Review Buku Don't Make Me Think : Berpikir Sederhana, Berkarya Luar Biasa

MasDab, pernahkah Sampeyan berpikir, betapa luar biasanya sebuah portal atau website yang membuat Sampeyan ingin mengunjunginya lagi? Jika Ya, berarti Sampeyan memiliki tingkat “usability consciousness”  (kesadaran tentang seberapa bermanfaatnya suatu produk) yang cukup tinggi. Nah, jika Sampeyan adalah perancang produk, tentu Sampeyan menganggap produk Sampeyan sudah layak untuk digunakan konsumen, bukan?

Kenyataannya, belum tentu! Di artikel kali ini, saya ingin mencoba membedah sebuah buku lawas, buku klasik, yang sangat saya kagumi, baik konten maupun penulisnya. [Don’t Make Me Think: A Common Sense Approach to Web Usability] adalah judul buku tersebut. Bercerita tentang bagaimana kita berpikir dan menilai sebuah web, dengan cara pandang seorang ahli usability.

Data buku:

Judul:  Don’t Make Me Think: A Common Sense Approach to Web Usability
Pengarang: Steve Krug
Jumlah halaman: 216 halaman
Penerbit : New Riders Press, 2nd Edition (18 Agustus 2005)
Bahasa : Inggris
ISBN-10: 0321344758
ISBN-13:  978-0321344755
Dimensi produk:  8.4 x 0.4 x 9 inches
Segmentasi pembaca : pengembang web (terutama web designer), programmer web, tim konten dan editor media online, tim marketing, dan khalayak umum yang tertarik dengan “bagaimana mendisain produk dengan pola pikir konsumen”.

Cerita dan komentar tentang buku : 

Awal mula saya berkenalan dengan buku ini adalah saat saya masih berstatus mahasiswa S1 tahun kedua. Saat itu, saya “terpaksa” harus memilih salah satu kemampuan dasar programming, sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban saya karena telah memilih IT (information technology) sebagai pilihan program studi :D. Perkenalan “serius” ini diawali dengan mendalami web programming dan web design (meskipun pada akhirnya, saya memilih untuk fokus kepada programming daripada design). Saat itu saya berpikir, teknologi aplikasi web akan terus berkembang dan memiliki kans yang besar sebagai salah satu ladang untuk mencari penghasilan. Dugaan saya tak sepenuhnya salah, karena di tahun-tahun berikutnya, saya mulai bisa “menghasilkan sesuatu” dari coding :).

Suatu saat, saya berbincang dengan salah seorang rekan yang juga belajar pemrograman web. Dia lebih serius dari saya, terbukti waktu itu saya banyak menerima tips dan saran darinya. Salah satu yang saya ingat adalah, seorang programmer harus mengerti bagaimana konsumen berpikir dan menggunakan web yang kita buat. Kalimat itu begitu “menusuk”. Saya pun terdiam dan berpikir, “Bagaimana caranya ya? Kita kan tidak setiap hari bertemu konsumen? Trus, bagaimana caranya supaya saya bisa tahu apa yang mereka pikirkan saat menggunakan aplikasi web?”

Teman saya pun menjawab dengan satu kalimat singkat, “Baca bukunya Steve Krug. Kalau kamu bisa beli di Amazon, hebat! Kalau tidak, coba cari rekan senior yang punya. Judulnya, Don’t Make Me Think”. Waktu itu, edisi pertama dari buku itu konon begitu larisnya dan menjadi perbincangan di dunia persilatan disainer web. Tepat tahun kedua saya belajar menjadi mahasiswa S1, buku edisi kedua keluar. Tapi yah, apa mau dikata. Harga buku asing begitu mahalnya, apalagi untuk kocek mahasiswa (dan saya rasa untuk kocek dosen juga, sich…hehehe).
Lalu bagaimana ceritanya, saya bisa mendapatkan buku itu dan membacanya?

Ternyata, penantian saya tidak terlalu lama. Ada rekan yang berbaik hati mau saya titipin pesenan untuk fotokopi buku tersebut. Si empunya buku pun berbaik hati, buku aseli-nya boleh difotokopi (makasih yo Mas..hehe). Walhasil, jadilah fotokopi hitam putih buku tersebut saya baca. Meskipun saat itu ada kekurangan (karena saya tidak bisa melihat halaman berwarna), overall saya menangkap pesan yang disampaikan penulis di buku tersebut.

OK, pemanasan cukup :D. Kita langsung masuk saja ke isi bukunya, ya!
Buku ini bercerita tentang web usability. Apa itu web usability ? Web usability adalah sebuah cabang dari bidang studi human computer interaction (interaksi manusia dan komputer) yang menjelaskan tentang perilaku manusia dalam menggunakan aplikasi web, serta bagaimana sebuah halaman web memiliki fungsionalitas yang mudah dipahami oleh pengunjung web tersebut. Web usability menjadi isu yang sangat penting, karena berhubungan dengan web marketing dan web development. Ujung-ujungnya tentu, bagaimana supaya web kita banyak dikunjungi dan kita bisa meraih keuntungan dari traffic yang tinggi.

Sederhana ? Tidak. Untuk mendisain sebuah halaman web yang khas, mencerminkan visi dan misi perusahaan, ringan, kompatibel di semua browser, dan menarik, sudah cukup membuat pusing web designer. Namun masih ada satu poin lagi yang membuat pekerjaan pengembangan web menjadi tidak sederhana : bagaimana membuat pengunjung merasa nyaman ketika berkunjung ke web kita dan ingin segera kembali lagi di kesempatan berikutnya.

Poin yang saya garis bawahi di atas sangat berhubungan erat dengan bagaimana kita memahami fungsi kognitif pengunjung web. Aspek teknis disain web tentu sangat membantu, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana memahami pola pikir pengunjung web itu sendiri dan menerapkannya dalam disain kita Hal ini tidak bisa didapat hanya dengan teori dan Steve Krug telah membuktikannya selama 10 tahun (sampai dengan tahun 2005, saat edisi kedua buku tersebut ditulis).

Secara garis besar, Steve Krug menjelaskan poin-poin penting yang perlu diingat saat kita mendisain web (dan uniknya, sebagian dari konsep ini juga berlaku saat kita mendisain slide untuk presentasi! Itulah sebabnya, saya merasa buku ini masih dan tetap relevan sampai kapanpun). Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jangan membuat pengunjung berpikir saat sedang mengakses web Anda.
Satu konsep utama yang ditulis dalam buku ini adalah, jangan membuat pengunjung berpikir saat mereka mengakses web Anda. Berpikir yang bagaimanakah yang dimaksud ? Saya menerjemahkannya sebagai “bingung” dengan tampilan web tersebut. Buat web yang “self-explained“, yang langsung dipahami fungsionalitasnya tanpa harus menuliskan label, misalnya “you can access the next article by clicking this button“. Tentu untuk bisa membuat web yang khas, tapi juga usable, perlu memahami konvensi umum yang berlaku. Krug mencontohkannya dengan konvensi yang digunakan dalam disain koran, dimana headline harus terbentang sepanjang kolom yang dicakup oleh headline tersebut. Konvensi ini berlaku di manapun, dan dalam berbagai bahasa. Konvensi lain, misal untuk website e-commerce, mereka selalu memasang logo “shopping cart” sebagai konvensi umum untuk perintah “beli item ini”.  Memahami konvensi dan menerapkan visual cues yang baik akan mempermudah pengunjung membaca web tersebut.

2. Pahami perilaku pengunjung : Scan, not read!
Pengunjung tidak pernah dan tidak akan mau berpikir terlalu lama saat browsing, karena mungkin mereka tidak memiliki waktu untuk itu. Karena itu, perilaku mereka akan sangat berbeda jauh dari apa yang mungkin dibayankan web designer. Pengunjung membaca web dengan cara scanning (melihat sekilas), sesuai dengan apa yang ada di pikiran mereka. Misal, jika kita ingin membeli tiket pesawat, hal yang pertama kali kita cari di halaman web maskapai tersebut adalah “bagaimana saya bisa memesan tiket tersebut secara online, untuk waktu yang telah ditentukan?”. Seiring dengan munculnya pikiran tersebut, sudah seharusnya web maskapai menempatkan fasilitas booking online sebagai prioritas utama.

Saya mengandaikannya dengan salah satu contoh, website Air Asia Japan (saya tidak dibayar oleh Air Asia dan sama sekali tidak ada tujuan promosi). Di bagian kiri web tersebut, tersedia fasilitas untuk pemesanan online. Di bagian kanan, tersedia informasi yang eye catching, promosi besar-besaran tiket liburan dengan harga miring. Hal ini sudah barang tentu disesuaikan dengan kondisi kognitif pengunjung, yang mayoritas membaca dari kiri ke kanan.

3. Pengunjung mengakses link tanpa pertimbangan yang terlalu serius
Saat mengakses sebuah halaman web, pengunjung cenderung mengakses halaman web tanpa pertimbangan serius, karena sekali mereka mengakses halaman yang salah, mereka bisa dengan mudah menekan tombol “back” di bagian kiri atas browser untuk kembali ke halaman sebelumnya. Hal ini bukan tanpa konsekuensi. Jika pengunjung terlalu sering melakukan kesalahan (karena mereka merasa tidak pernah menemukan apa yang mereka inginkan), mereka cenderung menyalahkan diri sendiri dan merasa enggan untuk kembali berkunjung ke web tersebut. Mereka merasa kesulitan untuk memahami struktur web dan merasa bahwa web tersebut terlalu “canggih” untuk mereka. Dalam hal ini, pengembang web perlu berpikir keras, bagaimana membantu pengunjung menemukan apa yang mereka maksud dan mereka cari, tanpa harus berpikir terlalu serius. Sebagai aturan umum:
3 kali klik halaman web (yang tidak ambigu, jelas) tanpa pertimbangan =1 kali klik yang memerlukan pemikiran serius. Oleh karena itu, sudah sepantasnya web developer mempertimbangkan pengembangan web dengan konsep seminimal mungkin klik yang diperlukan oleh pengunjung untuk sampai pada konten yang mereka maksud.

4. Akses web = berbelanja di Mall
Kita tumbuh dan berkembang dengan kebiasaan yang kita bawa sejak kecil. Jika sejak kecil kita sudah tahu bagaimana cara mencari barang di toko atau berbelanja di mall, ketika kita menggunakan sistem belanja online pun kita akan memperlakukannya dengan cara yang sama, sebagaimana kita berbelanja di dunia nyata. Misalnya, ketika kita ingin mencari pakaian pria (jas / pakaian kantor resmi), tentu kita akan datang ke (1) Bagian penjualan pakaian –> (2) Bagian pakaian pria –> (3) Pakaian resmi (kemeja, jas, dst). Cara lainnya, adalah dengan bertanya langsung ke konter informasi, kemudian dari sana kita memperoleh petunjuk untuk mengakses lokasi yang kita tuju.

Pola pikir seperti ini akan kita bawa saat kita mengakses halaman web, terutama web e-commerce. Pada saat ingin berbelanja, bisa saja kita masuk melalui bagian-bagian yang telah diklasifikasikan, sebagaimana cara kita mengakses pakaian resmi pada contoh di atas. Kemungkinan kedua, dan ini kemungkinan yang paling besar, adalah dengan menggunakan fitur SEARCH. Steve Krug menjelaskan, betapa krusialnya fitur ini dan bagaimana developer harus menaruh perhatian penting, baik disain maupun fungsionalitasnya. Lebih jelasnya, bisa langsung dibaca di buku tersebut (terlalu panjang untuk diceritakan di sini).

5. Prinsip-prinsip utama disain web
Dalam menggunakan komputer desktop, seorang pengguna umumnya duduk pada jarak 40-60 cm (atau satu jangkauan lengan manusia dewasa). Jarak ini, dalam riset human computer interaction, disebut sebagai personal space (0-1 meter), di mana barang yang berada di sekeliling kita masih bisa kita jangkau dengan lengan kanan atau kiri kita. Dalam jangkauan lengan tersebut, ada hal-hal yang  perlu kita perhatikan:

  • Logo website (atau logo perusahaan), apakah bisa kita lihat dengan jelas ?
  • Judul halaman web tersebut, bisakah kita lihat dengan baik
  • Navigasi dan sub-navigasi dari halaman web
  • Bisakah kita meng-indentifikasi, di halaman apakah kita sekarang ? Dan bagaimana kita bisa kembali ke kategori di atas halaman yang kita lihat saat ini ?
  • Bagaimana kita bisa mencari konten yang kita inginkan saat itu juga ?
  • Bagaimana konten dan tagline dari halaman tersebut ? Apakah terbaca dengan jelas dan apakah ada hubungannya dengan judul utama ?

6. Uji usability untuk web : WAJIB!
Sebelum kita benar-benar menggunakan web atau portal yang kita kembangkan, ada baiknya kita melakukan uji usability dari web tersebut. Hal ini penting, karena bagaimana pun kita akan berinteraksi dengan banyak orang dan komentar adalah hal pertama yang harus kita perhatikan, selugu dan sebodoh apapun komentar itu!  Seberapa banyakkah orang yang perlu kita libatkan dalam uji usability ini? Steve Krug menyebutkan 3-4 orang cukup dan peserta tes tidak perlu tahu konten dari web Anda, karena web yang baik seharusnya bisa diakses dan digunakan oleh siapa pun. Untuk pengujian ini, Steve Krug mengarang buku kedua berjudul Rocket Surgery Made Easy: The Do-It-Yourself Guide to Finding and Fixing Usability Problems. Saya sendiri belum membaca buku ini. Jadi, saya tidak bisa berkomentar terlalu banyak.

Secara umum, buku ini saya rekomendasikan untuk segmentasi pembaca yang sudah saya sebut di atas. Bahkan, saya yang sudah beberapa kali membaca (terutama bab-bab awal), merasa menemukan hal baru setiap membaca buku ini. Meskipun fokus aktivitas akademik saya saat ini tidak lagi di dunia aplikasi web, namun saya masih tetap mengikuti dan memiliki ketertarikan yang besar terhadap dunia aplikasi web, terutama user interface. Kelemahan dari buku ini, yang barangkali hanya didapatkan oleh mereka yang tidak berbahasa Inggris secara native, adalah beberapa idiom dan joke berbahasa Inggris (american english) yang ditulis oleh Steve Krug untuk memberi sentuhan personal  pada buku. Idiom dan joke tersebut mungkin tak mudah untuk dinikmati oleh mereka yang tak terbiasa dengan american english. Namun dengan memberi sentuhan personal, buku ini menjadi tidak seserius konten yang sedang dibahas dan pembaca menikmati gaya bahasa yang lebih mengalir, ringan, dan cukup gaul :).

Kesimpulan akhir setelah membaca buku ini adalah: web developer perlu lebih berpikir tentang konsep disain dan fungsionalitas web yang sedang mereka kembangkan. Kreativitas tidak seharusnya menghalangi kesederhanaan. Berpikir sederhana, berkarya luar biasa! 

Oya, sebagai tambahan, silahkan baca juga review lain di sini:

1. Revisiting Don’t Make Me Think (Tiffany Jones Brown)

2. “Don’t Make Me Think” Makes Me Do A Little Thinking (Lucia Tolosa)

3. Quick Review : Steve Krug’s Don’t Make Me Think (Mike Hochanadel)

4. Amazon.Com Customers’ Review

Be Sociable, Share!

Leave a Reply