Bahasa dan Persahabatan

“Wah, susah Pak. Saya sudah mencoba belajar, tapi susah sekali bahasanya. Nggak ada gunanya belajar bahasa ini”

Itulah jawaban yang mengemuka dari seorang senior saat saya tanya bagaimana proses beliau mempelajari bahasa Thai. Ada “traumatic experience” saat beliau mengungkapkannya kepada saya. Saat itu, setahun yang lalu, saya hanya bisa diam. Tak bisa berkomentar banyak, karena saya pun belum merasakan manfaat belajar bahasa Thai secara langsung.

Sadar atau tidak, kita sering merasa malu saat kita salah berbicara menggunakan bahasa asing. Ekspresi lawan bicara kita, yang mengerenyitkan dahi atau tersentak kaget saat mendengar kita berbicara dalam bahasa mereka, membuat kita merasa takut untuk mencobanya kembali. Efek ini sering terjadi pada anak-anak saat ia mengalami sesuatu yang amat buruk. Bisa jadi, ia akan terus mengingat hal buruk yang menimpanya sampai saat ia menginjak dewasa. Namun kita bukan lagi anak-anak, atau setidaknya kita sedang tidak bertumbuh menjadi anak-anak. Ada kekuatan dalam hati kita untuk meyakinkan diri kita bahwa “salah itu lumrah, berkali-kali salah itu payah”. Maka sejak senior saya berbicara “belajar bahasa itu susah”, saya tak pernah yakin dengan kata-katanya. Saya hanya berpegang pada prinsip di atas, bahwa salah ucap menjadi suatu hal yang normal karena kita bukanlah penutur asli dari bahasa asing yang kita pelajari.

Efek samping dari traumatic experience itu mungkin tidak kita rasakan sebagai suatu hal yang besar. Tapi bagi saya, seorang pelajar atau bahkan seorang profesor sekalipun, saat ia tak bisa berkomunitas dan berkomunikasi dengan baik bersama timnya, he is just a can — hanya akan nyaring kalo “dipukul kalengnya”, alias menjadi sangat pasif dan egois. Ia tak akan pernah mendapatkan bagaimana manisnya persahabatan dan pahitnya pengalaman hidup, saat ia tak lagi mau sedikit memahami bagaimana ia berkomunikasi dengan orang asing. Bahasa adalah salah satu sarananya. Mempelajari local language membawa manfaat yang tak sedikit. Setidaknya, Sampeyan tidak tertipu dengan sopir taksi yang membawa Sampeyan muter-muter dan menghabiskan uang Sampeyan hanya karena Sampeyan tidak tahu sama sekali bagaimana ngomong dengan sopir taksi.

Hari ini, saya membuktikan dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana usaha anak-anak Thailand untuk berbicara dengan bahasa Indonesia dalam Lomba Pidato Bahasa Indonesia. Meskipun bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu saya, tapi saya cukup mengerti bagaimana menggunakannya dengan baik. Saat melihat anak-anak Thai terbata-bata mengucapkan bahasa Indonesia, di dalam hati saya kadang timbul rasa sedih, tapi kadang juga muncul sebuah kebanggaan. Sedih muncul karena ternyata bahasa Indonesia (yang bukan bahasa tone) cukup sulit dipelajari oleh orang asing karena kata-kata yang cukup panjang (satu kata terdiri dari beberapa suku kata). Rasa bangga muncul karena seandainya kita diberi “treatment” yang benar untuk belajar bahasa Thai, mungkin hasilnya lebih baik dibanding pelajar Thai yang belajar bahasa Indonesia. Terlepas dari itu semua, saya merasakan ada satu manfaat yang mereka peroleh dengan belajar bahasa Indonesia. Mereka lebih mudah untuk “bersahabat” dengan komunitas Indonesia dan tak lagi canggung bertegur sapa dengan orang-orang Indonesia. Bahkan beberapa peserta sudah kami kenal sebelumnya karena mereka pernah terlibat dan membantu kegiatan mahasiswa Indonesia di Thailand. Selain itu, mereka juga mengenal sisi positif dan negatif kehidupan masyarakat Indonesia. Dua hal itu mereka sampaikan di naskah pidato mereka dan sesekali mendapat sambutan hangat atau tepuk tangan dari para hadirin dan dewan juri. Selebihnya, keinginan mereka untuk berinteraksi dengan masyarakat Indonesia di tanah air menjadi keinginan mereka yang terpendam.

Nah, MasDab. Menurut Sampeyan, apa manfaat bahasa asing? Apakah ia hanya sebagai “technical language” dan prasyarat lulus untuk mendapatkan gelar? Kalau memang iya, sayang sekali. Lewatkan ribuan pengalaman hidup, Sampeyan akan menyesal kemudian.

Be Sociable, Share!

1 Comment

Leave a Reply