Tips Memilih Seminar untuk Mempresentasikan Hasil Penelitian

*Sebenarnya ini adalah hasil curhat sesama anggota lab, antara rekan-rekan PhD dan Master. Beberapa dari saran dan pendapat mereka ternyata sangat bermanfaat untuk didokumentasikan. Oleh sebab itulah, saya mencoba menceritakannya kembali di artikel ini. Selamat menikmati.

Conference dan Proceeding. Ya, satu kata ini seolah menjadi momok untuk mahasiswa Master dan PhD. Untuk PhD, mereka juga harus submit jurnal internasional. Namun mahasiswa Master di beberapa universitas tertentu pun diwajibkan untuk mengirimkan hasil penelitiannya pada level jurnal. Apa beda conference proceeding (CP) dan international journal (IJ)? Berikut ini beberapa perbedaannya :

1. CP biasanya memiliki tenggat waktu (important dates) yang jelas. Announcement diterima atau ditolak juga lebih pasti. IJ berbeda dengan CP. IJ biasanya tidak memasang tenggat waktu pengumuman, sehingga rentang waktu batas pengiriman dan pengumuman memakan waktu cukup lama. Beberapa seri IJ terkenal bahkan memakan waktu revisi sampai dengan 1 tahun.

2. Waktu revisi yang panjang pada IJ biasanya terkait dengan keseriusan para reviewer memeriksa hasil penelitian kita. Sementara itu CP lebih longgar dalam menetapkan kriteria-kriteria paper.

3. Biaya. Masalah ini juga kadang menjadi pengganjal kelulusan. Beberapa IJ biasanya berbayar dan cukup mahal. Jurnal semacam Elsevier atau Springer bisa mematok biaya antara 10-17 juta rupiah untuk satu buah jurnal yang dimuat (tergantung dari jumlah halaman yang dimuat juga). Ada juga beberapa jurnal yang tidak memungut biaya sepeser pun dari penulis. Tergantung level masing-masing jurnal. Sedangkan CP sangat tergantung dari wilayah penyelenggaraan, level dari CP (kualitas), dan panitia penyelenggara CP itu sendiri.

4. Tema. CP tidak menuntut tema riset yang baru. IJ lebih ‘serius’. Tema biasanya dituntut baru, original dan memberikan kontribusi yang signifikan untuk bidang riset yang ditekuni. Oleh sebab itulah, meraih titel PhD tidaklah semudah membuat artikel praktis di majalah komputer. Butuh sebuah perjuangan yang panjang dan mental karet. Masalah tema ini menjadi perbedaan utama. Sebuah paper untuk jurnal yang tidak sesuai dengan tema jurnal itu biasanya langsung ditolak. Sementara CP, biasanya lebih luas temanya meskipun beberapa conference memiliki tema khusus.

Oke, kita lanjut ke tips-tips memilih conference. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memilih conference :

1. Tujuan kita mengirimkan paper. Apabila ini adalah paper pertama kita, maka menabung untuk syarat keluusan menjadi hal yang mutlak dilakukan. Untuk urusan yang satu ini, saran saya pilihlah conference yang memiliki level menengah (tidak terlalu sulit) dan biaya terjangkau.Namun, bila Anda memang benar-benar ingin belajar dari sebuah conference, tidak ada salahnya mengukur dan menakar kualitas conference yang menjadi target Anda. Bagaimana kita mengukur kualitas sebuah conference? Perhatikan ciri-ciri dibawah ini:

a. Conference yang berkualitas biasanya bukan conference YANG PERTAMA. Artinya, bila conference yang Anda ikuti adalah conference yang pertama kali diselenggarakan oleh institusi tertentu, bisa jadi kualitasnya tidak terlalu baik. Pilih conference yang sudah cukup lama berlangsung. Tapi hal ini menjadi tidak berlaku apabila institusi penyelenggara conference adalah institusi yang sudah lama dikenal para peneliti.

b. Perhatikan, apakah ada logo IEEE (untuk electrical engineering) atau institusi lain yang cukup bonafid di bidangnya? Pada bidang engineering, conference yang menyertakan paper proceedingnya di IEEE Xplore (http://www.ieee.org), bisa dipastikan memiliki level menengah ke atas alias memiliki reject rate (tingkat penolakan) yang cukup tinggi. Sebuah conference yang menyertakan papernya di IEEE Xplore biasanya memiliki reject rate lebih 30% (mudahnya, 3 paper dari 10 paper ditolak). Ada juga conference level dunia yang tidak berafiliasi pada IEEE, namun memiliki “pamor” yang tak kalah wah. Untuk yang satu ini, kita harus jeli memilih asosiasi penyelenggara conference itu. Asosiasi seperti IFBME (International Federation of Biomedical Engineering) misalnya, tidak terkait dengan IEEE, namun conferencenya diakui sebagai conference dunia yang cukup bermutu.

c. Baca Call For Paper (CFP). Apabila bidang yang diminta adalah spesifik (hanya satu bidang, misal: Circuit and System, Control Engineering, Power Electronics, Computer Vision) maka bisa dipastikan reject rate conference tersebut cukup tinggi. Dengan kata lain, semakin spesifik tema paper yang diterima, semakin bagus conference tersebut. Untuk yang satu ini, saya sudah pernah merasakannya. It’s hard, believe me…

d. Baca komite penyeleksi paper. Jika Anda mengirimkan paper untuk national conference, Anda bisa mengira-ira seberapa “populer” tokoh yang menjadi komite di conference tersebut. Semakin populer anggota komite, bisa dipastikan kualitas conference tersebut juga tinggi. Untuk international conference, Anda bisa mendiskusikan dengan pembimbing Anda atau rekan Anda yang memiliki pengalaman internasional.

2. Paper (oral presentation) atau poster. Dua hal ini sering menjadi opsi dalam sebuah conference. Saran saya, jika Anda pertama kali mengikuti sebuah conference dunia dan levelnya cukup tinggi, kemudian paper Anda diterima dan memungkinkan ada pilihan untuk ditampilkan sebagai poster, maka pilihlah POSTER. Tapi bila Anda ingin mengukur adrenaline Anda dan tidak malu “dibantai” profesor dari seluruh dunia, maka pilihlah PAPER. Bukan apa-apa, dua pilihan ini memiliki plus dan minus. Tapi jika memang Anda jagoan berdebat dalam bahasa Inggris, lebih baik Anda menampilkannya dalam oral presentation.

3. Biaya. Saya tidak malu menyebut di sini. Beberapa universitas negeri di Indonesia berkoar-koar dengan slogan “Research University”, tapi langganan paper dari IEEE saja tidak mampu. Lebih baik tanpa slogan tapi produktif, sebagaimana kebijakan pendidikan Thailand. Saran saya, lihat kocek Anda juga sebelum submit paper. Jika memang Anda memiliki cukup dana untuk membayar hal-hal di bawah ini, maka Anda bisa submit international conference sekarang juga :

a. Registration Fee. Semakin tinggi level conference, semakin mahal biayanya. Khusus untuk conference di negara Eropa, biaya biasanya cukup menguras kantong karena kurs Euro yang cukup tinggi.

b. Accomodation Fee. Memangnya mau nginep di bandara? Tak usah yee…., minimal bayar biaya penginapan selama 2 hari. Silahkan dihitung sendiri dengan kalkulator Anda.

c. Biaya transportasi. Mau renang ke Jepang? Atau jalan kaki ke Jerman? Silahkan dihitung pulah….

d. Biaya visa, passport, fiskal, dan tetek bengek lainnya terkait dengan keimigrasian dan ijin pergi. Silahkan diitung sendiri sampai sedetil-detilnya. Jangan lupa, di Indonesia masih banyak pungli lho.

e. Biaya makan, minum dan having fun. Masak dateng cuman duduk dan dengerin orang ngomong? Ngapain? Mending tidur di rumah, bangun sehat wal ‘afiat. Conference adalah “hadiah” untuk researcher, itu kata seorang teman. Tanpa vacation, conference is nothing. Jangan lupa biaya untuk oleh-oleh keluarga juga diitung. Jangan sampai ngutang temen cuman buat beli oleh-oleh. Bukannya nggak boleh, MALU aja….

4. Improving our writing skill. Ini adalah tips dari pembimbing saya. Untuk meng-improve writing skill, pilih sebuah conference yang cukup tinggi levelnya dan mustahil bagi kita untuk diterima, alias 80% di-reject. Lho kok?! Tenang brur, ini adalah sebuah trik untuk mendapatkan komentar dari reviewer terkenal secara cuma-cuma. Conference level dunia biasanya memasang target tinggi plus reviewer terkenal. Mereka juga nggak main-main memberi komentar dan saran bahkan untuk sebuah paper yang ditolak. Nah, komentar inilah yang kita inginkan untuk perbaikan di masa mendatang. Tapi jika Anda memiliki sebuah luck yang tinggi dan paper Anda diterima, maka bersiaplah untuk menguras ATM Anda seludes-ludesnya, hehehe….

Duh, capek nih cerita terus. Kamu enak cuman baca doang dan manggut-manggut ! Ayo dong kasih komentar, aku dah share nih…hehehe. Just kidding, bro. Silahkan share pendapat rekan-rekan.

Semoga Berkenan

Bangkok, 8 Januari 2009
Habis Sholat Maghrib dan Lembur kerjaan riset

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

18 Comments

  • Ery Wijaya says:

    Tambahan Pak De:
    Klo Jurnal bobot analisa papernya lebih mendalam dari pada sekedar paper conference, makanya mengutip saran Prof saya, sebaiknya ajang Conference itu digunakan untuk menguji “partial” analisa2 paper kita yg akan disubmit ke Jurnal. Biasanya begitu tradisi di lab saya :D

    Kyknya perlu di kasih info juga neh pembobotan antara National Conference, International Conference, National Jurnal dan Internasional Jurnal (sekedar contoh pembobotan di Ladkrabang gpp :P)

  • ario says:

    Syukron akh…
    Alhamdulillah dapat bekal lagi kalo mau S2.. *ngayal mode on*

    Kayaknya jauh banget sama national confrence.. (pengalaman sekali ikut) hihihihihihi

  • umam noer says:

    masih ada yang kurang, berdasarkan pengalaman, acara konferensi ato simposium di indo yang ngakunya ‘international’, tapi ko hasilnya ga ada ya, amat sangat jarang hasil simposium yang dipublikasikan, minimal dalam negeri sendiri, boro2 publikasi ke luar, akibatnya ya mudah ditebak, masa paper konferensi asal aja dibuat, kualitasnya ga baik. soale saya juga pernah jadi panitia konferensi, tapi ya itu, peminatnya ga banyak, akibatnya hampir semua abstrak yang masuk diterima, lha terus piye? kayaknya agak berlebihan aja menuntut yang terlalu banyak dari penyelenggaraan konferensi di indonesia…………..

  • Alhamdulillah …
    Saya sangat senang rekan-rekan blogger memberikan tanggapan terhadap artikel ini.Di tengah murungnya dunia penelitian di Indonesia, masih ada blogger yang peduli dengan karya ilmiah anak bangsa. Rekan-rekan sekalian, sebuah seminar ilmiah tentu kita lihat berdasarkan tujuan awal dibuatnya seminar tersebut. Hampir sebagian besar yang pernah saya ikuti memiliki tujuan utama berbagi pengalaman riset. Beberapa tujuan lainnya, menyediakan sarana yang pas untuk mahasiswa master dan doktoral untuk mempresentasikan hasil riset mereka, sebelum mereka menuliskannya ke publikasi jurnal, yang tentu lebih ketat syaratnya dibandingkan dengan paper conference.

    Pada awalnya, seminar-seminar di Thailand pun memasang banner “international” hanya untuk mendapatkan pengakuan atau akreditasi. Akreditasi dibangun berdasarkan citra, sebagaimana kita membangun sebuah merk dagang.Conference ECTI, misalnya, dibangun sejak 6 tahun yang lalu dan saat ini sudah mendapatkan pengakuan dari IEEE International, bukan hanya Thailand Section.

    Seminar internasional memiliki manfaat lebih untuk para penulis paper, selain namanya dikenal secara internasional, seminar ini bisa menjadi ajang publikasi diri. Hasil risetnya, belum tentu diterapkan secara langsung di lapangan apabila tidak ditindaklanjuti.

    Seminar nasional, lebih memberi titik tekan pada manfaat hasil penelitian. Bayangkan, bukankah lebih mudah membaca karya ilmiah dalam bahasa sendiri kemudian diterapkan hasilnya, daripada harus mencerna dalam bahasa Inggris terlebih dahulu? Seminar nasional, harusnya memberi manfaat yang lebih untuk pembangunan nasional, meskipun dari sisi publikasi tidak bisa semegah seminar yang bertaraf internasional.

    So, kembali kepada tujuan awal diadakannya conference. Bagi saya, justru seminar nasional lebih penting. Sebab riset adalah jawaban dari permasalahan yang ada. Jika hasil riset bisa mengatasi permasalahan bangsa, mengapa tidak?

  • Mudya says:

    Setuju dengan brother Sunu,selain seminar nasional penting juga memudahkan kita mengaplikasikannya di tanah air karena equipmentnya dijamin available….

  • umam noer says:

    lho, bukan begitu, memang benar bahwa seminar pada gilirannya dapat memicu sekaligus memacu setiap orang yang terlibat didalamnya untuk meningkatkan kapabilitas akademisnya, tapi kenyataan di lapangan beda lho. saya udah pernah ikut konferensi internasional di negara tetangga, tapi yang terjadi bukan transfer pengetahuan, tapi ko malah kayak jadi ajang ‘pembantaian’, sang pembicara malah jadi ‘kayak pesakitan’, saya sendiri beberapa kali ko malah merasa dihakimi karna tulisan saya dalam konferensi atau simposium yang, celakanya ngaku ‘internasional’. bagaimana bisa ada mempublikasikan diri jika sebagian ‘mental pengkritik’ (maaf saya pake istilah ini) masih ada dalam sebagian besar kita, hal ini yang saya rasa menghambat terjadinya transfer pengetahuan berupa riset atau lainnya. saya juga sadar, seminar memang tergantung pada tujuan awalnya, tapi ya itu, (tidak hanya) di Indonesia, banyak seminar yang hasilnya ‘NOL’ karna transfer pengetahuan yang terjadi sebatas pada peserta (itu pun lebih banyak menjadi ajang saling kritik), beberapa malah jadi ajang reuni teman lama (nah ini juga celakanya, yang dateng orangnya itu2 aja), ko malah ruwet ya?

  • @umar noer
    Lalu poin yang sebenarnya ingin Anda sampaikan itu apa? Kalau Anda ingin menegaskan bahwa conference/seminar itu tidak perlu..ya, mohon maaf sudah tidak ada hubungannya lagi dengan artikel ini. Artikel di atas ditujukan buat mereka yang masih minat dengan riset dan publikasi melalui jurnal/conference :)

    Masalah jadi ajang pembantaian di seminar internasional, sepertinya itu pengalaman yang sangat subjektif sekali. Saya pun pernah jadi panitia seminar internasional (dan bukan di Indonesia) dari yang level angkut-angkut (betul-betul “lapangan”) sampai jadi kontributor pun pernah. Sejauh yang saya tahu, seminar level dunia semacam yang diselenggarakan oleh IFAC (International Federation of Automatic Control) yang tiga tahunan itu memang cukup berat, apalagi jika hasil risetnya kurang meyakinkan. Maka, coba Anda perhatikan poin/tips no.2 di atas. Pembantaian memang tak jarang terjadi, apalagi jika memang hasil riset kurang meyakinkan. Tapi bila yang terjadi adalah kritik yang tak berdasar, tentu kita dengan mudah bisa membalikkan pertanyaan mereka, sesuai dengan kemampuan kita “bersilat lidah” tentunya.

    Maka, jangan takut dikritik. Ada tips cerdas dari rekan saya yang menjawab demikian,”Jika memang Anda sangat berminat dengan riset ini, diskusi lebih jauh bisa kita lanjutkan setelah sesi presentasi. Bisa juga dengan menghubungi di nomer HP atau email saya.” Sangat mudah mengetahui keinginan audience, apakah ia benar-benar tertarik atau hanya ingin menjatuhkan saja.
    Tips yang lain, jika memang kita benar-benar tidak tahu, katakan dengan jujur dan letakkan di bagian future work. Justru kita bisa membalikkan keadaan dengan cara meminta saran orang yang menanyai kita. Jika memang ia benar-benar expert, ia akan dengan tulus memberi tahu (biasanya). Tapi jika ia hanya ingin menjatuhkan Anda, sepertinya ia tak rela jika lawannya menjadi lebih baik di seminar mendatang. Sekali lagi, tinggal bagaimana kepandaian kita untuk benar-benar meyakinkan audience dan sedikit “bersilat lidah” :)

    Untuk seminar yang jadi ajang reuni, lho mengapa tidak? Justru jika kita pandai memanfaatkan peluang, dari seminar bisa beranjak ke proyek ilmiah / riset komersial. Jika Anda mengamati, beberapa seminar memang sengaja dibuat demikian, apalagi jika diselenggarakan oleh sebuah institusi/komite yang sama. Tujuan mereka tentunya :
    1. Bertemu kembali untuk membicarakan proyek bersama/penelitian yang ada. Apalagi jika proyek mereka didanai oleh institusi yang sama, JICA misalnya (untuk level ASEAN dan Jepang).

    2. Memantau perkembangan anak-anak didik mereka dan mencari calon anak didik baru (untuk mahasiswa master yang berminat lanjut ke jenjang doktoral).

    3. Apesnya ya…hanya sekedar kangen-kangenan dan merencanakan piknik bareng selepas seminar :)

    Oya, sekedar tambahan. Jika memang Anda benar-benar ingin menjajal kemampuan Anda dan merasa yakin bahwa hasil riset Anda benar-benar baru, kenapa tidak Anda submit ke seminar level dunia (tentu saya asumsikan Anda mampu secara biaya dan segala persyaratan lainnya). Anda benar-benar akan merasa puas di sana, karena Anda bisa melihat betapa ilmu itu tidak sebatas apa yang kita tahu. Bahkan prosiding seminar itu pun masih layak dibaca sampai 2-3 tahun ke depan. Untuk seminar-seminar yang, mohon maaf, hanya untuk memenuhi kum (nilai naik pangkat/jabatan) dan mengugurkan kewajiban lulus kuliah, saya tidak berani menjamin kualitasnya. Semua tergantung dari hasil riset dan kemampuan Anda sendiri.

    It’s just a matter how we take the advantages instead of several disappointment

  • Disra Agifral says:

    saya masih undergradute student. saya mulai punya publikasi paper waktu semester 5. sampai sekarang sudah ada 3 paper (level nasional) dan 1 paper(level internasional). kepala jurusan saya memang menyuruh mahasiswa jurusan teknik elektro untuk publikasi paper, setidaknya 1 paper level nasional dan 1 paper level internasional. alhamdulillah banyak manfaat yang saya dapatkan, seperti memperluas relasi, saling berbagi ilmu pengetahuan, dan memperkuat mental saat dibantai tentunya :D..
    tapi, ada yang saya ingin tanyakan,
    (1) apakah ada nilai plus atau pertimbangan pada saat lamaran kerja dan saat di dunia kerja bila sudah memiliki publikasi paper?
    (2) seberapa besar pengaruh publikasi paper yang kita miliki untuk apply beasiswa master (coursework ataupun research) dari jenjang s1?

  • @Disra Agifal :
    Publikasi / paper sangat berguna jika kamu daftar beasiswa untuk lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, jika kamu bekerja di lembaga R&D, juga sangat membantu..

  • info yang bermanfaat mas Sunu. siip! terus menulis!

    di kita memang masih perlu banyak belajar dari luar. contoh mudahnya adalah seminar nasional yang kita selenggarakan kemarin. Dari sisi peserta bagus, 37 insitusi dengan 250 lebih peserta. Salah satu yang perlu dievaluasi adalah MP hanya terisi 50%. Itupun ada yang dalam bentul MP (alias malah, ditempel-tempel) jadi poster. Memperlihatkan ketidaksiapannya… apa ada aturan dan panduan khusus menyelenggarakan seperti itu? kayaknya masih sering terlalu toleran panitianya. Meskipun begitu, sudah banyak hal yang kita dapetkan. Manfaatnya kita rasa banyak kemarin. diantaranya ya itu, mengurai benang kusut kebijakan dan transfer teknologi, peluang kerja sama, masukan2 hasil penelitian dan informasik uptodate kebijakan nasional yang akan diterapkan.

  • eh, nulisnya kurang lengkap…maksudnya itu (MP-Makalah Poster) makalah biasa ditempel2 jadi poster, 8 halaman bentuk HVS… bukan poster betulan, i lembar. jadi penuh tuh dinding sama uraian paragraf 8 halaman… miskin foto lagi!

  • Aziz Perdana says:

    kalo itsim tu gimana reputasinya?

  • pelajar says:

    mantap mas, konten dan komennya keduanya bermanfaat

  • ninik sudarwati says:

    salam persaudaraan,
    Saya sudah membuat artikel internasional bidang pendidikan, mohon informasi jasa konsultasi edit artikel internasional dan mohon diberikan saran jurnal internasioanl yang masuk scopus dan impact factor yang tidak terlalu rumit dan mudah diterima. mohon inforamsinya.
    salam dariku
    ninik sudarwati. jombang

  • adi setiadi says:

    Informasi yang sangat bermanfaat terima kasih.

  • Aco Nasir says:

    Luar biasa,,, sangat bermanfaat ilmunya .
    terimakasih banyak atas sharing ilmunya…

  • Isep ali sandi says:

    Sepertinya…. Menarik, oh iya pak… Konsentrasi keilmuan bapak di teknik ya? Saya mau minta saran biar nisa lolos paper seminar nasional,,,, soalnya di reject terus…. Klo yang internasional dan di kelola asosiasi biasanya lolos…. Mksh pak

  • niken says:

    trims tulisannya. inspiratif

Leave a Reply