Budaya Ewuh Pakewuh dan Honne Tatemae

Kakak : それじゃ、いってきます
(aku berangkat yaaa)
Adik: え~やだ~もう行っちゃうの?
(haa….nggak mau…udah mau pergi ya..?)
Kakak: うーちゃん, 早く帰ってくからね~
(nanti pulang cepet deh…)
Adik :え~ん、行けないで
(ee….jangan pergi)
Kakak : 本当にそう思ってる?
(mm…masak sih?)
Sumber :  http://wlc.drake.edu/wordpress/japanese/2011/02/27/honne-tatemae/

MasDab, gambar komik di atas saya ambil sekedar untuk menunjukkan contoh paling simpel dari apa yang kita sebut sebagai budaya honne-tatemae di Jepang. Honne-tatemae berasal dari dua kata, yakni honne (本音)dan tatemae (建前). Honne bisa diartikan sebagai “suara sesungguhnya” atau perasaan sesungguhnya dan tatemae bisa diartikan sebagai “suara atau wajah untuk publik” atau perasaan yang ditampilkan di depan umum.  Budaya ini menarik untuk dikaji karena biasanya antara honne dan tatemae tidak sama dan salah memahami makna sesungguhnya dari “tatemae” bisa berakibat kurang baik  :)

Di Jepang, untuk memahami budaya honne-tatemae tidak terlalu mudah, jika kita tidak berusaha mempelajari budaya dan bahasa mereka. Namun jika kita tinggal lebih dari 6 bulan dan mulai sedikit demi sedikit mempelajari bahasa dan budaya keseharian mereka, niscaya tidak akan terlalu susah bagi kita untuk melihat praktik honne-tatemae ini. Salah satu contoh simpel adalah : sikap seseorang terhadap atasannya, misal sikap seorang kouhai (junior) terhadap atasannya (senpai). Jika kita melihat dengan mata kasat, mungkin kita akan melihat bahwa junior sangat patuh dan selalu menuruti perintah seniornya, bahkan ketika diajak makan keluar sekalipun, kadang sang junior tidak bisa menolak ajakan tersebut, meskipun sebenarnya sang junior punya tugas yang harus dikerjakan. Jika kita berinteraksi dengan mereka lebih jauh, lebih detail, lebih dalam, dan lebih dekat, niscaya suatu saat kita akan menemukan suatu momen di mana sang junior mengungkapkan perasaan pribadi dan pendapatnya tentang sang senior. Terkadang, hal tersebut keluar di saat sang senior yang dimaksud tidak berada di tempat, atau dengan istilah lain, sang junior akan “bergosip” tentang perasaan dan sikapnya terhadap sang senior. 

Di lingkup sekolah, atau di lingkup lab, hubungan antara seorang pelajar asing dan pelajar jepang dengan pembimbing akademiknya (sensei) bisa jadi berbeda. Sensei terkadang cenderung memberi kelonggaran kepada pelajar asing, dan memberi keberpihakan lebih kepada pelajar jepang. Kelonggaran yang diberikan sensei untuk pelajar asing ini, barangkali sikap tatemae yang harus ditunjukkan seorang sensei karena universitas membutuhkan pelajar-pelajar asing untuk mengerjakan proyek penelitian sekaligus meningkatkan nilai akreditasi sebuah universitas. Di sisi lain, sikap honne dari sensei sebenarnya bertentangan dengan tatemae yang ia tunjukkan. Ia sebenarnya ingin memberikan perlakuan yang sama kepada pelajar asing dan pelajar jepang. Untuk mengkompensasi “perbedaan” ini, biasanya sensei akan memberikan “keberpihakan yang lebih” kepada pelajar jepang, misal: sensei dengan eksplisit mengungkapkan hal-hal yang sifatnya pribadi hanya kepada pelajar jepang, atau proyek-proyek lab hanya dikerjakan oleh pelajar jepang, dan seterusnya :)

Penggunaan budaya honne-tatemae ini tercermin dari bahasa yang digunakan oleh orang Jepang dalam kehidupan mereka pula. Sebagai contoh, ketika menolak permintaan, orang Jepang tidak akan menolak secara langsung dengan mengatakan “iie”…atau “dame” (bisa diartikan : “tidak” atau “jangan”), tapi kadang menggunakan sedikit ekspresi wajah tidak setuju (tidak terlihat gembira dan menunduk), kemudian menggunakan kata-kata “sore wa chotto….” (lit: hal itu agak……..). Contoh lain, ketika akan memberikan sebuah hadiah, orang jepang akan berkata, “Tsumaranai mono desu ga, moshi yoroshikereba….” (lit: cuman barang yang nggak berguna, tapi kalau berkenan……). Di sini terdapat sebuah “sinyal”, bahwa sesungguhnya barang yang ia bawa sangat berharga dan si pemberi berharap barang tersebut bisa diterima oleh orang yang diberi hadiah.

Budaya honne-tatemae ini sangat erat dengan budaya ewuh pakewuh. Bagi saya, yang kebetulan lama tinggal di Jogja, memahami budaya honne-tatemae ini tidaklah terlalu sulit. Di Jogja, sudah menjadi budaya bahwa orang Jawa terkadang tidak mau mengungkapkan perasaan secara langsung kepada orang yang bersangkutan. Sebagai contoh, bila saya bermasalah kepada si A, saya tidak akan langsung menuduh atau mengungkapkan perasaan saya kepada si A. Biasanya, saya akan bercerita kepada si B, yang sama-sama mengenal saya dan si A. Perasaan saya terhadap si A akan saya ceritakan kepada si B. Jika si A ini kurang peka dan ia tidak “gaul”, bisa jadi maksud-maksud yang saya sampaikan secara “implisit” ke si A dan “eksplisit” melalui si B tidak tersampaikan. Tidak tersampaikannya pesan, bisa membawa konsekuensi lebih jauh.

Sekilas memang budaya honne-tatemae ini dianggap tidak adil dan cenderung berbohong karena menutupi perasaan yang sesungguhnya. Di sisi lain, beberapa orang Jepang berpendapat bahwa honne-tatemae ini sebagai upaya mereka untuk menjaga harmoni dan perdamaian (平和 / heiwa), atau menghindari konfrontasi langsung kepada pihak lain. Dengan sedikit berbohong, mereka berharap bisa membahagiakan pihak lain dan tidak membuatnya bersedih hati. Di sisi lain, mereka menganggap honne-tatemae ini menjadi suatu hal yang tidak bisa dipisahkan jika seseorang sudah memiliki kedudukan atau jabatan publik, dimana sikap-sikap pribadinya tidak boleh ditunjukkan langsung karena dalam berbagai kondisi seharusnya sikap sebagai pejabat publik-lah (yang sesuai dengan harapan publik) yang harus ditampilkan.

Lalu, bagaimana sikap kita dan apa yang harus kita lakukan terkait dengan budaya honne-tatemae ini ? Saya sendiri, saat ini masih terus belajar dan memahami isyarat-isyarat implisit yang sering digunakan oleh orang Jepang untuk menyampaikan pendapat mereka. Tapi satu hal yang jelas saya terapkan saat ini adalah, saya berusaha sebisa mungkin untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar saya, karena dengan meningkatkan kepekaan terhadap bagaimana orang Jepang berinteraksi, apa pendapat mereka terhadap kita, apa yang mereka rasakan sesungguhnya, akan membuat kita bisa memahami isyarat-isyarat tatemae yang mereka tunjukkan dan honne yang sebenarnya mereka harapkan.

Semoga bermanfaat, MasDab :)

Be Sociable, Share!
Categories: Japan

7 Comments

  • edo says:

    Bagus mas sharingnya, apa ini masih dalam budaya “ketimuran” ya karena tidak beda jauh juga dengan budaya jawa…
    Menyenangkan bisa belajar banyak tata budaya tiap daerah :D

    Sukses Mas Sunu.

  • Mas Edo Kautsar,
    Terima kasih sudah menyempatkan membaca dan mampir. Iya mas, memang untuk Jepang budayanya tidak jauh berbeda dengan budaya Jawa, bahkan mungkin “lebih jawa” dari orang Jawa karena aspek sopan-santun masih sangat mereka terapkan, terutama jika mereka berbicara pada orang yang baru dikenal atau orang asing

  • yayan says:

    yg bener itu “tsumaranai mono desu ga”… bukan “tsumaranai desu ga”
    soalnya aku pernah disindir sensei karena salah ngomong pas ngasih omiyage… :))

  • Hoooo…..matur nuwun mas Yayan atas koreksinya. Aku dapet dari dorama itu kata-katanya :D . Salah ya ternyata, haha….

  • […] of conduct”, aturan main, dalam melayani konsumen. Dan seperti yang saya ceritakan di artikel saya sebelumnya, semua perasaan pribadi harus disimpan rapat-rapat saat bekerja. Semua karyawan, harus menampakkan […]

  • zainuri says:

    banyak nggak orang Jepang yang munafik? maksudnya sungkan sama atasannya. padahal atasannya itu salah. misal jika dibiarkan akan menjerumuskan semuanya dalam masalah tapi takut memberi masukan karena senangnya bicara yang menyenangkan saja. Bukannya orang Jepang itu malah kritis konstruktif?

    • Ada mekanisme menyampaikan pendapat di tataran organisasi jepang. Mekanisme itu melalui budaya nomikai (飲み会), “pertemuan minum-minum”. Di pertemuan itu, tidak ada batasan antara atasan dan bawahan. Dengan media “sake”, semuanya terbuka lebar, termasuk kritik, curhat bawahan ke atasan, kemudian sharing antara pensiunan perusahaan dan karyawan baru, semuanya ada di situ. Budaya ini menjadi wajib, hampir di semua organisasi yang ada di jepang, termasuk di lab / universitas, antara siswa dan gurunya. Setelah nomikai selesai, semua curhatan itu tidak lagi dibahas di suasana formal. Dalam suasana kerja, kembali seperti pola semula, atasan – bawahan, termasuk dengan segala rasa sungkannya.

      Budaya pertemuan non-formal yang sesekali diadakan antara atasan dan bawahan ini bisa diadopsi, tentu disesuaikan dengan kultur dan kondisi sosiologis masyarakat kita. Disinilah terlihat, mengapa kultur perusahaan di Jepang begitu kuat (jika karyawannya bisa mengikuti budaya di perusahaan itu), karena bos tahu detail masalah karyawannya dengan “nomikai” tadi, dan bos tahu bagaimana mengambil keputusan terhadap semua masalah yang disampaikan di nomikai.

Leave a Reply