Belajar dan Bekerja

Sore itu, selepas dari belanja di pasar tradisional Ladkrabang, saya dan rekan bergegas pulang untuk mengambil sepeda di tempat parkir. Belanja, sebuah aktivitas yang kini saya nikmati sebagai salah satu bentuk rekreasi yang menyenangkan setelah seharian berkutat dengan paper, komputer, program dan buku manual. Menyenangkan atau tidak menyenangkan ternyata sangat dipengaruhi oleh asumsi kita terhadap suatu hal.

Sekali lagi, sore itu saya mendapat sebuah pelajaran berharga saat mata saya tiba-tiba tertumpu pada seorang rekan lab, Miss Tim, senior saya di kampus, yang duduk di pinggir trotoar sambil menjajakan dagangannya. Setahu saya, dia adalah mahasiswa master dengan tema riset yang cukup berat, berkutat dengan sinar X-Ray. Namun kali ini saya menjumpainya dalam kondisi yang berbeda, sebuah kondisi dimana seseorang tidak akan pernah menduga kalau ia seorang mahasiswa master di kampus teknologi yang cukup terkenal di Thailand.

“Hi, how are you? You sell all of them?” sapa saya sambil menunjuk barang-barang dagangannya. “Yes, you can buy from me”, jawabnya sambil menunjuk beberapa cinderamata dan pernak-pernik yang ia jual. “Did you go to our lab this morning?” tanya saya sekedar basa-basi. “No, I didn’t go”, jawab dia sambil tetap menjajakan dagangannya di trotoar depan pasar. 

“Okay. I will go back to kondo (*apartemen). See you later. Good luck”, timpal saya sambil berlalu menuju tempat parkir sepeda di sebelah pasar. Dia pun tersenyum dan mengangguk saja, tapi mulutnya tetap menjajakan dagangannya. 

Aah, kembali saya teringat suasana kota Jogja. Kami dahulu adalah bagian dari kehidupan yang hampir serupa dengan Miss Tim. Bedanya kami bekerja dengan menjajakan kemampuan programming kami, dari kantor ke kantor, dari restoran ke restoran, dengan berbekal proposal dan portofolio. Saya kembali teringat saat-saat saya harus presentasi di hadapan calon klien saya. Saya juga teringat saat harus bermalam-malam menunggu klien, supaya bisa deal dengan project yang kami sepakati. Itu saya lakukan saat saya masih kuliah, tapi tidak dengan menggelar barang dagangan di pinggir trotoar. Saya tahu betul bagaimana susahnya seorang mahasiswa mencari tambahan penghasilan. Sudah berkali-kali kami bekerja dengan kompensasi yang kurang memuaskan, tapi dari sana pula kami mendapat banyak kenalan dan pengalaman. 

Tiba-tiba saya merasa kehidupan saya saat ini jauh lebih beruntung dibandingkan rekan saya yang satu ini. Entah kenapa, dalam perjalanan pulang saya tak henti-henti berpikir dan bersyukur karena kondisi saya masih lebih baik dari rekan satu lab saya. Saya benar-benar tak menduga jika pekerjaan berat semacam ini menjadi salah satu pilihan aktivitas hariannya, disamping belajar dan riset tentunya. Dan yang membuat saya berbesar hati, jika ia yang harus bekerja saja sanggup melakukan riset sembari kuliah, bagaimana dengan saya yang sudah dijamin hidupnya dari dana beasiswa ? Tugas saya dibanding rekan saya itu jauh lebih ringan. Cukup hanya “belajar” saja, tidak perlu bekerja sambilan. Belajar dan lulus tepat waktu. Itulah target saya. Standar saja, tidak perl2u muluk-muluk. Saya pikir, kapasitas otak orang Indonesia dan Thailand tak jauh berbeda. Dengan kondisi yang jauh lebih baik, saya harus bisa menyelesaikan kuliah-kuliah berat saat ini dan memenuhi target dari penyandang beasiswa. 

Sebelum pulang dari pasar, saya kembali menengok pinggir trotoar depan pasar. Miss Tim masih duduk terpekur, memandangi orang-orang yang berlalu lalang di depan barang dagangannya. Ia sepertinya sudah mulai lelah menjajakan dagangannya. “Saya masih lebih baik kondisinya, insya Allah pasti bisa menyelesaikan kuliah dan riset dengan baik”, saya berkata di dalam hati. Motivasi saya kembali pulih. Kadang, hanya dari peristiwa sepele seperti inilah kita bisa menemukan hal-hal kecil yang akan mengubah hidup kita ke depan. Saya masih meyakini bahwa semangat kerja masih memegang peran utama untuk mencapai kesuksesan. Cara Yang Kuasa untuk menunjukkan jalan hidup kita tidak bisa kita duga, termasuk melalui lingkungan sekitar kita.

 

Ladkrabang, 24 Juli 2008

Traditional Market and TOPS Dept. Store

Be Sociable, Share!
Categories: Adventure

5 Comments

Leave a Reply