Jangan Bangga dengan Peringkat

PERINGKAT UGM TINGKAT DUNIA

PERINGKAT UGM TINGKAT ASIA

“Kita sekarang menduduki rangking ke-sekian dari seluruh dunia……”

Kata-kata diatas biasanya digunakan untuk menunjukkan sebuah keberhasilan yang dinilai dari peringkat, dalam hal ini peringkat seluruh dunia. Baru saja saya membaca sebuah berita keberhasilan UGM meraih peringkat 64 di Asia menurut situs webometrics. Dalam berita lainnya, disebutkan UGM berhasil meraih peringkat 623 dari univeristas yang ada di seluruh dunia. Saya sedikit tercenung dengan berita tersebut. Saat saya “search” kata kunci “King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang” dalam peringkat Asia, ternyata tidak terdaftar.

Apa yang saya alami sore ini menjadi otokritik untuk saya pribadi, maupun para sivitas akademika UGM. Ada baiknya kita tak buru-buru bangga dengan peringkat. Sesungguhnya pujian itu melenakan. Seseorang lebih terpacu apabila ia diberi kompetitor. Maka, siapakah kompetitor UGM saat ini? Masih ada 622 kompetitor di seluruh dunia. Maka tak layak untuk bangga pabila tak ada usaha untuk memperbaiki kualitas pendidikan. KMITL, kampus tempat saya saat ini belajar, sesungguhnya bukanlah kampus besar. Kampus ini tak sebesar UGM dari segi areal kampus. Pun, tak seramai UGM yang penuh sesak dengan PKL (pedagang kaki lima) dengan alasan merakyat. Suasana sangat sepi, namun riset benar-benar menjadi poros kampus ini. Bayangkan, di seluruh Thailand julukan kampus ini adalah “Pabrik Paper”. Artinya, mahasiswa di KMITL benar-benar dipressure untuk menghasilkan sesuatu. Engineering adalah make something, demikian kata rekan kami satu kos. Maka, untuk menunjang ambisinya yang fokus dan satu-satunya itu, KMITL menerapkan beberapa aturan yang cukup galak:

1. Dalam satu tahun sekali, tiap-tiap staf pengajar harus menghasilkan minimal 2 paper conference international. Tanpa ini, maka tunjangan tambahan akan dipotong.

2. Untuk asisten profesor dan profesor pun diterapkan aturan yang sama, bahkan lebih berat yakni 1 jurnal tiap dua tahun sekali. Artinya, mau tidak mau ia harus memiliki anak didik dan bimbingan, kecuali ia bisa bekerja sendiri untuk menghasilkan jurnal yang berkualitas.

3. Mahasiswa S1 di-drill dengan basic pelajaran yang kuat. Saya benar-benar merasa malu, karena para dosen menganggap para mahasiswa KMITL malas. Padahal sehari-hari yang saya lihat, tak sedikit ajang “tutorial” oleh kakak-kakak kelas dan senior digelar dari jam 8 sampai jam 12 malam. Beginikah yang dimaksud “malas”? Subhanallah ..

4. Untuk pengangkatan profesor, minimal ia harus sudah mengarang 2 buku ilmiah dan memenuhi beberapa poin dari jurnal dan karya tulis lainnya. Artinya, tiap-tiap dosen di KMITL hampir bisa dipastikan membuat buku atau minimal modul pelajaran untuk murid-muridnya. Pasti berguna, karena mahasiswa Thai lebih memilih buku dalam negeri daripada buku berbahasa Inggris. Kendala bahasa adalah jawabannya.

Dan masih banyak lagi yang lain, masih dalam observasi saya karena semua informasi berbahasa Thai. Cukup sulit dipelajari dan diterapkan, namun bukan tidak mungkin kita terapkan di UGM nantinya. Satu yang pasti, gaji staf akademik di Thailand cukup tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Minimal 3x gaji pokok dosen baru di UGM (sejauh yang saya amati).

Entah, karena KMITL adalah khusus engineering sehingga ia terkesan lebih kuat secara akademis dari UGM? Bisa jadi ya. Jika kita melakukan komparasi kampus teknik UGM saja dengan KMITL “head to head”, sepertinya masih lebih unggul KMITL.  Barangkali apabila UGM tak memiliki kampus di bidang sosial dan budaya, ia akan merosot jauh di belantara webometrics. Penyebabnya tak lain adalah prestasi yang diraih rekan-rekan di kampus sosbud UGM lebih cemerlang, sehingga mampu memberi kontribusi yang cukup tinggi untuk penilaian secara keseluruhan.

Maka, bangun dong! Jangan bangga dengan peringkat….

Mutu lebih utama daripada slogan.

Be Sociable, Share!
Categories: Iseng

9 Comments

  • na2nk says:

    Dunia rusak karena “akal”..untunglah UGM peringkat 632 diantara kampus2 tsbt…berarti sumbangsih kerusaknnya tidak terlalu besar hehehe

  • Juliach says:

    Aku mah sebodoh dengan sekolah maupun peringkatnya, yang penting aku bisa terjun di kancah international.

    Salam kenal.

  • @na2nk
    hehe, kesimpulan yang naif. Bukan akal yang merusak, tapi hati orang yang memiliki akal itulah. Tak ada peradaban yang dimulai, selain berpangkal dari akal manusia

    @Juliach
    Yup, benar sekali. Tapi liat-liat juga terjunnya, kalo bs ya terjun ke yang lebih bagus, jangan yang lebih buruk

  • na2nk says:

    Duh Naifnya saya :(

    Dahulu ada 2 empire berkuasa Romawi dan Persia
    yang menguasai dunia di waktu itu
    Bangsa Romawi dan Persia hanya mengasah akalnya semata-mata
    Maka Menjadilah mereka orang yang pandai menggunakan “Akal”
    dan terbangunlah peradaban yang tindas menindas

    Dahulu ada juga peradaban Arab
    Yang terbangun hanya dalam waktu 23 Tahun
    Jiwa dan Ruhnya dikuatkan
    Jiwa dan Akal ditajamkan secara serentak
    Hasilnnya Akal yg terpimpin
    Dalam waktu 30 tahun lahirlah empire
    peradaban yang penuh kasih sayang…selamat menyelamtkan
    Menggantikan peradaban Romawi dan Persia

    Di atas ketajaman jiwa itu
    mereka berfikir dan terus berfikir
    hasilnya sangat luar biasa
    iaitu akan melahirkan ilmu-ilmu
    Yang dalam dan seni yang menakjubkan dunia.
    Akal sendiri bagaimana tajam sekalipun tidak dapat membawa kebenaran.

    Ternyata peradaban yang aman itu peradaban yang berpangkal pada jiwa yg lembut, berkasih sayang..
    yang mampu memimpin akalnya..

    Hamba yg naif.

  • na2nk says:

    Dugh Sunu mohon maaf, saya ini ngomong apa tho ..

  • @na2nk
    Siip, thanks koreksinya. Hehe..la ngomong apa kok malah nanya ke saya?
    Peradaban Robbani pun tak menafikan peran akal manusia, meskipun dibalik itu semua tetaplah ada peran-peran besar dari Allah SWT. Kalo bicara yang terkait dengan artikel di atas ya…lain lagi konteksnya. Maka saya bilang di artikel, tak usah terlalu bangga dengan rangking. Menjadikan universitas lain sebagai kompetitor sekaligus model percontohan hanya satu jalan diantara berbagai jalan untuk menaikkan kehormatan UGM, wa bil khusus para sivitas akademika-nya yang mayoritas adalah umat Islam, termasuk saya dan panjenengan tentunya :) Kalau mau menilik kriteria yang lain, misalnya berapa jumlah kaum muslimin yang studi di UGM, mungkin UGM bisa jadi nomer satu sedunia, karena banyaknya umat Islam yang tholabul ‘ilmi di sana.

    Bicara tentang riset di artikel itu bukan berarti hanya mengutamakan akal saja. Saat bicara tentang paper ilmiah di conference, bukan berarti akal para pembuat paper itu tak terpimpin. Pabila membandingkan kemajuan ‘romawi jadid’ (baca: eropa, US, dan sebagainya) di bidang teknologi dan capaian yang diperoleh umat Islam saat ini, maka jawabnya: apa yang diperoleh di dunia (spt kekayaan, kemajuan teknologi, dst) adalah nikmat Allah SWT kepada semua manusia, sebagaimana oksigen yang kita hirup dan dihirup seluruh manusia. Barangsiapa yang berusaha dengan keras, sesuai sunatulloh-nya, ia akan mendapatkan apa yang ia usahakan. Tak peduli ia Jawa, Sumatra, Irian, beriman atau kafir sekalipun. Tapi kita punya Ar Rahim dari Allah SWT, yang tak dimiliki oleh ummat yang lain. “Man qoola la ilaha ilallah, dakholal jannah” — barang siapa yang mengikrarkan (dengan sebenar-benarnya) La Ilaha Ilallah, surga adalah bagiannya.

    Wallahu A’lam.

    NB:
    Anyway, by the way, busway, bahasamu kok mirip bahasa Melayu tho kang? Kebanyakan baca buku-buku berbahasa Melayu nih. Opo jangan-jangan entuk “datuk” yang cantik dari Malaysia?
    Hayo ngaku…..

  • na2nk says:

    Betul..bukan datuk.Abuya.tinggal sana :). Saya akhirnya memilih jalur tarekhat, namanya tarekhat Aurad Muhammadiyah..ternyata mbah saya juga begitu..nyambung deh :) http://ikhwantoday.com

  • ari says:

    subheqanalloh kata 2 kak sunu bgt mengingatkan dan penuh makna terus lah menulis sy akan menjadi pembaca yang setia kalau enggak keberattan /misal tentang wanita sholeha adalh idaman setiap pria cyeeeeeeeeeee pasti dong banyak yang suka orang yang sholeh /sholeha pastinya akan didambakan bnyk insan tetaplah jadi orang yang sll bermanfaat spy hidup kalian ber arti wolhohuallam

  • itsuki says:

    Duh, yg lulusan UGM saja bisa bicara seperti itu…
    Hmmm… selama ini saya banyak melihat dari sudut pandang yang di lihat orang lain pada umumnya. Saya, seringkali minder dengan civilitas saya… rasanya kok jauh dibanding teman-teman…
    Berarti yang terpenting adalah semangat untuk menjadi lebih baik ya…
    dari hari kemarin..
    dari ‘what people say’
    dari ‘what people think’
    semoga saja pemikiran ini tetap menancap dan tidak tergusur oleh rasa lain yang membuat jatuh pada jurang tak berdasar..
    ^_^

Leave a Reply