Memoar Seorang Peneliti

“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya” (Shahabat Ali bin Abi Thalib r.a).

Memoar atau Memoir bisa bermakna sebuah otobiografi. Beberapa buku yang sudah saya baca, seperti buku ini dan buku ini berisi pengalaman dan kisah perjalanan hidup penulisnya yang didokumentasikan dengan rapi, menjadi sebuah kisah yang enak dibaca. Artikel ini bukan ingin membahas apa itu makna memoar. Bukan sama sekali.

Salah satu hal menarik yang saya dapatkan saat menjalani kehidupan sebagai master student di Thailand adalah perlunya seorang calon peneliti mempersiapkan dirinya dengan cara dokumentasi yang baik terhadap apa yang ia lakukan. Ini bermula saat semester kedua di Thailand, di mana saat itu kami berencana memberikan hadiah kepada para pembimbing akademik masing-masing sebagai bentuk ucapan terima kasih karena telah memberikan waktu dan tenaganya untuk membimbing kami selama 1 tahun. Saat itu, yang terpikir di benak saya adalah memberikan hadiah yang mewah dengan harga murah. Akhirnya pilihan jatuh pada sebuah buku agenda. Buku agenda tersebut, selain menjadi milik advisor saya, juga menjadi milik saya sendiri. Artinya, kami memiliki dua buah buku yang sama dengan warna yang sama (buku yang paling kiri pada foto di atas).

Buku itu berisi coretan-coretan perkembangan riset saya, pada awalnya. Selain itu, beberapa agenda lab dan tugas dari advisor ikut menghiasi lembaran-lembaran putih itu. Tak lupa tanggal-tanggal penting kegiatan kampus, ulang tahun handai taulan, serta agenda pertemuan student Indonesia di Thailand juga mengisi buku itu. Namun, seiring dengan waktu, banyak hal yang harus ditulis untuk mendokumentasikan perjalanan riset saya. Akhirnya saya memilih untuk “menyapihnya” di tempat baru, buku hitam legam di tengah. Buku sederhana yang akhirnya menjadi ajang luapan ide dan muntahan rumus-rumus tak karuan yang sering berputar-putar di kepala. Hanya satu tujuan saya, menuliskan ide-ide baru yang muncul tak kenal waktu dan menuliskan ide lama yang telah diwujudkan menjadi sesuatu.

Buku itu rupanya tak cukup tangguh dengan keperkasaan saya menulis secara tradisional. Setelah  buku hitam legam itu babak belur dengan pensil dan pena, saya memutuskan untuk membeli satu buah buku lagi, dengan warna yang berbeda,  khusus untuk merangkum semua jurnal dan buku engineering yang berkaitan dengan riset saya. Entah kenapa, saya merasa lebih lincah menulis dengan pena dibandingkan mengetik di atas keyboard komputer. Meskipun berbagai software mind mapping beredar luas, rasanya menulis dengan tangan lebih favorit untuk saya.

Mungkin ada cara berbeda yang dilakukan oleh Sampeyan semua, yang kebetulan memiliki profesi sebagai mahasiswa. It’s OK dan sah-sah saja. Namun, bagi Sampeyan yang masih pemula, saya sarankan untuk mencobanya sebelum terlambat. Setidaknya, Sampeyan akan terbantu saat tiba-tiba advisor Sampeyan datang dan berkata,

“Hello, can you write a paper for this conference ?
Make it quick, because our topic is running fast”

NAH LO !

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

2 Comments

  • ya, memang sebaiknya begitu akh… rapi dokumentasi dan tercatat semuanya. mudah penelusuran dan evaluasi.

  • tasa says:

    wiee… bener mas.. baru merasakan bagaimana membuat alur yang jelas di skripsi saya…. catatan-catatan memang perlu… bahkan sangat perlu… apalagi jika ingin membuat dinamika antara variabel ini dengan variabel itu… hhfffhh… T.T

Leave a Reply