Sebelas Alasan Mengapa Paper Tertolak

Paper atau karya tulis yang dikirim untuk diperiksa dan dimasukkan dalam sebuah prosiding atau jurnal bisa tertolak karena beberapa alasan, yang sebagian besar masih bisa dihindari. Beberapa hal yang harus dicatat adalah alasan diterimanya sebuah paper bukanlah kebalikan dari alasan ditolaknya sebuah paper. Alasan utama diterimanya sebuah paper adalah : kontribusi dan relevansi dengan bidang studi dan media publikasi tersebut, kesempurnaan dalam penulisan ilmiah, dan kualitas pembelajaran atau materi dari paper tersebut.

Banyak jurnal berharap kepada reviewer untuk menilai bobot ilmiah dan validitas dari paper yang dikirim. Namun demikian, reviewer bisa menjadi sangat sensitif terhadap paper yang mengandung banyak kesalahan yang sulit untuk dihilangkan tanpa proses editing yang berhati-hati. Penulisan ilmiah menuntut kualitas ilmu yang ditulis dan cara penulisan ilmiah yang sempurna. Di bawah ini dalah beberapa alasan mengapa sebuah paper tertolak. Beberapa alasan ini sangat penting karena reviewer biasanya akan terfokus pada isu yang berbeda, tergantung pada keminatan mereka dan persyaratan jurnal tersebut.

  1. Kurangnya hasil investigasi atau hasil eksperimen. Kurangnya sampel/contoh penelitian, tidak jelasnya sampel penelitian, konsep yang kurang unik, dan kesalahan ilmiah biasanya menjadi alasan utama sebuah paper tertolak.
  2. Gagal memenuhi persyaratan jurnal. Hal ini adalah sebuah kesalahan yang biasa dilakukan oleh para peneliti. Fokus dari manuskrip di luar persyaratan yang ditentukan oleh jurnal dan guideline (aturan penulisan) jurnal tidak terpenuhi.
  3. Kurangnya penguasaan tata bahasa Inggris, sintaks dan kosakata. Penguasaan bahasa Inggris akan memberikan kesan lebih kepada reviewer dan editor terhadap keseluruhan karya tulis. Beberapa bukti telah menunjukkan bahwa karya tulis dengan penggunaan bahasa Inggris yang baik akan memiliki peluang diterima lebih besar.
  4. Kurangnya pernyataan masalah (problem statement). Sangat penting untuk merumuskan masalah dan membatasi rumusan masalah.
  5. Metode tidak dideskripsikan secara detail. Kurang informasi tentang peralatan yang digunakan dan prosedur riset yang dilakukan. Pada beberapa kasus, akan lebih baik untuk memberikan banyak informasi pada prosedur yang digunakan. Informasi yang dianggap kurang penting bisa dihilangkan.
  6. Berlebihan dalam mengintepretasikan hasil penelitian. Beberapa reviewer telah menunjukkan bahwa intepretasi dan hasil penelitian yang jujur akan meningkatkan peluang diterimanya karya tulis.
  7. Mengintepretasikan hasil dengan metode statistik yang tidak tepat atau tidak lengkap.
  8. Penyajian data dan tabel yang membingungkan reviewer. Hasil penelitian seyogyanya disajikan dalam bentuk yang jelas, baik berupa grafik maupun tabel. Kemudahan dalam intepretasi hasil penelitian adalah salah satu faktor penelitian bagus dan tidaknya sebuah karya tulis.
  9. Kesimpulan tidak didukung oleh data. Pastikan bahwa kesimpulan yang kita tulis tidak berlebihan dan didukung oleh data hasil penelitian. Selain itu, kesimpulan sebaiknya menjawab pertanyaan dari rumusan masalah. Pastikan juga untuk menyampaikan alternatif penjelasan dan hindari pengulangan kata dari hasil penelitian.
  10. Kurang lengkap dan akuratnya daftar pustaka. Pastikan untuk mencari literatur lengkap dan relevan dengan riset yang sedang dilakukan. Reviewer jurnal adalah orang yang sangat ahli di bidangnya dan akan menaruh perhatian besar pada detail karya tulis yang ia periksa.
  11. Penulis tidak melakukan koreksi sesuai dengan saran reviewer. Hal ini bisa dihindari dengan mudah. Minta saran kepada reviewer secara langsung akan membantu kita menghasilkan karya tulis yang lebih baik.

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam karya tulis ilmiah. Beberapa artikel menarik lain dapat diperoleh di website : http://www.sfedit.net/newsletters.htm

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

5 Comments

  • senou says:

    saya tidak berani ‘sok pintar’ untuk nulis hasil survey dr harvard univ yang ada di selatan gunung kidul ttg bahwa orang2 dg prestasi sepertiga di atas itu biasanya kalo gak jadi peneliti..ilmuwan..dosen..pe..pe..sepertiga yang di tengah jd menejer?..lha sepertigawang yang …..
    seharusnya buku anak2 SD itu tidak diazhari nulis “ibu budi pergi ke pasar membeli sayur’ tapi ‘ke pasar menjual sayur ato apalah’
    jadi ya pepere ditolak ato ndak ya nothing to lose..wong penulisnya jd penjual bukan pembeli..unconditional surrender, tawakkal ??
    win-win lah,

  • senou says:

    jadi ya posisi tawar dosennya harus ‘disetarakan’..dlm pengertian relatif tentunya..kalo dosennya tetep ngeyel ya dikirimi duren monthong..ss-17..ato papernya kasihkan dosen yang ada di uzbekistan atau kazakhsetan saja mas…af1 ini spontan nulise,

  • shofwan says:

    ikut ngepung svarnabhumi? take care bro…

  • Yayan says:

    oooh
    jadi begitu toh…
    hehehe baru tau…
    maklum belum pernah submit ke jurnal…
    lha penelitian aja belum pernah… hopefully segera bisa riset dan publish…

  • ario says:

    Kalo ga salah.. kata pembimbing saya, sebelum kita submit tuk thesis atau jurnal, biasanya bisa minta bantu ke pusat pelatihan bahasa tuk mengoreksi kan?
    bener ga?

Leave a Reply