Inside Steve's Brain: Review

“Once you get into the problem, you see that it’s complicated, and you come up with all these convoluted solutions. That’s where most people stop, and the solutions tend to work for a while. But the really great person will keep going, find the underlying problem, and come up with an elegant solution that works on every level. That’s what we wanted to do with Mac” (Steve Jobs, “Inside Steve’s Brain”, 2008).

Well, MasDab. Mungkin Sampeyan yang telah mengenal saya sejak lama mengerti benar bahwa saya adalah seorang Apple user yang sedang tertawan dengan Windows, setidaknya untuk dua tahun (academic reason, of course). Namun demikian, ini tidak lantas menghilangkan kecintaan saya kepada mesin yang sudah membantu saya mencari duit plus menyelesaikan skripsi S1 saya, iBook G4 (yang kini dipekerjakan oleh adik perempuan saya).


Melamuni ex-soulmate

Kali ini, saya akan sedikit membahas sebuah buku kecil, yang mengupas tentang dibalik sukses Apple, Inc. (dulu Apple Computer, Inc.) menguasai dunia pemasaran mp3 player, personal computer dan laptop, sampai gadget. Buku yang berjudul “Inside Steve’s Brain” ini ditulis oleh Leader Kahney, seorang editor di Wired.Com dan penulis di blog Cult of Mac. Ia telah bertahun-tahun menjadi pengguna dan pengamat produk-produk Apple. Buku kecil yang ia tulis ini bercerita tentang bagaimana Steve Jobs mempengaruhi seluruh sisi bisnis dan kultur kerja di Apple Inc. yang ia mulai dari idenya tentang sebuah produk : Simpel dan Elegan. Namun untuk mendapatkan dua kesan itu pada semua produk Apple bukanlah pekerjaan yang mudah. Steve Jobs adalah orang yang mampu menduplikasi kultur kerjanya kepada semua orang yang ia pekerjakan. Terlebih lagi, ia adalah orang yang benar-benar fokus pada satu pekerjaan yang ia tekuni. Ia adalah salah satu CEO kelas dunia yang berani berkata “tidak” pada ide diversifikasi produk yang memiliki efek samping menghancurkan pasar produk utama perusahaan. Sebuah ide “aneh” yang belakangan justru membuat iPod menjadi satu-satunya mp3 player dengan market share terbesar di dunia, dengan 73.8 persen per September 2009 [1].

Buku ini juga mengupas isu-isu terkini seputar MacBook Pro, iPhone, sampai dengan gosip backdating scandal yang menimpa Apple Computer, Inc. (1997-2002) [2]. Alih-alih menjelaskan sukses Apple, Inc. dari segi pengamat luar, buku ini justru menjelaskan bagaimana Steve Jobs berpikir dan menuangkan gagasannya dalam semua produk Apple.¬† Kahney mencoba menjelaskan bagaimana Steve Jobs berpikir dari beberapa komentar rekan kerja Jobs, mantan karyawan Apple, maupun beberapa engineer di Apple yang saat ini masih aktif bekerja. Salah satu yang menarik adalah munculnya rumor istilah “Getting Steved” di antara karyawan Apple saat Jobs diangkat sebagai interim CEO di Apple Computer, Inc. tahun 1997. Istilah yang diartikan secara literal “dipotong” atau “dipecat tanpa seremoni” ini biasa digunakan untuk menyebut para karyawan yang dipecat di tempat karena ia tak bisa menjawab pertanyaan Steve Jobs saat itu juga [3].¬† Meskipun¬† gosip ini tidak pernah terbukti, cerita-cerita tentang “dipecat tanpa seremoni” menjadi sebuah hal yang biasa di Apple, Inc. Selain itu, pada setiap akhir bab, Kahney menyertakan poin-poin penting pelajaran yang bisa diambil dari Steve Jobs. Hal ini sangat bermanfaat bagi mereka yang menjadi leader di sebuah institusi atau para pengambil kebijakan di dunia bisnis.

Kelemahan buku ini adalah, Kahney tidak menyertakan wawancara dan partisipasi langsung dari tokoh yang menjadi sentral buku ini, Steve Jobs. Namun hal ini justru membuat pemaparan cara berpikir Jobs menjadi semakin menantang. Kahney menyertakan beberapa perkataan resmi Steve Jobs dari hasil wawancara langsung berbagai media massa terhadap Steve Jobs. Hasil wawancara ini kemudian diramu dengan hasil wawancara langsung dari beberapa mantan karyawan dan karyawan Apple, serta beberapa referensi dari buku tentang Apple yang telah terjamin keabsahannya. Kelemahan lain buku ini adalah alur yang kurang tertata. Penjelasan Kahney tentang pribadi dan cara berpikir Steve Jobs membuat Kahney mencomot berbagai macam kejadian yang berhubungan dengan narasinya, tanpa mengatur urutan peristiwa tersebut. Sampeyan akan menemui cerita Kahney akan sebuah peristiwa pada tahun 2004, dan meloncat ke tahun 1997, kemudian tahun 2002.

Bagi Sampeyan yang penasaran dengan bagaimana Apple, Inc. menuai sukses, buku ini menjadi jaminan yang bermutu. Tapi bagi Sampeyan yang ingin tahu bagaimana proses berdirinya Apple, Inc., proses hampir bangkrutnya (tahun 1996), sampai menuai sukses di tahun 2000-an, buku ini bukanlah titik tolak yang tepat buat Sampeyan. Saya sarankan untuk memulainya dengan menengok buku lain semacam Apple Confidential 2.0 yang lebih terstruktur secara historis.

Reference:

[1] http://www.afterdawn.com/news/archive/19294.cfm

[2] http://money.cnn.com/2006/12/29/technology/apple_jobs/index.htm

[3] L. Kahney, “Inside Steve’s Brain”, Portfolio: New York, 2008, p. 33-35.

Be Sociable, Share!
Categories: Mac

Leave a Reply