Thailand At A Glance (1)

 

Wuah, akhirnya bisa mendarat dengan selamat di Land of Independent, Thailand. Alhamdulillah, bisa ngeblog juga setelah beberapa hari akses internet dibatasi. Ya, untuk bisa akses internet kami perlu berjalan sekitar 1 km ke kampus karena jarak antara kampus dan asrama kami cukup jauh.

Pertama kali tiba di bandara Svarnabhumi (baca : Swarnabhum), cukup membuat tercengang. Selain landasan yang cukup lebar, nggak seperti Adi Sucipto yang pendek dan bikin si pilot ngerem tajem, bandara ini juga cukup besar dibandingkan dengan Soekarno-Hatta. Nuansa internasional langsung terasa tatkala pesawat mendarat. Beberapa maskapai international juga terlihat di sana, seperti Turkish Airways, Israel Airways (sepertinya Thailand punya hubungan diplomatik dengan negeri pecinta kekerasan ini), dan Garuda Indonesia tentunya. Saya sendiri menggunakan Thai Airways Boeing 777 yang dengan arsitektur interior cukup menarik. Maklum, pesawat ini tergolong baru untuk kelas Boeing.

Di dalam pesawat, penumpang disuguhi dengan hiburan video dan audio dari kursi duduk penumpang di depannya. Fasilitas seperti ini sudah lazim untuk armada internasional. Ya, perjalanan internasional bisa memakan waktu berjam-jam dan transit di beberapa negara lebih dari satu kali. Salah satu cara untuk menghilangkan kebosanan dalam perjalanan adalah menyediakan hiburan pengganti. Alat elektronik seperti MP3 Player atau Handphone dilarang dihidupkan saat flight. Oleh karena itu, hiburan pengganti ini cukup krusial. Saya sendiri menonton film Warlord (bintangnya Andy Lau dan Jet Lee) dan beberapa kartun lucu untuk killing the time. Nggak papalah, daripada nggak ngapa-ngapain, hehehe…..

Turun dari bandara, kami menyusuri lorong-lorong yang cukup panjang dengan lantai beroda otomatis, mirip dengan eskalator yang dipasang horizontal. Jelas sangat membantu kami yang sudah kepayahan menggotong tas ransel yang kami letakkan di kabin pesawat.

Saya dan rekan mulai mencari letak loket imigrasi dan baggage claim. Dua loket inilah yang selalu menunggu orang asing yang akan masuk di sebuah negara. Biasanya, sebelum mengambil barang bawaan di bagaasi, penumpang harus melaporkan kedatangannya di loket imigrasi. Di loket ini, kami harus menunjukkan seluruh data perjalanan kami, mulai dari passport, visa, boarding pass, dan kartu keterangan arrival dari imigrasi yang sudah dibagikan saat kami menaiki pesawat Thai Airways. Setelah data itu ditunjukkan ke petugas, passport dan visa akan diberi cap legalisasi yang memberikan informasi batas berlakunya visa kami.

Imigrasi beres, kami mulai mencari koper-koper besar kami. Gunakan troli yang beres! Ya, itu saran saya. Beberapa troli cukup bermasalah. Roda-rodanya seret, nggak bisa didorong maju dan sebagainya. Ini jadi kelemahan pertama bandara ini, sejak kami turun di Svarnabhumi.

Oya, sebagai pengingat, sebaiknya tas Anda sejak awal diberi pengenal yang cukup mencolok. Saya sendiri memberi name tag di tas saya sekaligus foto. Maklum, banyak tas yang mirip sih. Apalagi kalo Anda menggunakan merek-merek pasaran, Polo misalnya. Setelah beres dengan barang bawaan, Saya mulai mencari-cari petugas Seed-Net yang menjemput kami di meeting point yang sudah ditentukan. Mereka membawa papan nama dan mencari kami.

Lima belas menit diperlukan, setelah akhirnya saya menemukan Pak Cuk Supriyadi (seorang pegawai BPPT yang kuliah universitas yang sama) serta Pak Risanuri Hidayat (ini dosen saya, dulu pernah ngajar juga sebelum berangkat ke Bangkok), Mr. Noek (siswa asal Laos, doctoral degree di universitas yang sama) dan tentunya Ms. Arunee (petugas Seed-Net yang mengurusi kebutuhan international student). “Sawasdee krap”, saya mengucap salam ala Thailand. Asal keluar aja, nggak tahu artinya, hehehe. “Sawasdee kha, are you Sunu? My name is Phu”, jawab Ms. Arunee. Kata-kata “Sawasdee” ini mungkin lebih mirip salam karena nggak ada bedanya jika diucapkan pagi, siang, sore atau malam. Moga-moga aja bukan doa, repot kan kalo doa.

Lega rasanya. Kami sudah bertemu dengan saudara-saudara kami dari Indonesia. Perjalanan dilanjutkan ke kondominium (asrama mahasiswa). Jalan dari bandara ke tempat tujuan mulus-mulus aja, nggak ada jalan berlubang di Thailand, apalagi galian kabel telepon. Di kota ini, pertama kalinya, saya melihat jalan layang tingkat empat. Luar biasa, kota sekecil Ladkrabang ini kalo di Indonesia ibarat Klaten. Saya belum melihat Bangkok. Saya yakin akan lebih metropolitan dan crowded dari kota kecil ini. Alhamdulillah, saya tinggal di kota yang lebih tenang, hehehe. Kalau nggak mungkin penginnya shopping melulu kali.

Huff…istirahat dulu yah. Masih banyak cerita-cerita menarik ini, mulai dari televisi Thai yang nggak bisa dipahami bahasanya (tobat lah, pokoke. Ngertine cuman Sawasdee krap), bahasa “Thainglish” dari para pembimbing kami, makanan Thai yang serba pedes dan asem, sampai cerita-cerita lucu karena “cross culture understanding”. Belum lagi perbedaan mencolok suasana universitas di Thailand dan di Indonesia.

See You in my next article…

 

Be Sociable, Share!

8 Comments

  • yan9n says:

    akhirnya ngenet juga… sakno banget rek ngenet mesti jalan 1 kilo dulu ke kampus… hehe… saya dulu juga begitu, makanya di kampus lebih suka pulang malem, ngendon lama di lab demi ngenet dan berchatting dengan istri hehe

    nyampe di thailand, tas ndak digeledah ta? saya dulu pas pertama nyampe di jepang, setelah melewati petugas imigrasi, difoto, diminta sidik jari, koper besar saya dibuka-buka… sambil ditanya2in ngapain ke jepang dan sebagainya… urusakatta!!!

  • yusuf says:

    dah nyampai thailand tho?? aku kok ora dipamiti pas arep mangkat? mudah2an lancar kuliahe & slalu dilindungi Allah SWT. Amin

  • syaamil says:

    Wah sebentar lagi pasti ada liputan wisata kuliner nih…pokoke
    mak NYUS!!

  • @yan9n
    hehehe ngga diperiksa tuh, alhamdulillah. besok kalo pulang bawa bahan makanan seabrek kalo gitu

    @yusuf
    iyo e. sori banget mas, la jarang ketemu ….

    @syaamil
    hmm……yang jelas sulit cari makanan halal. di thailand justru daging babi paling murah harganya

  • lambrtz says:

    “Belum lagi perbedaan mencolok suasana universitas di Thailand dan di Indonesia.”

    Ditunggu artikelnya tentang ini.
    (aku seneng hal2 bab pendidikan soale :D)

  • yan9n says:

    sama nu… di sini danging babi murah meriah… apalagi klo pas sale… muuuuurah banget…
    daging halal malah mahal… 1 kilo bisa 600yen untuk ayam, padahal dengan harga segitu bisa dapet 2 kilo babi kali ya :D

  • syaamil says:

    Na…kan. Ini peluang akhi. Belajar sambil berdagang. Own’s Kafe Website buka cabang di thailand, special masakan (halal)Yogya

  • Litani Buat Yang Sudah Merantau ke Luar Negeri…

    Akhir-akhir ini lagi sebel…
    Lihat Rian majang fotonya pas dia berdiri di deket Menara Petronas jadi gambar YM…Lihat Irfan majang fotonya pas dia berdiri di deket Merlion jadi gambar YM (asli apa editan?)… Lihat Bima majang fotonya …

Leave a Reply