Homesick

Seperti janji saya yang lalu, saya akan sedikit berbagi tentang pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar saya yang pernah mengalami homesick, atau kangen rumah. Ya, setiap pelajar internasional pasti pernah mengalami hal ini. Dari yang paling ringan sampe yang tingkat tinggi, semua pasti pernah mengalami. Saya pun demikian. Berikut ini ceritanya :

Homesick saya alami di minggu pertama dan kedua setelah sampai di Thailand. Saat itu, karena kasus pemindahan pembimbing sekaligus pemindahan kampus, saya mengalami stress yang luar biasa. Rasanya saat itu saya tidak bisa berpikir apapun dengan jernih, sampai-sampai rekan sekamar saya mengatakan saya sedikit linglung saat itu. Ya, saya sering melakukan hal-hal aneh dan konyol, sepertinya pikiran dan tindakan tidak match. Puncaknya adalah saya sakit di minggu kedua. Sakitanya sebenarnya sederhana saja, masuk angin. Penyakit yang biasa bisa jadi luar biasa jika kita berpikiran negatif. Sebagaimana layaknya orang yang homesick dan sakit, pikirannya jadi nggak karuan dan terus merasa khawatir. Hal yang paling mengganggu saya adalah : saya selalu merasa sedang tidur di kamar saya di Jogja, padahal saya sakit di Thailand. Ini luar biasa mengganggu dan membuat saya cukup tertekan. Alhamdulillah saya bisa mengatasi hal tersebut seiring meredanya sakit saya. Terus terang, memang saat inilah pertama kalinya saya keluar rumah dan menghadapi “dunia nyata” yang cukup keras dan menuntut spirit perjuangan tinggi. Bagaimana tidak, Anda bisa stress jika tidak terbiasa jalan kaki ke kampus pulang balik 2-3 KM. Tapi Anda harus terbiasa dengan itu. Anda juga tidak bisa menggunakan sepeda motor seenaknya, karena Anda adalah pelajar yang memulai hidup dari nol di negeri orang lain. Anda juga harus berjuang menemukan makanan halal di tengah kesulitan bahasa negeri lain. Anda harus pandai-pandai menghemat biaya hidup di negeri orang. Anda harus mengatasi semua pelajaran kampus yang semuanya serba baru dan kita tidak paham sama sekali. Anda harus memiliki seorang advisor akademik yang menyerahkan semua urusan akademik kepada Anda sendiri dan dia tidak membantu sedikitpun kecuali hanya tanda tangan approval. Itu semua saya dapat di awal-awal kuliah di Thailand. Berat bukan main, apalagi waktu kuliah terbatas 2 tahun. Tapi sebagian dari permasalahan tersebut mulai menemukan jalan keluarnya, atas bantuan dari Allah SWT tentunya. Saya sangat percaya dengan “Laa Yukalifullahu Nafsan Illa Wus’aha” (Allah SWT tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya) dalam Q.S. Al Baqoroh ayat terakhir dan “Intansurullaha yanshurkum wa yutsabit aqdaamakum” (jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu) dalam Q.S. Muhammad : 7. Dua pegangan inilah yang selalu saya jadikan pegangan saat saya menghadapi masalah di negeri ini. Saya yakin, saya tidak sendiri dan saya akan menemukan jalan keluar, even…saya harus mati-matian dan mandi keringat di negeri orang …..

Nah, beberapa aktivitas lain ternyata bisa mengurangi homesick. Ini saya tengarai setelah saya bergabung di lab baru dan memutuskan untuk mengambil seorang co-advisor yang lebih rajin dari advisor akademik saya yang super cuek itu. Beberapa hal di bawah ini, rasanya manjur mengobat homesick saya : 

1. Mengurangi telepon ke Indonesia. Ya, saya justru mengurangi telepon dengan keluarga dengan tujuan tidak terlalu memikirkan urusan rumah saat saya sedang merantau. Ibu saya sampai heran karena saya mulai jarang menghubungi Indonesia di minggu ketiga sampai sekarang. Saya katakan pada keluarga, biaya komunikasi mahal dan saya lebih prefer menggunakan email untuk mengirim foto dan informasi.

2. Mencari teman dan aktivitas baru. Kebetulan rekan-rekan lab saya sedikit banyak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Hobi mereka juga menarik : badminton dan nge-game. Jadilah klop dengan saya yang juga suka dengan kegiatan outdoor. Bahkan mereka sampai ingin mengajak saya untuk hiking (naik gunung) segala….wuhh. 

3. Memperbanyak ibadah, untuk memotivasi hati dan memunculkan optimisme. Ini penting, selain dari pemenuhan kebutuhan fisik, seperti olahraga.

4. Menemukan hal-hal baru yang positif. Kebetulan saya suka travelling dan berpetualang. Jadilah hampir tiap minggu saya pergi ke Bangkok untuk mencoba hal-hal baru, dari mulai nyoba nonton bioskop dengan terjemahan bahasa Thai (pas sebelum nonton kita harus berdiri dulu, karena bioskop memutar biografi raja Thailand) sampai mencoba jalan-jalan di skywalk di tengah kota. Saya juga pergi ke Islamic center di Ramkhamhaeng dan membeli beberapa peralatan elektronik di mall IT. Ya, itu semua cukup membantu mengatasi kangen Indonesia. Oya, ada yang belum saya coba, pergi ke tempat-tempat wisata…

5. Terlibat dengan kegiatan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di Thailand, organisasinya adalah Permitha (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand), serta kegiatan keislaman di Thailand. Untuk yang terakhir ini, saya mewajibkannya untuk diri saya sendiri, tapi bagi mereka yang tidak terlalu suka dengan hal ini, bisa mencoba ikut pengajian. Saya sudah merasakan sendiri manfaat dari silaturrahim…

7. Belajar memasak. Ya, saya terus terang buta sama sekali tentang memasak. Tapi sejak saya di Thailand, saya semakin mahir meracik bumbu-bumbu dan sayur menjadi beberapa variasi masakan. Ini cukup menyenangkan bagi saya, tentu saja karena memasak adalah hal yang baru. Mencoba mencari resep di internet juga menjadi salah satu aktivitas sekunder saya.

8. Membaca buku-buku luar negeri yang berlimpah di Thailand. Ya, saya sampai sekarang masih ngiler karena menjumpai buku-buku terkenal terbitan O’Reilly, SAMS, Prentice Hall, dan lain-lain di Thailand. Buku-buku ini memang sedikit mahal, tapi bukan tidak mungkin dengan sedikit “trik” kita bisa mendapatkan yang murah. Ya, cari saja buku edisi India (bukan Eropa) yang harganya bisa 2 atau 3 kali lebih murah dari harga aslinya. Di Indonesia, mana mungkin buku-buku luar negeri ini dijual bebas…

9. Nge-Game Online. Ya, game kecil-kecilan saja. Mobwars, misalnya. Kalau Anda tertarik dan punya account Facebook, Anda bisa join di Mob Wars saya…

10. Nonton film di YouTube. Dagelan Mr. Bean sampai Empat Mata ada semua di sini. Cukup menghibur. Bahkan Kick Andy juga diupload di situs video streaming dengan bandwidth terbesar pertama di dunia ini. Oya, saya sering juga mendengarkan radio streaming. Hampir setiap pagi dan ini cukup menghibur juga. 

Oke….ini dulu cerita dari saya. Keep in touch, semoga bermanfaat untuk rekan-rekan yang mau belajar ke luar negeri….

 

 

Be Sociable, Share!

6 Comments

  • lambrtz says:

    > Kalau Anda tertarik dan punya account Facebook,
    > Anda bisa join di Mob Wars saya

    Halah..ujung2nya nyari downlink buat MLM :p
    hwehehe :D

  • yan9n says:

    yah, baru brapa bulan kok udah homesick se???
    だいたいタイの生活を慣れるよう。。。
    心配しないで

  • si ghuraba says:

    cari istri akhwat thailand… hehe… pasti smakin betah…!!! hehehe…

    btw jadi inget ketika sempet jadi anak rantau juga, ya kurang lebih begitulah cara mengatasi homesick, parah lagi kalo pake ngalamin cultural shock, saya dulu sampe 1 tahun ngatasinnya… hffh…alhamdulillah cuma satu tahun… hmm…

  • @si ghuraba
    wah,…enggak deh, makasih. Di Thailand, mirip dengan Sulawesi, seorang pria saat mau ngelamar seorang gadis harus menyerahkan upeti jutaan baht, sesuai dengan tingkat pendidikan si gadis. Itu urusannya sama ortunya si gadis itu, Bahkan yang muslim pun kebiasaannya masih seperti itu. Pernah ada orang Indonesia dapet orang Thailand, dia harus membayar 300 ribu Baht (itu sudah ditawar dan nego loh). Kalo 1 Baht = 300 rupiah, silahkan dihitung sendiri biaya yang dihabiskan untuk meminang anak Thai. Belom biaya pesta perkawinannya…..

    Akhwat Indonesia masih lebih baik…apalagi yang mudah mas kawinnya… (semoga ada dan nggak aneh-aneh mintanya, hehe)

  • husni says:

    Assalamu’alaikum
    wah menarik sekali ceritanya. Kebetulan saya lagi mencari info kul di thailand tp susah nyarinya ya, he..
    Mungkin Mas/pak bisa bantu?
    Oia di sana kul di univ mana?
    Mungkin saya bisa dapat info lebih banyak dari mas. Ditunggu di alfarabihusni@yahoo.com jawabannya
    wassalam

  • Assalamu’alaikum… mas aku mau tanya, mas kuliah di thailand univesitas apa ?? Insya ALlah tahun ini saya berangkat ke thailand untuk kuliah di RMUTR ( Rajamanggala University of Technology Rattanakosin ), mas aku mau tanya, kira2 kebutuhan sehari2 normalnya abis berapa yah selama sebulan ??
    yang kedua kira2 pembuatan paspor dan penerbangan tahun ini bisa abiz berapa yah ?? coz saya hanya menyiapkan 2 jt untk itu semua,… terimakasih.. saya haraP MAS MEMBalas apa yang saya sampaikan… Syukran….

Leave a Reply