Fang Ru'…Dte Pood Nit Noy

Saya memiliki sebuah tekad sejak tahun lalu yang sampai hari ini belum tercapai : berpura-pura menjadi orang Thai saat diajak ngomong oleh sopir taksi. Hmm…maksudnya? Ya, sopir taksi termasuk orang yang pendengarannya cukup “peka” dibandingkan dengan para penjual di toko atau pasar. Mereka akan sangat mudah mengenali penumpangnya dari logat dan cara pengucapan dalam bahasa Thai. Dan untuk “pretend to be a Thai people” itu sangat sulit. Terus, mengapa saya ingin berpura-pura menjadi orang Thai? Yaa…ini masalah “personal aim” aja. Sekedar untuk kepuasan. Jika seseorang tidak mengenali kita sebagai “farang” (orang asing – dalam bahasa Thai), maka orang itu akan memperlakukan kita sebagaimana ia memperlakukan orang Thai. Tidak ada perlakuan khusus, seperti menaikkan harga atau berupaya menggunakan cara-cara lain yang “kurang baik” untuk mendapatkan bayaran lebih dari kita.

Akhir pekan ini, saya naik taksi sendirian, tidak ada teman Indonesia lainnya. Ini menjadi start yang bagus, karena sopir taksi tidak memiliki asumsi apapun tentang diri kita dan akan memperlakukan kita sebagaimana orang Thai. Awal perjalanan sudah OK, setidaknya karena saya berhasil mengucapkan nama tempat tujuan dengan cara pengucapan yang benar. Si sopir melajukan taksinya dengan kecepatan sedang dan mengeluh tentang pendapatannya yang tidak bisa banyak, apalagi jika hari hujan. “Cuman dapet 400 bath mas, nyopir dari jam 6 pagi sampai tengah malam. Apalagi kalau hujan kayak kemarin, wah orang yang naik taksi cuman dikit”, kata si sopir taksi. Ngobrol-ngobrol dilanjut dengan mengeluhkan kondisi hidup yang makin sulit. “Hidup harus gimana ya mas? Mosok duit nyupir taksi cuman bisa buat beli pepsi atau bir?” Saya pun hanya ketawa sambil senyam-senyum saja. Di dalam hati cuman bisa ngomong, “Dah tau hidup susah, kok duitnya masih dipakai minum bir. Bodoh banget orang ini”. Dia pun melanjutkan ceritanya, “Kemarin enak mas, ada dua orang dari Amerika sama Inggris. Pendapatan bisa gedhe kalo sama orang asing, tapi sayangnya mereka dah pulang”.

Saya berusaha keras untuk menghemat kata-kata dengan hanya mengucapkan “Chai” atau “Krap” jika ia meminta persetujuan dari saya. Sampai di sini, misi menjaga identitas diri masih bisa dilaksanakan. Saat ditanya cara menuju tempat tujuan pun, saya masih bisa menjelaskan dengan jelas. Setidaknya ia belum menyadari jika saya adalah seorang farang. Nah, masalah mulai muncul saat ia bertanya macam-macam dan mulai memancing saya dengan beberapa pertanyaan yang “cukup sulit untuk dijawab”. Vocab saya yang masih sangat terbatas ini membuat jawaban saya menjadi kedengaran “aneh”. Saya pun paham dengan hal itu, tapi si sopir hanya ketawa dan ngomong, “Wah….saya pikir orang Thai. Dari tadi aku ceritaa teruss….kamu hanya dengerin aja nggak ngomong apa-apa.  Kamu dari mana sih? Malaysia yah?”

Ah…sial. Terbongkar juga penyamarannya. Disangka dari negeri jiran pulak. Saya pun hanya ketawa dan ngomong, “Mai chai krap, jak Indonesia. Fang ru’…dte pood nit noy” (Bukan, dari Indonesia. Ndengerin paham, tapi ngomong cuman bisa dikit aja). Saya berusaha membela diri karena kecewa ikhtiar saya setelah 30 menit ini kandas dan terpaksa menyebutkan bahwa saya bukan orang Thai. Acara ngobrol-ngobrol pun dilanjut dengan bertanya seputar diri saya. Yah, pertanyaan standar-lah…sekolah di mana, sekolah master atau doktor, tinggal berapa tahun di Thailand, punya pacar atau nggak di Thailand, belajar bahasa Thai dari mana, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang persis seperti yang ada di buku kursus bahasa Thai untuk pemula. Dan 45 menit pun berlalu, saat saya mengakhiri perjalanan dengan mengucap “Jod ti pratu nii ko dai, Phi!” (berhenti di pintu ini juga bisa, Mas), sambil menunjuk pintu masuk asrama yang dijaga Pak Satpam berseragam biru tua.

Mission is not accomphlised, MasDab.
Phasa Thai yaak maak (Bahasa Thai emang sulit banget)……..

Be Sociable, Share!

Leave a Reply