasiswa > biaya kuliah plus biaya hidup (baca : beasiswa sebaiknya lebih besar dari biaya kuliah dan biaya hidup di sana). Kalau memang Anda ingin konsen ke studi, sebaiknya Anda melihat poin ini, daripada Anda terganggu studinya gara-gara harus nambah-nambah biaya hidup dengan kerja. Tapi buat Anda yang easy going, poin ini tidak jadi masalah besar.


– MoU antara applicant dan yayasan beasiswa, selain biaya. Adakah ikatan-ikatan lain ? Misalnya ikatan kerja (untuk “mengembalikan” dana beasiswa yang kita dapatkan) atau perjanjian lainnya. Hati-hati dan baca benar MoU nya. Daripada sengsara di negeri orang, lebih baik sedikit bersabar.


2. Cari testimoni dan cerita dari teman dekat mereka atau orang Indonesia yang sudah menerima beasiswa ini. Hubungi mereka via email, lihat komentar mereka, dan minta saran dari mereka bila kita berminat untuk mengajukan beasiswa yang sama.


3. Lihat native language dari negara penyedia beasiswa. Ini penting, karena terkait dengan syarat TOEFL / IELTS yang mereka minta. Untuk negara-negara dengan native language berbahasa Inggris, seperti AS, Kanada, Australia dan sebagian negara Eropa, biasanya mereka mensyaratkan TOEFL yang tinggi (di atas 550, beberapa bahkan 600) dan harus TOEFL Internasional (diambil di Jakarta atau Bandung). Model tes TOEFL ini mensyaratkan Anda untuk menyediakan biaya setidaknya 200 US Dollar.


Tes IELTS bisa juga diambil, sekitar 175 US dollar. Untuk negara dengan native language non-Inggris, seperti Jepang, Negara ASEAN, Korea, China, India, dll. mereka tidak mensyaratkan TOEFL Internasional. Skor 500 sudah layak untuk prasyarat. Tapi lebih tinggi dari itu, tentu lebih baik.


4. Jika memang Anda sudah berniat untuk apply ke negara dengan native language bukan Inggris, usahakan Anda mengambil kursus bahasa sesuai dengan calon negara yang akan Anda tuju. Meskipun belum tentu diterima, tapi pada saat wawancara pasti akan ditanya : “Apakah Anda bisa berbicara dengan bahasa ….. (sesuai dengan bahasa asli negara itu) ?”Jika Anda berani menjawab “Ya” dalam bahasa asli mereka dan menunjukkan bukti sertifikat kalau Anda sudah belajar bahasa mereka, kemungkinan untuk diterima menjadi lebih besar.


5. Setelah mining information (gali data) sebanyak-banyaknya, baru kemudian tentukan benar minat riset Anda. Bagaimana relevansi riset Anda dengan beasiswa yang sedang Anda pilih ? Jika oke dan menarik hati (unik, belum pernah ada sebelumnya, atau menjanjikan sesuatu yang bermanfaat untuk Indonesia dan universitas tempat Anda belajar kelak) biasanya yayasan tersebut akan memberikan preferensi yang lebih kepada Anda.


6. Cari kontak / advisor / proffesor terlebih dahulu di negara yang akan Anda tuju. Meskipun bukan syarat utama, cara ini menjadi sangat bermanfaat bila Anda memang orang yang serius cari beasiswa. Tunjukkan kepada yayasan beasiswa Anda, bahwa Anda sudah memiliki :

– proffesor / advisor di universitas yang akan Anda tuju. Biasanya dengan menunjukkan LA (Letter of Acceptance) yang berisi pernyataan resmi kalau Anda sudah diterima riset di lab mereka.

– rencana riset / penelitian yang matang. Buat proposal riset yang baik, dan cantumkan referensi jurnal dari proffesor / advisor yang sudah menerima Anda. Sebisa mungkin, tunjukkan kalau Anda adalah orang yang SERIUS dan MENGETAHUI apa yang akan Anda lakukan di negara tempat Anda belajar kelak.Bila saya menjadi penyedia beasiswa, maka saya akan berpikir, “Nah, ini ada yang sudah diterima di sebuah universitas dan sudah memiliki rencana riset dan advisor yang jelas pula. Buat apa saya nyari yang lain, yang belum jelas. Lebih baik dialokasikan dananya untuk orang ini”

7. Kalau memang Anda adalah seseorang yang bekerja di sebuah institusi tertentu, cantumkan rekomendasi yang layak dan jelas dari atasan Anda. Tunjukkan bahwa Anda adalah orang yang berkompeten untuk menerima beasiswa tersebut. Tunjukkan pula bahwa Anda adalah orang yang bisa dipercaya, dengan cara menunjukkan surat rekomendasi dari atasan Anda.

8. Lihat juga efek samping (sosial politik) jika Anda mengambil beasiswa tersebut. Jika Anda adalah orang yang tidak memiliki idealisme sama sekali, tentang negara, tentang agama, tentang bagaimana sebuah paham / pemikiran disusupkan melalui beasiswa, maka poin ini bisa Anda lewati.
Tapi jika Anda adalah orang yang memiliki komitmen terhadap negara, memiliki idealisme untuk tetap independent dan tidak terdikte oleh kepentingan asing, memiliki idealisme untuk tetap berpegang teguh terhadap “isme” yang Anda yakini, poin ini sangat penting. Untuk mereka yang berasal dari Jurusan Science, Engineering, MIPA, Pertanian, Perkebunan, dll, saya pikir tidak terlalu berpengaruh meskipun kita tetap harus “aware” pula.

Bagi teman-teman ilmu sosial dan ilmu politik, mungkin harus sedikit lebih “aware” pada MoU ini. Salah satu akibat langsung yang sangat berat untuk dihindari adalah : bisa jadi Anda diminta untuk menandatangani sebuah MoU strategis yang melancarkan proyek-proyek investasi yayasan pemberi beasiswa Anda di Indonesia. MoU ini tentu mengikat, jika nantinya Anda menjadi decision maker yang strategis untuk negara Indonesia.

9. Berdoa dan berharap bahwa Anda sudah berusaha maksimal. Jika Anda memiliki banyak peluang beasiswa, ajukan saja semuanya. Anggap saja, kita sedang berusaha untuk menjemput rejeki. Rejeki mana yang lebih dulu sampai dan cocok dengan apa yang Anda kehendaki, boleh Anda ambil dan bawa pulang.

Semoga sukses, Ganbatte ne ….. (ayo semangat) !

Terima kasih juga untuk :

1. Kang Abdi Pratama, warga Mantrijeron Jogja, yang lagi di Osaka University, Japan. Matur nuwun yo kang, atas petunjuk dan petuahnya. Siip banget, aseli ! Pangestunipun lan donganipun. Mugi-mugi saged nyusul njenengan, menawi wonten kesempatan.

2. Mas M. Andri Setiawan, yang lagi di Nanyang Technological University, Singapore. Jazakallah bos, atas waktu dan ngobrol-ngobrolnya. Donganipun kemawon. Matur nuwun atas saran-saran dan infonya juga. Boleh juga tuh, NTU. Lagi FIGHT nih.

3. Pak Eka Firmansyah, yang lagi di Kyushu University, Japan. Tengkyu, ya Pak. Wah, kalo masalah “cewek-cewek cantik” belum masuk kriteria alasan milih universitas, pak :)

4. Pak Bimo Sunarfrihantono, yang lagi di Cork University, Ireland. Tengkyu bos, atas arahan dan bimbingannya. Kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan mohon dimaafkan ya. Sukses buat Doctoral Degree- nya aja.

5. Bu Indriana Hidayah, Bu Sri Suning Kusumawardani, dan Pak Lukito Edi Nugroho, pembimbing dan “orang tua” saya yang kedua. Matur sembah nuwun atas silaturrahim, arahan, saran dan bimbingannya. Sangat berguna dan membantu saya juga untuk memiliki “sense of scholarship preference” (halah !).

6. Fikri Waskito, Nicholas Mario, kawan-kawan Nightlogin Teknik Elektro, ijinkan aku menyerap energi semangat kalian, sebagaimana dilakukan Peter Petrelli. Ciaatt….

7. Pak Dani Adhipta dan Pak Teguh Bharata Adji, yang sedang ngambil Doctoral Degree di Universiti Teknologi Petronas, Malaysia. Matur nuwun banget pak, atas informasi dan peluang belajar yang sudah di-share. Terima kasih dan mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan di hati.

Be Sociable, Share!
Categories: Scholarship

4 Comments

Leave a Reply