[Renungan Susu Jahe]: Mari Bersyukur

Pagi ini, sembari menyeruput susu jahe yang nikmat, saya kembali membaca terjemahan salah satu ayat dalam surat Al An’aam yang dulu pernah saya baca bersama rekan-rekan seperjuangan di Bangkok saat kongkow-kongkow bersama setiap Sabtu Sore. Ayat itu kembali mengingatkan saya betapa Allah SWT selalu membungkus balasan-Nya kepada kita selaku umat-Nya dengan rasa sayang. Bagaimanakah hal tersebut terjadi?

Ayat “ajaib” yang mempesona itu tak lain adalah Q.S. Al An’aam : 160 [1], yakni:

“Barangsiapa yang berbuat kebaikan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)”. (Q.S. Al An’aam: 160)

Ayat yang sepertinya “tidak fair” ini sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada umat-Nya. Dalam ayat ini, kalau kita mau “menghitung” secara matematis, Allah SWT secara tak langsung berkehendak untuk memberikan balasan kebaikan SELALU lebih banyak daripada balasan untuk amal buruk. Jika boleh menggunakan logika normal (ro’yu), tentu kita selalu dalam keadaan yang diuntungkan, karena satu buah kebaikan dibalas dengan 10 kali lipat sedangkan satu kali kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Akan berbeda ceritanya jika kita tak pernah berbuat baik, dan selalu berbuat jahat, atau kondisi lainnya, kita berbuat baik sekali dan berbuat jahat lebih dari sepuluh kali. Itu kalau kita menggunakan logika secara mentah dengan mengabaikan penjelasan-penjelasan di ayat lain atau hadits Nabi SAW.

Ayat di atas sejalan dengan ayat lain yang lebih “mempesona” dan spesifik. Coba bayangkan apa yang terjadi untuk infaq ikhlas Sampeyan fii sabilillah:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al Baqoroh: 261).

Di jalan Allah (fii sabilillah) di sini, termasuk belanja untuk kepentingan ummat, seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, usaha untuk penyelidikan ilmiah yang bermanfaat, sampai dengan membantu jihad kaum muslimin di berbagai negeri yang telah diwajibkan bagi umat Islam di daerah tersebut untuk berjihad fisik [1].

Bagaimana penjelasan Rasulullah SAW tentang “jackpot” Allah SWT ini? Mari kita simak hadits dari Ibnu Abbas r.a. di bawah ini [2]:

“Dari Ibnu Abbas r.a., dari Rasulullah SAW meriwayatkan sabda dari Tuhannya SWT, Firman-Nya: Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan-kebaikan dan kejahatan-kejahatan kemudian menjelaskannya, maka barang siapa berniat melakukan kebaikan lalu tidak jadi, Allah mencatat satu kebaikan sempurna. Dan jika ia berniat melakukan kebaikan lalu ia mengerjakannya, Allah catat nilai kebaikannya itu 10 kali lipat sampai dengan 700 kali lipat, sampai berlipat ganda banyaknya. Dan jika ia bermaksud melakukan kejahatan, tapi tidak jadi ia lakukan, Allah catat padanya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia bermaksud melakukan kejahatan, lalu dikerjakannya, Allah catat padanya satu kejahatan”.
(H.R. Bukhari – Muslim).

MasDab, hadits di atas sungguh luar biasa. Bagaimana tidak, bahkan niat pun sudah memiliki value di hadapan Allah SWT, apalagi sampai menjadi amal nyata. Niat buruk yang dibatalkan bisa menjadi tabungan juga. Balasan amal baik dilipatgandakan, sedangkan balasan amal buruk dibalas seimbang. Amat jarang manusia yang mau membalas kebaikan sampai berlipat ganda, kecuali memang ia manusia dengan hati yang teramat mulia. Sebaliknya, sangat banyak manusia yang membalas kejahatan dengan kejahatan lain yang lebih kejam dari apa yang menimpanya. Saya pun pernah suatu saat kepikiran seperti itu, apalagi jika ada orang yang berbuat curang atau berbuat jahat kepada saya dan keluarga saya. Sampeyan pun pernah berpikiran demikian, bukan?

Maka sungguh, Allah SWT menciptakan saya dan Sampeyan semua dalam kondisi yang serba diuntungkan jika kita mau memikirkannya. Jika kita mau berpikir, seharusnya kita memperbanyak rasa terima kasih kita kepada Sang Maha Kuasa karena jackpotjackpot-Nya berterbaran di mana-mana. Terkadang, justru kitalah yang kurang sigap memainkan joystick amal kita dan tidak berusaha sekuat tenaga mempelajari tips-tips, killer codes, cheatsheat, dan shortcut untuk memperbanyak jackpot itu. Mengucapkan hamdalah secara lisan, atau di dalam hati, dan merenungi nikmat-Nya adalah salah satu cara termudah di antara cara-cara lain untuk memainkan joystick amal kita.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
(Q.S. Ibrahim: 7)

MasDab, sudahkah Sampeyan bersyukur hari ini ?

Referensi:

[1] Al Qur’an, Terjemahan Departemen Agama

[2] Irwan Prayitno, “Mengenal Makna Ilah”, Kepribadian Muslim, Pustaka Tarbiatuna: Jakarta, h.30.

Be Sociable, Share!
Categories: Care and Share

1 Comment

Leave a Reply