Percaya diri itu perlu!

Hari ini, salah seorang rekan scholar Seed-Net yang berasal dari Kamboja menunaikan kewajibannya yang terakhir selaku seorang pelajar Master. Ya, ia harus melalui ujian akhir untuk thesis yang selama ini sudah ia kerjakan. Sebuah ujian yang barangkali cukup berat dilalui apabila secara mental tidak dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Berbeda dengan peraturan di tanah air, di Thailand ujian thesis untuk Master bisa dilaksanakan secara terbuka, dengan artian mahasiswa Master atau Doktoral bisa ikut menyaksikan secara langsung jalannya ujian tersebut. Saya sendiri, sampai saat ini sudah 2 kali menyaksikan ujian thesis Master. Satu diantaranya dalam bahasa Thai, dan tentu saya tidak begitu mendapatkan “hikmah” dari ujian itu. Namun hari ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga.

Ujian berlangsung hening. Ia mempresentasikan semua hasil penelitiannya yang telah menghasilkan lima buah paper. Sebuah prestasi yang cukup “outstanding” untuk seorang pelajar Master. Kami berdecak kagum karena ia mempresentasikan cukup banyak metode. Membuat semua hadirin yang terpana melongo, termasuk seorang pelajar doktoral yang ikut menyaksikan ujian tersebut. Presentasi berjalan satu jam penuh. Jam kedua, diskusi pun dimulai. Salah seorang dosen menanyakan, “What is your objective of your research?”

Rekan saya menjawab dengan lancar, “Improving accuracy of ……”. Ya. Ia bermaksud meningkatkan akurasi algoritma yang sebelumnya sudah ada. Pertanyaan kedua, simpel tapi sangat tajam. “What happened, if the center of centroid is outside the shape? Does your method work?”. Selama ini, rekan saya menggunakan berbagai macam metodeĀ  percobaan dengan HANYA MEMPERTIMBANGKAN SATU KONDISI saja. Rupanya, pertanyaan sederhana ini membuat ia kelimpungan. Berkeringatlah ia perlahan-lahan. Ia berusaha mempertahankan apa yang sudah ia kerjakan selama dua tahun ini. Ia jawab pertanyaan komite itu dengan setengah yakin, setelah ia merasa bingung untuk beberapa saat.

Rupanya, jawabannya tidak memuaskan dosen yang selama ini menjadi pembimbingnya. Dosen itu berkata, “I have told you, you must explain more about your method, because you proposed your method by yourself. Keep your proposal in a strong way. Be confident for your thesis!

GLEK. Saya menelan ludah. Apa yang selama ini sudah memukau kami selama 1 jam telah terbantahkan hanya dalam waktu 30 menit. Diskusi panjang itu berakhir dengan digantinya judul thesis dari rekan saya dan beberapa perbaikan yang harus ia lakukan. Banyak dan tidaknya revisi, mungkin hanya dia yang bisa mengukurnya. Memang bukan sesuatu yang menggembirakan, meskipun beberapa dari kami sudah berusaha menghiburnya saat ia melangkah gontai keluar ruangan. Tapi begitulah, setiap manusia pasti memiliki kenangan tersendiri dalam hidupnya.

Beberapa pelajaran berharga saya dapatkan hari ini. Luar biasa berharga, bagi mereka yang akan mempersiapkan diri menuju “pembantaian” berikutnya :

1. Obyektif / Tujuan penelitian harus disesuaikan dengan kemampuan kita “menyediakan bukti” bahwa penelitian kita memilki nilai tambah bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.

2. Jangan terlalu “sok tahu” menjawab pertanyaan, sebab para komite ujian adalah pakar yang berpengalaman dan mereka sebenarnya mengerti jawaban seharusnya dari pertanyaan yang mereka lontarkan. Menjawab “tidak tahu” lebih baik, jika memang kita tidak bisa menyediakan bukti-bukti yang cukup.

3. Berlatih dan berlatih. Cek dan ricek naskah tesis. Judul, obyektif dan fakta pendukung harus match.

4. Mencoba mencari advantage dari hasil penelitian bukan hal yang mudah. Terkadang kita terbentur dengan fakta bahwa “sudah banyak orang yang melakukan hal serupa”. Namun demikian, para komite bukanlah orang yang “bermain di lapangan”. Kita tentu lebih tahu dan lebih mengerti “selling point” dari thesis kita. Menunjukkan banyaknya metode / algoritma yang kita gunakan tidak selalu menjadikan obyektif dari tesis tercapai.

That’s the way how we should think. Adjust your thesis and your result in the way that you can say clearly, “It’s obviously works!”

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

3 Comments

  • tupic says:

    :D kebetulan saya baru masuk kuliah S2 di ITB, sudah banyak dosen yang berpesan : “Kuasai hal-hal yang mendasar dulu, selebihnya kadang hanya pengembangan / improvisasi kalian”.

    Dari beberapa kali saya presentasi tugas, kebanyakan kita terbawa untuk berbicara ngalor ngidul, bahkan sudah terlalu dalam tetapi ketika ditanya hal yang mendasar, justru kita malah kelimpungan.. :D

    Artikel yang bagus. Salam kenal..

  • Danny K says:

    Nice artikel pak,…saya senang berkunjung ke web pak sunu ini,..banyak ilmu dan faedah yg bisa saya ambil

Leave a Reply