Renungan Susu Jahe – Ar Rahman 39

Pagi ini, seperti biasanya, MasDab membolak-balik Al Qur’an Syamil yang ia beli sekian tahun yang lalu. Al Qur’an saku yang setia menemaninya kemanapun ia pergi itu memang menjadi favorit MasDab karena menyediakan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Maklum, MasDab bukan ustadz, tapi cuman orang biasa saja. Awam dari ajaran Islam, tapi pengin ngerti “Islam itu kayak apa tho sebenarnya? Katanya indah, di sisi lain kok katanya mengajarkan kekerasan?” MasDab adalah orang yang tidak ngawur dan selalu ingin bukti. Makanya, MasDab tak henti-hentinya belajar Islam.

Pagi ini, MasDab membaca-baca surat Ar-Rahman. Kata seorang teman, suratnya indah dan mengulang-ulang kata yang sama. MasDab penasaran dan ingin membuktikan. Meski terbata-bata membaca huruf arab, MasDab bisa merasakan keagungan Al Qur’an. Ayat yang dikatakan oleh teman MasDab itu berbunyi seperti ini:

Artinya: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

MasDab menghitang-hitung ayat tadi, ternyata ada 31 ayat dengan bunyi yang sama di surat Ar-Rahman. Total ayat dalam surat ini ada 78 ayat. Berarti hampir 40% kandungan surat Ar-Rahman itu mempertanyakan manusia, mengapa kadang-kadang manusia kurang bersyukur kepada nikmat Allah SWT.

“Slurrrppp……,” MasDab kembali menghirup susu jahe panas yang sudah ia persiapkan setelah subuh tadi. Enak sekali menyeruput susu jahe pagi-pagi.

MasDab kembali menelusuri ayat demi ayat. Banyak sekali ayat yang menarik perhatian. Kadang-kadang MasDab merasa aneh, ada dua ayat yang seperti berhubungan, tapi tidak disebut secara langsung apa hubungan dua ayat berurutan itu. Misalnya ayat 39:

Artinya: “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya”
(tapi pada saatnya akan dimintai pertanggungjawaban tentang amal perbuatannya)

Lalu setelah ayat ini, kembali ayat favorit muncul

Lha apa hubungannya ayat pertama dengan ayat kedua ini? MasDab, sempat tercenung sesaat. Di pelupuk matanya, terbayang saat muda-mudi di Aceh tertangkap basah berduaan, mereka menerima hukuman cambuk, yang konon melanggar HAM. Hukuman yang tidak menyakitkan di badan, tapi menyakitkan di hati. Ya, mereka dicambuk di depan ribuan warga yang menyaksikannya. Malu. Malu sekali terhinakan di hadapan manusia.

“Slurrppppp………,” aroma jahe kembali terhirup seiring dengan mengalirnya susu panas dalam kerongkongan kering MasDab.

“Iya, ya. Andaikata saya yang tertangkap, kemudian saya yang harus berdiri tercambuk seperti itu, bagaimana rasanya. Pasti malu sekali. Kemana-mana orang akan memandang sinis, meskipun hukuman sudah tertunaikan di dunia,” MasDab bergumam sendiri. Ah, memang luar biasa ayat Al Qur’an. Seperti TTS saja ini. Isian mendatar dan menurun membuat MasDab semakin penasaran saja kalau sudah berhadapan dengan TTS. Begitu pula dengan ayat ini. Seperti memancing kita untuk berpikir keras, apa sih hubungannya “dosa tidak ditanya di dunia” dengan “mengapa kita tidak bersyukur?”

Ya malu tadi. Tentu Allah SWT punya maksud lain, mengapa dosa tidak ditanya saat di dunia, tapi di akhirat. Manusia memiliki rasa malu kepada sesamanya, secara naluriah. Bahkan (maaf), penari telanjang di klub-klub malam saja tidak mau telanjang setelah keluar dari klub.  Pekerja Seks Komersial (PSK) tidak mau sembarangan membuka pakaiannya di hadapan orang lain. Bahkan perampok menggunakan topeng saat merampok dan tidak mungkin terus terang mengisi kolom pekerjaan dengan kata “PERAMPOK” atau “BANDIT” saat ia membuat KTP. Kalau ditanya pasti jawabannya sama, MALU. Jadi secara alamiah, manusia memang punya rasa malu terhadap orang lain.

“Sluurrpp……,” tak terasa susu jahe sudah hampir habis, menemani MasDab bercengkrama dengan dua ayat tadi.

Ah, rupanya memang Allah SWT itu Maha Penyayang. Allah is The Best . Sensitif sekali terhadap perasaan manusia. Kalau bukan karena rasa sayang-Nya, tentu aib-aib kita sudah ditelanjangi langsung di dunia, sebagaimana kadang kita berharap doa kita langsung dikabulkan di dunia. Ujug-ujug, mak bedunduk, langsung kaya dan bisa beli BMW. Ujug-ujug, mak bedunduk, langsung kena azab atas perbuatannya di dunia. Langsung terpotong tangannya bila mencuri. Langsung tercambuk bila berzina. Malu rasanya dilihat orang lain. Resleting celana terbuka tanpa sengaja dan terlihat orang lain saja malu, apalagi kok hukuman karena dosa.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Be Sociable, Share!
Categories: Care and Share

4 Comments

  • Sebagia orang Islam yg awam…surat ini adalah salah satu surat fav saya selain QS 84.. Surat slalu membuat saya bertanya-tanya sekaligus kagum. Bertanya-tanya krn kenapa perulangan ayat yg sama banyak sekali… Apakah krn seringnya manusia itu ga sensi jadi perlu dijewer dulu baru sadar…? Makanya manusia akhirnya bikin hukum dg efek malu yg luar biasa berat… Belum lagi maunya serba ujug2, mak bedunduk alias instans… Kagum melihat betapa Yang Kuasa Maha Sensitif dan selalu mengajarkan manusia u mau & terus berpikir apa yg ada dibalik ayat-ayat Nya…
    Maturnuwun postingannya…ringan tapi mengajak saya kmbl berpikir & ingin mengerti fondasi hidup saya, Islam…

  • handout says:

    terima kasih banyak sudah berbagi,.
    moga sukses selalu.

  • heru says:

    Izin share ya…

  • wahyu says:

    apek tenan postingane mas…ringan dan bermakna..

Leave a Reply