Tolok ukur kelulusan pelajar doktoral : studi kasus di Thailand

“Studi di Thailand? Emang studi apaan di sini?”

Begitulah, MasDab. Saat saya cerita bahwa saya studi engineering di sini ke beberapa karyawan perusahaan Thailand yang masih berstatus WNI, mereka bertanya demikian. Mereka berhak dan patut merasa heran, sebab Thailand bukanlah negara yang “famous” untuk studi di bidang engineering. Saya pun maklum adanya. Namun demikian, kita tidak boleh memandang sebelah mata tentang pendidikan di Thailand. Belum tentu negeri kita mampu menyainginya. Maka, saya pun menjawab enteng pertanyaan di atas, “Ya studi engineering, lah. Tapi Thailand better dari Indonesia, kok”.

Sore ini, saya sempat berbincang dengan mahasiswa Ph.D asal Laos dan mahasiswa Ph.D asal Thailand. Mereka berdua memang rekan lab yang cukup dekat dengan saya. Kami berbincang cukup lama tentang aturan baru untuk mahasiswa doktor di Thailand. Aturan itu cukup berat (bagi saya), yakni untuk mencari gelar Ph.D di Thailand, mahasiswa program doktor diharuskan submit full journal paper minimal dua buah dalam waktu tiga tahun. Sebelumnya adalah satu journal paper dan 2 conference paper.

Apa bedanya journal dengan conference paper? Untuk conference paper, Sampeyan bisa melongok tulisan lama saya di sini dan di sini. Sampeyan merasa bahwa submit ke conference internasional cukup sulit? Hohoho….itu belum ada apa-apanya, MasDab. Journal paper lebih sulit 5 kali lipat dibandingkan conference paper. Journal paper mensyaratkan, setidaknya tiga hal ini :

1. Novel Idea : sebuah ide penelitian / topik baru yang belum pernah dibahas sebelumnya. Ide ini, tentu harus memiliki keunggulan yang signifikan apabila dibandingkan dengan ide sebelumnya. Istilah marketingnya : SELLING POINT harus jelas. Jika Sampeyan jeli, maka sebelum meneruskan Ph.D sampeyan harus sudah memiliki SELLING POINT itu di tangan Sampeyan. Alias, Sampeyan harus review banyak jurnal terlebih dulu, lalu menentukan : topik apakah yang belum pernah dibahas / sama sekali tidak pernah disinggung dalam bidang penelitian sampeyan. Itu bukan perkara mudah, MasDab. Saya sudah membuktikannya sendiri.

2. Strictly formatting paper : journal paper jelas lebih tegas bila dibandingkan dengan conference paper. Saringan pertama mereka untuk keputusan ACCEPT dan REJECT adalah format paper yang dikirim. Sekali Sampeyan salah format dan melanggar ketentuan pengiriman, jangan harap para reviewer itu membaca hasil penelitian Sampeyan. Sadis memang. Tapi begitulah peraturan. Jangan harap Sampeyan bisa nyogok reviewer jurnal sekelas Elsevier atau IEEE Transaction. Pendapatan mereka sebagai reviewer jauh lebih gedhe daripada gaji dosen di Indonesia sebulan. Percayalah.

3. Correct Scientific English : ini juga masalah besar, MasDab. Apalagi kalau seperti saya yang “grotal-gratul” berbahasa Inggris. Bisa-bisa beku otak ini kalau tidak dibantu oleh advisor / dosen pembimbing. Journal paper sangat ketat dalam masalah ini. Penggunaan grammar harus sesuai dengan cara native speaker menerapkannya. Istilahnya, kalau Sampeyan bukan orang yang lahir dengan bahasa ibu adalah bahasa Inggris, Sampeyan harus konsultasi kepada ahli bahasa di bidang engineering untuk mengoreksi naskah sampeyan. Dan ini memakan biaya cukup besar. Saya sendiri, pernah kena semprot seorang komite conference, gara-gara bahasa Inggris saya amburadul. Padahal naskah itu sudah dikoreksi berkali-kali oleh advisor saya (beliau S1 sampai S3 di Wisconsin University, USA).

Oke, kembali ke perbincangan seputar peluang Ph.D di Thailand. Peluang Ph.D ini sebenarnya cukup besar, mengingat Thailand adalah negara yang sedang berkompetisi dengan Singapura untuk masalah taraf pendidikan. Namun demikian, masalah bahasa mungkin menjadi kendala yang cukup serius bila Sampeyan tidak memiliki rekan Thai yang baik hati. Masalah iklim penelitian, tak jauh berbeda dengan iklim penelitian di Jepang karena rata-rata universitas di Thailand mengadopsi sistem Jepang. Di Universitas saya sendiri, seorang Ph.D di bidang Electrical Engineering harus melalui persyaratan berikut :

1. Lolos ujian Seminar I, II dan III (presentasi mini Thesis-Defend).

2. Lolos Qualifying Examination (QE) dengan mempresentasikan 5 topik penelitian yang berhubungan dengan topik disertasi.

3. Memiliki 2 buah journal internasional. Journal internasional yang masuk dalam kriteria kelulusan sudah ditentukan oleh conference list KMITL.

4. Lolos ujian Disertasi Doktoral.

Syarat-syarat di atas bukan tanpa alasan. Saat saya melakukan diskusi dengan rekan Ph.D asal Thailand, mereka mengatakan bahwa Thailand harus memiliki standard yang jelas saat memberikan gelar Ph.D kepada seseorang. Sebagaimana perlu kita ketahui, penyerahan gelar akademik di Thailand benar-benar sesuatu yang sakral karena dalam hal ini “negara Thailand mengakui kapabilitas kita dan menyerahkan gelar akademik melalui perwakilan Keluarga Kerajaan Thailand”. Maka, supaya alumni Thailand tidak memalukan dan dipandang sebelah mata, berlakulah aturan yang cukup ketat. Tentu, aturan ini “cukup ketat” apabila kita membandingkannya dengan Indonesia. Di Eropa atau Amerika, sudah barang tentu aturan seperti ini “tidak ada apa-apanya”.

Demikianlah, MasDab. Intisari pembicaraan saya dengan rekan-rekan Ph.D di sore hari yang bebas hujan ini. Artikel ini, sekaligus sebagai dokumentasi dan bahan pertimbangan untuk diri saya pribadi. Sebab, bukan tidak mungkin kelak saya akan kembali menuntut ilmu di negeri Tom Yam ini. Tapi selama ada peluang yang lebih baik, bukan tidak mungkin saya menjadikan Thailand sebagai kenangan indah kelak.

14 Oktober 2009,
BIOSIS LAB : Me,  Mr. Arthorn and Mr. Somsanouk.

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

3 Comments

  • badaiabu says:

    semua yang anda ingin dapatkan untuk bahan kuliah, tugas, undang2, buku panduan, tukar pikiran, konsultasi pemerintahan dan administrasi negara, mengatur keuangan, info lowongan pekerjaan, seks, konsultasi penyembuhan ketergantungan obat, menghilangkan kebiasaan merokok, panduan memasak, resep masakan, kuliner indonesia, pulsa gratis tapi setelah diisi bayar, transportasi, berita panas, gosip selebriti, film terbaru, obat2an, pengalaman pribadi, curhat masalah remaja, cinta, panduan face book,panduan twitter, panduan frienster, panduan membuat e-mail, bertanya tentang setting GPRS, MMS, 3G, internet via HP dan lain sebagainya hanya di http://badaiabu.wordpress.com ingat hanya di http://badaiabu.wordpress.com JANGAN SALAH BROO….buat yang punya blog juga

  • kakve_santi says:

    kalo beasiswa,, mau,, tapi saya masih s1 aja belum rampung, hehe

  • nuki says:

    Tambahan mas,

    untuk journal paper harus memiliki impact factor http://en.wikipedia.org/wiki/Impact_factor
    sehingga kelayakanya diakui dunia penelitian

    hal tersebut yang masih tidak dipakai di negara kita
    Salam

    NUKI

Leave a Reply