Bagaimana Memulai Belajar Bahasa Jepang – Japan Note (2)

Alhamdulillah, MasDab. Sudah tiga minggu saya berada di Jepang dan baru dua minggu bergabung dengan kelas bahasa Jepang di Nihongo Gakkou-nya Tokai University. Sensei, dengan kebaikan hati beliau, men-“sit in“-kan saya dan dua student PhD dari Thailand di kelas pemula sekaligus kelas kanji. Program “kejutan” sensei ini Alhamdulillah cukup membantu saya melakukan review dari beberapa pelajaran grammar dasar yang dulu pernah saya dapatkan di Indonesia. Manfaat lain yang saya dapatkan adalah, kemampuan menulis kanji dan listening bertambah karena fasilitas kelas yang cukup mengagumkan (lab bahasa Tokai University adalah salah satu yang terbaik di seluruh Jepang).Pada artikel ini, saya ingin bercerita sedikit tentang bagaimana awal mula perjalanan saya belajar Bahasa Jepang. Harapannya, semoga Sampeyan bisa mengambil manfaatnya, dan belajar bahasa dengan cara yang lebih tertata (*tidak seperti saya yang ‘nabrak’ kesana-kemari).

Tahun 2007 akhir, sesaat sebelum saya lulus S1, saya mencoba peruntungan untuk studi lanjut dengan mendaftar berbagai beasiswa. Dari sekian puluh email yang saya kirimkan ke berbagai professor di seluruh dunia, hanya ada tiga email yang dibalas dengan meyakinkan, dan semua email tersebut datang dari professor Jepang. Satu email menolak saya (karena saya tidak bisa berbahasa Jepang), satu email lagi menjawab dengan menyertakan soal-soal ujian masuk yang harus saya jawab dalam tiga hari (!!), dan satu email lagi menerima tanpa syarat. Dari sana, saya mencoba untuk menindaklanjuti email ketiga, dan mulai saat itu juga, saya bertekad untuk serius belajar bahasa Jepang. Namun takdir berkehendak lain. Setelah beberapa bulan belajar bahasa Jepang, ternyata negara yang menjadi tempat singgah saya bukanlah Jepang (*sampeyan bisa menengok posting lama saya untuk mencari tahu bagaimana perjalanan hidup saya di negara Gajah Putih :) ).

1. Tentukan Target Belajar

Bagaimana memulai belajar Bahasa Jepang? Ini sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Tapi sejauh pengalaman yang saya rasakan, di awal belajar kita harus menentukan terlebih dahulu, apa yang ingin kita capai dari proses belajar tersebut. Apakah kita ingin belajar BERBICARA saja ? Atau ingin belajar BERBICARA dan MEMBACA ? Atau ingin belajar BERBICARA, MEMBACA, dan MENULIS ? Target ini penting karena akan menentukan bagaimana kita belajar bahasa Jepang. Bagi saya (tahun 2007), BERBICARA adalah target pertama, dan karena itulah saya tidak terlalu memperhatikan bagaimana “tulisan jepang” digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun saat ini, ternyata BERBICARA dan MEMBACA (setidaknya membaca papan petunjuk jalan dan pengumuman), lebih penting :)

2. Memilih Cara Belajar Mandiri

Cara belajar terbaik adalah dengan meniru secara langsung bagaimana native speaker berbicara. Ini bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Saat pertama kali berada di Thailand, saya sempat stress hampir 2 minggu lebih karena saya tidak mampu berbicara dalam bahasa Thai SAMA SEKALI. Untungnya, saya memiliki beberapa teman lab yang sangat baik hati. Dengan kesabaran mereka, saya menambah lima kosakata setiap hari dan mencoba mengingat tone / cara mengucapkan kata-kata tersebut (bahasa Thai adalah tonal language, bahasa yang menggunakan nada. Salah pengucapan, akan menimbulkan arti yang berbeda).

Dari “latihan harian” di lab itulah, saya mencoba menggunakan berbagai kata yang saya dapatkan untuk terjun langsung ke pasar. Dalam waktu seminggu, setidaknya saya satu kali pergi ke pasar tradisional. Di pasar inilah, saya mendapatkan banyak kosakata (dan celakanya….tidak ada filter untuk kosakata “sopan” dan kosakata “harian”). Dalam waktu dua tahun, Alhamdulillah saya bisa memahami konteks kalimat sehari-hari dalam bahasa Thai, namun masih sedikit kesulitan untuk berbicara dengan aksen yang sama dengan orang Thai (sekali lagi, karena bahasa Thai cukup sulit untuk diucapkan dengan lidah dan otak yang tidak terlatih untuk berbicara tonal language).

Untuk belajar bahasa Jepang, saya menggunakan trik yang sama. Seperti bayi, saya mencoba memahami sebuah kata baru, berikut konteksnya dalam satu atau dua kalimat. Setelah itu, saya mengulang-ulang dan mengucapkannya dengan agak keras (*di ruang yang sepi dan tidak mengganggu orang lain, tentunya). Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara mendapatkan berbagai macam kosakata bahasa Jepang dan kalimatnya? Saya menggunakan dua macam alat untuk belajar kosakata: JapanesePod101 dan Anki.

JapanesePod101 adalah sebuah situs belajar bahasa Jepang. Dalam situs tersebut, tersedia berbagai macam fitus dan fasilitas, mulai dari menghafal huruf jepang (hiragana, katakana, dan kanji), sampai dengan menyimak cerita. Hal pertama yang ditekankan oleh situs ini adalah: belajar dengan cara yang menyenangkan. Beberapa pelajaran bisa diakses secara gratis dan kita bisa mendengarkan percakapan dalam bahasa Jepang di situs tersebut. Saya mencoba memulai sedikit demi sedikit mendengarkan percakapan di sana dan menghafal kosakata yang digunakan dalam percakapan tersebut.

Anki adalah sebuah perangkat lunak flash card gratisan yang bisa diunduh dari internet. Selain menyediakan fasilitas flash card, Anki memiliki komunitas yang memudahkan para penggunanya untuk mengunduh “deck” (kumpulan dari flash card) sesuai dengan apa yang ingin ia pelajari. Perhatikan gambar di bawah ini. Sampeyan bisa mengunduh puluhan deck yang berguna untuk belajar bahasa Jepang. Saya sendiri saat ini masih menggunakan dua deck : “SmartFm Core 2000″ (untuk menghafal kosakata sekaligus latihan listening), dan “All Kanji for JLPT Level 4″ (untuk menghafal kanji dasar).

3. Memilih kamus

Belajar bahasa selalu berkolerasi erat dengan yang namanya kamus. Untuk kamus di laptop, saya menggunakan Tagaini Jisho dan RikaiChan (plugin firefox). Dua buah kamus ini cukup membantu saya untuk mengerti arti sebuah kata, sekaligus melihat bagaimana penggunaan kanji untuk kata-kata tersebut. Salah satu “kesulitan” (kadang-kadang kemudahan juga) dalam bahasa Jepang adalah, kita harus tahu kanji untuk beberapa kata yang ditulis dalam alphabet yang sama (istilah bahasa-nya adalah: homonim). Contoh sederhana adalah kata: HANA, yang ditulis dalam hiragana はな, dan memiliki arti hidung (鼻) dan bunga (花). Selain kamus tersebut, Google Translate dan Denshi Jisho juga sangat membantu mendampingi saya selama ini bertualang dalam belantara per-bahasa jepang-an. Untuk aplikasi mobile, saya menggunakan Kotoba! sebagai pendamping saya.

Nah, untuk sementara….itu dulu sebagai pendahuluan. Berikutnya, saya akan menulis lebih banyak tentang referensi buku dan referensi online lain yang ada dalam daftar bookmark browser saya.

じゃ、またね。。。


Be Sociable, Share!
Categories: Japan

5 Comments

Leave a Reply