Pengalaman paper ditolak – sebuah evaluasi diri

Hwarakadah….

Itulah yang kuteriakkan di dalam hati saat mengetahui ada salah satu paperku yang direject di sebuah conference tahunan IEEE di Vietnam. Conference yang ditujukan untuk bidang elektronik dan komputer ini diselenggarakan di Da Nang University. Kebetulan tahun ini memang bertepatan dengan ultah organisasi IEEE yang ke-125 dan Region X (termasuk salah satunya negara-negara di Asia Tenggara) banyak menyelenggarakan conference pada tahun ini.

Ceritanya, setelah diperiksa oleh Juragan 1 dan Juragan 2, paper yang sudah kurevisi beberapa kali terlihat OK di hadapan mereka. Setelah sign-up account dan membaca beberapa peraturan submission, paper tersebut pun ter-upload di situs mereka. Selama 1 bulan lebih menunggu pengumuman, di bulan April akhirnya keluar juga keputusan itu. Reject!

Thus, memang beberapa conference menerapkan peraturan yang cukup ketat. Untuk conference yang satu ini, acceptance rate -nya hanya 46% , alias dari semua paper yang dikirimkan, hanya 46% yang diterima oleh panitia. Sebuah conference yang cukup ketat. Selain itu, beberapa koreksi pun muncul di paper yang  kukirimkan. Beberapa diantaranya sebagai berikut :

1. Introduction section: menurut mereka, paperku kali ini kurang kuat “gap” research-nya dengan riset yang sebelumnya. Sesi ini sangat penting, karena kita akan mempresentasikan penelitian yang memberikan kontribusi di bidang kita. Untuk itu, studi literatur yang kuat memang sangat dibutuhkan. Ok, good advice …

2. Method explanation: hmm…ada beberapa equation yang lepas dari perhatianku, sehingga beberapa variabelnya belum kujelaskan. Untuk conference paper dan tentu journal paper, masalah ini bisa dibilang agak fatal. Dan inilah yang membuat para reviewer keberatan memberikan acceptance atas paper yang kukirimkan.

3. Experimental result : selain tes akurasi, untuk experimen metode sebaiknya diberikan perbandingan hasil dengan metode yang lain. Ok deh, untuk yang satu ini aku mengakui memang perlu kerja keras lagi, selain mencoba metodeku sendiri, aku memang perlu mencoba metode lain untuk bisa menilai seberapa akurat hasil penelitian yang dilakukan

Huff…..just share ajah. Semoga kelak bisa lebih baik lagi…

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

7 Comments

  • ario says:

    Subhanallahu..

    TFS..
    semoga kedepannya bisa diterima…

  • fikri says:

    sunu.. semangat!!

  • Aziz Perdana says:

    Caranya tahu acceptance rate dari suatu conference tu giman sun

  • Halo mas Aziz, lama tak jumpa.
    Sebenarnya kita bisa tahu acceptance rate dari sebuah conference berasal dari situs resmi mereka.
    Beberapa conference mencantumkan kok, jumlah paper yang masuk dan jumlah paper yang diterima.
    Dari sana kita bisa tahu seberapa besar jumlah paper yang diterima.
    Semakin besar jangkauan conference, dan semakin jarang diadakan (misal 2 tahun sekali), maka acceptance rate-nya semakin rendah (alias semakin sulit ditembus).

  • dewi says:

    :):) maturnuwun mas Dab…. bisa untuk referensi penulisan paper selanjutnya…. :D:D hehehe

  • Aziz says:

    kalo di luar negeri, universitasnya ikut bayarin fee nya gak? ato bayar sendiri2?

  • @Azis
    Tergantung mas. Kalau double-degree, pasti ada MoU ya. Pasti ada cost sharing antara dua universitas. Tapi kalo full degree di salah satu universitas, mestinya ya univ. itu yang nanggung fee-nya. Syaratnya, afiliasi kita juga berubah ke univ. tersebut.

Leave a Reply