Menulis Thesis (1)

(Image Courtesy of PrintMojo.Com)

Menulis thesis, bukan sesuatu yang mudah. Namun sebagai tuntutan amanah akademis, menulis thesis (atau skripsi untuk S1 dan disertasi untuk S3), tentu membutuhkan persiapan-persiapan yang cukup. Beberapa pengalaman pribadi, rasanya cukup penting untuk di-share di sini. Tak lain dan tak bukan, semoga Sampeyan tidak mengulangi kesalahan yang pernah saya lakukan.


1. Time scheduling

Saya adalah orang yang biasa bekerja dengan target. Bukannya diperbudak target, tapi berusaha untuk konsisten pada diri sendiri itu ternyata tidak mudah, lho. Sampeyan mungkin bisa aja konsisten sama  orang tua Sampeyan, atau bahkan dosen Sampeyan. Tapi kalau sama diri sendiri? Beraat bung! Makanya, time scheduling itu penting, karena waktu itu adalah sesuatu yang mahal harganya, terutama kalau Sampeyan sudah mendekati batas waktu pengumpulan thesis. Sepertinya kita jadi tidak bisa diganggu gugat. Ditelepon nggak bisa, jarang online YM, Facebook ga pernah di-update, pokoknya thesis dan thesis. Sebenarnya yang kayak gitu bisa diakalin jika Sampeyan mau. Chattingan, mengerjakan thesis, nonton streaming film Korea atau Jepang di Youtube, semua bisa diatur, asal konsisten. Terus, gimana dong time scheduling yang baik?
Oke, MasDab. Ini dia beberapa langkah-langkahnya:

a. Mulailah dari tujuan akhir. Misal nich, Sampeyan pengin ngumpulin thesis bulan Maret 2010. Maka, letakkan Maret 2010 sebagai tujuan akhir. Kemudian, perjelas langkah-langkah menuju pengumpulan thesis, misalnya:

November-Desember 2009 : Studi literatur + pengumpulan bahan baku
Desember 2009-Januari 2010: Mulai nulis bab 1 dan bab 2
Januari-Februari 2010 : Melanjutkan bab 3 dan bab 4
Maret 2010 minggu I : Bab 5 (alias kesimpulan) dan print draft
Maret 2010 minggu II – minggu III : koreksi thesis oleh advisor
Maret 2010 minggu IV : finalisasi + kumpulkan thesis

Ok. Itu jadwal garis besarnya. Kemudian bisa di-break down lagi menjadi jadwal per minggu. Dan yang terpenting, sebenarnya jadwal setiap harinya. Aktivitas Sampeyan harus benar-benar tertib sesuai dengan yang Sampeyan rancang.Insya Allah, semuanya bakalan kebagian tempat. Kata orang, “Orang sibuk itu biasanya orang yang menghargai waktu”. Sibuk yang bener maksudnya, kalau sibuk ngegosip yo sami mawon ……

2. Tentukan judul thesis
Saya rasa untuk yang satu ini menjadi hak prerogratif Sampeyan dan dosen pembimbing Sampeyan. Judul ini gampang-gampang susah. Tapi kalau Sampeyan sudah membicarakannya secara baik-baik (bukan dengan cara kekerasan) dengan pembimbing Sampeyan, pasti judul ini disetujui. Jika Sampeyan harus melewati presentasi proposal, maka menentukan judul thesis menjadi sebuah proses yang cukup memakan waktu. Tapi yakinlah, semakin banyak masukan (asal nggak ngawur), tentu semakin baik

3. Membuat outline thesis
Outline thesis semacam garis-garis besar halauan thesis Sampeyan. Intinya, buat poin-poin konten yang akan Sampeyan bahas di thesis sampeyan. Setelah itu, tunjukkan ke dosen Sampeyan. Biasanya dia akan memberi respon. Kemudian, dari poin-poin tadi, kita mulai merancang bahan baku yang dibutuhkan untuk “mengisi” poin-poin tersebut.

Contoh:
Chapter I : Introduction. Bahan baku: contoh thesis tahun kemaren.
Chapter II : Literature Reviews. Bahan baku: jurnal (a, b, c…….), buku (1, 2, 3……), dst.

Intinya, tahapan pengumpulan bahan baku ini harus sudah dipikirkan semenjak pembuatan outline. Jangan kayak saya, setelah ngetik, baru ketahuan bahan bakunya apa………

4. Mengumpulkan bahan baku
Oke. Setelah bahan baku terkumpul, Sampeyan perlu memanajemen bahan-bahan itu. Supaya Sampeyan gak pusing, silahkan Sampeyan pakai EndNote atau software manajemen referensi lainnya. Apa itu EndNote? Jawabannya bisa Sampeyan search di blog saya atau klik di sini. Masukkan satu per satu referensi Sampeyan ke EndNote, selengkap-lengkapnya. Jangan lupa attach pula file PDF jurnal atau paper yang sampeyan butuhkan di thesis ke dalam EndNote. Biar ga lupa aja lokasinya. Jangan kayak saya (lagi), yang selalu malas meng-attach file PDF dan sibuk mencari-cari file dalam ratusan folder data. Oya, pastikan Sampeyan membuat satu sub-folder di dalam folder induk thesis Sampeyan dengan judul “REFERENSI”. Ini memudahkan Sampeyan untuk mengatur paper-paper, ebook, dan semua artikel yang akan menjadi referensi thesis Sampeyan.

5. Drafting
Pada tahapan ini, yang sering saya jumpai adalah MALAS. Malas untuk memulai dan selalu menunda pekerjaan. Saya pun mengalaminya sedemikian rupa, sehingga memerlukan tips khusus untuk bisa segera mulai. Bagaimana caranya? Gampang bos. Coba lihat rekan-rekan Sampeyan yang sudah lulus dan bayangkan jika itu terjadi pada Sampeyan. Tips ini cukup ampuh buat saya. Sembari browsing data di internet, saya mencoba “mengambil inspirasi” dari rekan-rekan yang sudah menyelesaikan studi dan berkutat dengan aktivitas baru mereka. Rasanya kok “menyenangkan” sekali dan dari sanalah saya menemukan tenaga untuk menulis.

Menulis bukan sesuatu yang mudah, MasDab. Percaya deh. Sepandai apapun Sampeyan, jika Sampeyan tidak pernah latihan menulis, apalagi kok menulis ilmiah, wow……sulit, MasDab. Tapi nasi sudah keburu jadi bubur. Beri kecap dan kacang aja sekalian. Sampeyan sudah terlanjur berada di akhri masa studi dan kini Sampeyan mau tidak mau harus menulis. Tidak ada lagi “latihan menulis”, karena Sampeyan tak pernah memikirkan pentingnya latihan menulis.

Lalu, apa yang harus Sampeyan lakukan?

Untuk memberi inspirasi, Sampeyan bisa melihat gaya menulis dari para pengarang jurnal atau buku yang sesuai dengan bidang Sampeyan. Contek saja dulu mentah-mentah. Kemudian ubah kalimat-kalimat itu dengan cara bertutur Sampeyan. Ada beberapa vocab menarik yang nantinya akan Sampeyan dapatkan dari sana. Nah, vocab-vocab “keren” inilah yang akan menjadi modal Sampeyan menapaki halaman demi halaman selanjutnya. Untuk tahap yang satu ini, saya sarankan Sampeyan meng-install kamus bahasa Inggris-Indonesia/Indonesia-Inggris, serta Inggris-Inggris (Thesaurus). Kamus thesaurus akan membantu Sampeyan “bersilat keyboard” supaya tulisan Sampeyan nggak basi karena vocab-nya monoton.

6. Editing
Wah, ini bagian terberat, MasDab. Editing ini meliputi segala sesuatunya:
– grammar atau tata bahasa
– ketepatan penulisan
– kutipan gambar dan tabel
– persamaan
– hasil percobaan
de-el-el

Saya sendiri, sampai saat ini masih mempercayakan jasa naskah hard copy karena lebih akurat untuk melakukan penyuntingan. Untuk tahap yang satu ini, Sampeyan seyogyanya meminta bantuan  rekan atau dosen untuk mengoreksi naskah Sampeyan.

7. Submit thesis
Yah, tahapan terakhir yang menyenangkan. Eits, jangan lupa check list yang diperlukan. Perlukah naskah Sampeyan di-print berwarna, atau cukup hitam dan putih? Semua harus dipastikan, MasDab. Setelah submit thesis, Sampeyan tentu tinggal memikirkan ujian + revisi.

———– BERSAMBUNG KE SERI 2 ————–

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

5 Comments

Leave a Reply