Jepang, Jawa, dan Norma Masyarakat

MasDab, dalam suatu jamuan keakraban di lab, saya pernah ditanya oleh rekan satu lab tentang alasan memilih Jepang sebagai negara untuk studi. Pertanyaan itu muncul tepat setelah saya bercerita tentang “kodawari” (hal prinsip) yang saya pegang terkait dengan “makanan halal”. Pertanyaan, yang menurut saya waktu itu cukup berat, harus saya jawab dengan elegan. Ia bertanya, “Kamu tahu, di Jepang, apa yang kamu pegang teguh itu akan sangat memberatkan. Kalau kamu memiliki berbagai macam pantangan dalam makanan, MENGAPA MEMILIH JEPANG sebagai negara tujuan belajar? Mengapa tidak ke negara lainnya ?”

Pertanyaan itu benar-benar berat. Ibaratnya, kita ditanya, kalau kamu sudah tahu bakalan susah, kenapa masih nekat juga ngambil resiko? Dan tidak ada cara lain untuk menjelaskannya, selain dengan mengambil langkah soft diplomacy, membicarakan hal-hal yang disepakati, disetujui dan bertoleransi terhadap hal-hal yang berbeda.

Saat itu, saya terdiam sejenak. Saya kemudian menjawab begini, “Saya berasal dari etnis Jawa. Etnis Jawa ini salah satu etnis terbesar di Indonesia. Saat saya mempelajari budaya Jepang, saya temukan berbagai macam budaya Jepang ternyata hampir sama dengan budaya yang ada di etnis kami. Karena itulah, saya memilih Jepang. Saya memilih negara, di mana saya bisa belajar, tanpa harus banyak menyesuaikan diri dengan benturan budaya negara tempat saya belajar”.

Entah apa yang dipikirkan rekan saya waktu itu, ia hanya berujar, “Naruhodo….” (oo…gitu ya). Saya lalu memberi beberapa contoh, tentang bagaimana orang Jawa melambaikan tangan dan menundukkan badan jika ia lewat di depan orang lain yang sedang duduk. Di Jepang pun ada gerakan serupa. Budaya lain, misalnya Aisatsu (salam), dan menganggukkan kepala yang sangat lumrah terjadi di Jepang, di dalam budaya Jawa pun dipraktikkan. Sampeyan akan tahu banyak tentang ini jika Sampeyan pernah hidup di Jawa Tengah atau di Yogyakarta. Bahkan orang yang tidak Sampeyan kenal pun akan menganggukkan kepala dan menyapa, “Monggo……tindak pundi?” (Mari…mau pergi ke mana?). Sebuah sapaan yang mustahil Sampeyan temui di ruwetnya kehidupan Jakarta. Dan di Jepang, saya biasa menemuinya setiap saya membuang sampah di pagi hari. Kebetulan saya tinggal di lingkungan kampung yang agak jauh dari pusat kota Tokyo. Minimal Ohayou gozaimasu (selamat pagi) pasti terucap dari mulut bapak ibu tetangga saya, meskipun saya tidak terlalu dekat dengan mereka. Dan meraka pun akan menganggukkan kepalanya, persis seperti yang saya temui di kampung halaman.

It felt so homy….

Jika Sampeyan pernah ke Jepang dan masuk ke sebuah rumah makan, hotel, atau restoran, Sampeyan akan benar-benar dilayani dengan luar biasa cekatan dan ramah. Saya pernah masuk ke dalam sebuah toko buku, di mana saya mencari sebuah buku berbahasa Jepang. Terus terang, karena saya pertama kali mengunjungi toko buku itu, saya tidak terlalu tahu tata letak buku berdasarkan tema. Saya lalu mencoba minta tolong kepada seorang karyawan, yang saya tahu ia sangat sibuk menata buku-buku yang baru masuk. Tapi tidak ada pilihan lain, karena dialah yang terdekat dengan saya waktu itu. Saya mengawalinya dengan meminta maaf karena saya tahu saya bakalan bikin repot karyawan itu.

Dengan sopan, saya mencoba bertanya, apakah ia bisa membantu saya mengecek judul buku yang ia cari di daftar buku  yang ada, kemudian menunjukkan posisi rak-nya. Apa yang saya harapkan waktu itu sebenarnya cukup informasi posisi rak-nya. Di luar dugaan, ia berlari ke ruang komputer, mengecek semua data buku yang masuk, kemudian mengajak saya mencari bersama. Saya diantar dan buku yang saya maksud benar-benar ia carikan, mulai dari atas sampai bawah rak. Saat itu, untuk kesekian kalinya saya menerima kembali perlakuan dan pelayanan yang luar biasa, di tempat dan waktu yang berbeda.

Buku Japan’s Cultural Code Words, salah satu buku yang banyak membahas kultur masyarakat Jepang dan cara berinteraksi dengan orang Jepang. Buku ini berbahasa inggris, tapi judul topik pembahasan setiap bab ditulis dalam dua bahasa, bahasa Jepang dan bahasa Inggris

Mereka, masyarakat Jepang, mengenal hal ini dengan istilah “Omotenashi”, atau keramahan, kehangatan, kekeluargaan (お持て成し). Kalau melihat akar kanji-nya, ada kanji  “memegang”(持)dan kanji “menjadi” atau “berubah” (成). Omotenashi, lebih banyak dipraktikkan di dunia bisnis karena konsep memperlakukan “konsumen adalah Tuhan” (tidak sekedar “Konsumen adalah raja”). Okyakusama ha kamisama (お客様は神様) adalah prinsip bisnis yang dipegang untuk memudahkan para karyawan mengejawantahkan semua “code of conduct”, aturan main, dalam melayani konsumen. Dan seperti yang saya ceritakan di artikel saya sebelumnya, semua perasaan pribadi harus disimpan rapat-rapat saat bekerja. Semua karyawan, harus menampakkan muka yang ramah dan keceriaan, bagaimanapun suasana hatinya. Di beberapa toko dan minimarket 24 jam, kasir-kasir dan pelayan toko “mengubah suara” mereka menjadi bernada riang saat menyambut konsumen, karena dengan cara itu mereka bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi di hati mereka.

Itu semua jadi alasan saya untuk menjelaskan, kenapa saya lebih memilih Jepang untuk jadi tujuan belajar. Meskipun di semua negara, bibit rasisme terhadap orang asing pasti ada, di Jepang setidaknya tidak akan “ditampakkan” secara langsung, terutama kepada muslimah yang berjilbab, atau kepada orang Asia misalnya. Beda dengan daerah lain, di Arab Saudi, di belahan bumi Eropa, atau Amerika, yang terkadang jamak terjadi pelecehan, ejekan, harrasment, baik dalam bentuk kata-kata atau keisengan. Orang Jepang berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya kepada orang lain karena konsep Heiwa, perdamaian, harmoni (平和). Mereka tidak ingin ada konfrontasi langsung dengan orang lain, hanya karena ketidakmampuan mereka menjaga lidah mereka.

Tak semua budaya Jepang cocok dengan budaya asli bangsa kita. Beberapa budaya yang hampir sama, bahkan mirip, sebenarnya bisa menjadi pemacu kita untuk terus mendalami budaya negeri kita sendiri, dan menemukan yang terbaik untuk Indonesia supaya bisa maju dan berkembang. Jepang, meskipun dihajar oleh bom atom AS, atau terjadinya restorasi Meiji, masih mengikat kuat tradisi asli mereka hingga saat ini, terutama terlihat sekali dalam dunia perusahaan dan bisnis Jepang. Salah satu hal yang membuat orang Jepang bekerja overtime, lembur, dipicu karena rasa malu atas kekalahan mereka di perang dunia ke-2. Mereka ingin membuktikan bahwa “kami belum kalah”. Akirame ga warui, menyerah adalah sebuah keburukan (諦めが悪い). Dan prinsip ini dikulturkan, sehingga menjadi moral. Kultur yang menjadi moral, akan berubah menjadi tolok ukur untuk “menghakimi” siapa yang tidak menjalankan kultur itu.  Dan saya sudah merasakannya, setidaknya di dalam kampus. Mahasiswa paska sarjana, seberapa pun sulitnya topik riset yang sudah ia sepakati bersama pembimbingnya, akan terus berusaha keras supaya ia berhasil mengerjakannya dan menyelesaikannya dengan sempurna.

Kembali kepada perbincangan saya dan teman saya. Ia hanya mengangguk-angguk saja saat saya berceloteh tentang budaya Jawa. Dalam hati saya, saya tidak terlalu peduli apakah ia paham dan tahu apa yang saya bicarakan. Saya hanya berharap, ia tidak terlalu sinis lagi memandang Gaijin, orang asing, (外人), yang selalu diidentikkan dengan orang bule, khususnya bule Amerika. Orang asing, dari mana pun asalnya, bagaimanapun juga setelah ia tinggal di Jepang dan mau memahami budaya Jepang, pasti akan lebih aware, perhatian, dan lebih peka dengan budaya lokal. Dalam proses belajar, wajar jika sekali dua kali terjadi kesalahan, baik dalam perkataan maupun interaksi. Ganbatteimasu (頑張っています), mencoba yang terbaik, itulah yang terpenting dari usaha mempelajari dan memahami budaya lokal. Dan atas usahanya itu, ia layak mendapatkan penghargaan, setidaknya dengan tidak lagi mencela bahwa gaijin selalu tidak tahu dan tidak mau tahu norma yang ada dalam masyarakat Jepang…..

 

 

Be Sociable, Share!
Categories: Japan

3 Comments

  • zainuri says:

    Tulisan yang menarik mas Sunu. banyak kesamaan orang Jepang dengan Jawa, tapi memang kita kurang “mengkapitalisasi” kelebihan kita jadi semangat untuk maju. meng nrimo ing pandum. Sampai saat ini Jepang memang masih menjadi rujukan pengelolaan SDM. Harapannya mas Sunu pulang ke Jogja (Indonesia) bisa membuat tim solid yang mampu mencontoh hal-hal positif. Jangan sampe orang pulang s2 atau s3 trus dibilang terlalu idealis, terlalu semangat, meremehkan bangsa sendiri. lha gimana mau maju kalo dikasih masukan saja sudah apatis…

    Sukses ya mas Sunu…! ditunggu cerita selanjutnya…

    • Masalah besar yang ada di bangsa kita adalah, hilangnya budaya malu, dimulai dari pemimpinnya, kemudian diikuti oleh rakyatnya. Di Jepang, rasa malu ini begitu terkapitalisasi dan sangat sakral, se-sakral sholat di tempat kita, mungkin. Seseorang yang tidak punya rasa malu (misal dia gagal dari tugasnya), sanksi sosialnya lumayan berat. Orang jepang lebih memilih mati daripada menanggung sanksi sosial. Di masa lalu, ada budaya “harakiri” (memotong pinggang dengan samurai). Saat ini, implementasi “harakiri” misalnya : mengundurkan diri dari jabatan secara sukarela dan mengumumkan permohonan maaf di depan publik. Di Indonesia, entahlah….budaya malu ini sudah tidak ada lagi. Padahal Islam jelas mewajibkan ummatnya untuk memiliki rasa malu, karena dengan malu-lah, seseorang bisa mengkontrol dan memposisikan dirinya di masyarakat

  • Yeni Rokhayati says:

    Salam kenal.
    Saya menyukai tulisan2 Bapak.
    Terimakasih.

Leave a Reply