Peringkat perguruan tinggi Indonesia di Scopus

(Courtesy vhforge.com)

Liga Scopus, ternyata tak separah PSSI dan KPSI. Kalau internet ramai membicarakan Roy Suryo dan kisruhnya sepakbola Indonesia, saya mengira ada yang lebih sedap lagi untuk diperbincangkan oleh mahasiswa dan khalayak perguruan tinggi. Apalagi kalau bukan peringkat publikasi internasional?

Tulisan ini, adalah hasil keisengan saya mempermainkan input di Scopus. Hasil analisa saya, tentu saja sangat subyektif dan tak layak dijadikan suara resmi institusi apapun. Pun, tidaklah seramai peringkat Webometrics yang sering dipublikasi di media massa. Tapi saya berharap, semoga kita segera melek  dan sadar, bahwa gaung world class university itu perlu parameter keluaran yang jelas, readable, dan bisa mengisi metrics-metrics semacam ini. Apalagi kalau bukan publikasi ilmiah? Web yang lengkap, ramai, bermanfaat, memberikan bahan kuliah secara gratis, tentu sangat bagus. Tapi publikasi ilmiah pun tak kalah penting, karena publikasi adalah salah satu bentuk riil kontribusi kepada ilmu yang kita tekuni, dan kepada komunitas yang menekuni bidang ilmu yang sama. Masalah pemilihan internasional atau lokal, itu masalah pilhan sejauh mana hasil penelitian kita ingin dibaca oleh khalayak. Semakin besar audience yang kita inginkan, maka mau tak mau, suka atau tak suka, kita mengalah dengan kesepakatan bersama: menceritakan apa yang kita lakukan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh seluruh bangsa.

Sebagai pengantar, tulisan ini muncul karena ketidaksengajaan saya melihat posting FB Dr. Noor Akhmad Setiawan. Beliau, mencoba membandingkan produktivitas riset universitas-universitas di Indonesia dengan negara tetangga. Postingan yang menurut saya cukup eye catching ini memunculkan satu pertanyaan besar, bagaimana caranya supaya kita bisa mendapatkan data-data publikasi yang begitu rigid itu? Ternyata, jawabannya ada di Scopus, sebuah database indexing publikasi yang cukup dipercaya sebagai salah satu tolok ukur bonafidnya sebuah publikasi, sekaligus sebagai salah satu penyedia metrics publikasi di seluruh dunia. Sayangnya, Scopus tidak bisa diakses dengan jaringan umum, hanya bisa diakses dari institusi resmi yang berlangganan.

Untuk itu, saya mencoba membuat rangkuman dan analisa kecil-kecilan tentang bagaimana performance universitas di Indonesia. Saya memulainya dengan membandingkan universitas di Indonesia dengan negara tetangga. Kemudian, saya akan membahas sepuluh besar jawara Scopus di Indonesia. Pembahasan berikutnya, masuk pada tiga besar juara Scopus, mulai dari pola bidang ilmu yang mendominasi publikasi, sampai dengan pengaruh kolaborasi antar institusi. Tak sabar ? Simak paragraf selanjutnya!

Gb. 1. Perbandingan produktivitas publikasi perguruan tinggi di Indonesia
dan negara tetangga

Gambar pertama adalah perbandngan publikasi perguruan tinggi di Indonesia dengan perguruan tinggi di Thailand, Malaysia, dan Singapura. Data ini saya peroleh dari Dr. Noor Akhmad Setiawan, yang telah berbaik hati mengirimkan file XLS-nya langsung :). Dari data ini bisa kita lihat, kita masih jauh sangat tertinggal dengan universitas di negara tetangga. Secara kasar, dengan melihat universitas yang menduduki rangking pertama, bolehlah kita bilang, jumlah publikasi kita adalah:

13,9% jumlah publikasi Thailand
13,8% jumlah publikasi Malaysia
3,7% jumlah publikasi Singapura

Hehe….menarik bukan?  Bahkan tak sampai 50%. Bisa jadi, ini karena peneliti kita banyak berkarya di negara lain, atau memang menggunakan nama institusi yang berani menyediakan alokasi dana penelitian. So, masalahnya bukan pada para peneliti itu sendiri , tapi bagaimana negara mengelola fakta ini dan menindaklanjutinya, serta membuat prosedur pelaporan penelitian (dan keuangannya) se-simpel mungkin. Di sini, level kebijakan nasional sangat menentukan mau ke mana arah penelitian negara ini. Apakah sekedar untuk memenuhi kebutuhan lokal dan nasional? Atau bagaimana? Sekedar informasi, profil dan portofolio sebuah universitas, salah satunya ditentukan oleh publikasi ilmiah yang dihasilkan. Saya ndak kebayang, bagaimana jadinya nanti saat terjadi era di mana orang-orang luar negeri, khususnya Asia Tenggara, bebas mencari kerja di Indonesia dan sebaliknya. Mungkin, bisa jadi kita akan terdongkrak, atau sebaliknya. Pun, tak terbayang bagaimana adik-adik saya nantinya lebih memilih sekolah di negara tetangga. Dengan uang yang sama, mereka mendapatkan fasilitas dan ilmu yang lebih komprehensif.

Ada kisah menarik, saat saya masih sekolah di Thailand. Saya pernah ditanya, mengapa sekolah di Thailand untuk bidang teknik elektro? Bukan di Jepang atau negara lain? Saat itu, saya bingung menjawabnya, karena data empirik-nya tidak saya miliki. Tapi saya yakin dalam hati, bahwa Thailand, Malaysia, atau Singapura tak kalah bagus dengan negara maju di Eropa, Amerika, atau Asia Timur. Pun keunggulan lain, negara-negara di Asia Tenggara menawarkan iklim tropis yang lebih bersahabat :). Mungkin kalau saat ini muncul pertanyaan serupa, saya bisa lebih pede menjawab :).

Gb. 2. Sepuluh besar peringkat universitas di Indonesia

Lanjut ke gambar kedua, kita bisa melihat bagaimana peringkat sepuluh besar universitas dan lembaga penelitian di Indonesia. Unik-nya, NAMRU (yang sempat ramai menghiasi media massa), masuk dalam urutan sepuluh besar. Bukan hal yang sepele, mengingat dananya dari luar negeri. Peringkat pertama sampai ketiga, bisa kita lihat sendiri. Jawara-jawara yang namanya sudah akrab di telinga. Di gambar ketiga kita lihat bidang studi yang mendominasi publikasi tiga universitas di Indonesia.

Gb. 3. Statistik bidang studi yang mendominasi
publikasi internasional di UI, ITB, dan UGM

Kita mulai dari kiri ya! Sebagaimana kita ketahui, Universitas Indonesia (UI) sangat terkenal di bidang kedokteran dan farmasi-nya. Hal ini rupanya dikonfirmasi oleh publikasi ilmiah yang dihasilkan. Kalau kita lihat, jumlah publikasi ilmiah dengan topik medicine mendominasi dengan persentase mencapai 30%. Tingkat kedua adalah engineering atau teknik dengan persentase 19.8%.

Lain halnya dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), yang memang mengkhususkan diri di bidang ke-teknik-an. Tentu, publikasi didominasi oleh topik engineering dengan persentase 23.4%. Universitas Gadjah Mada, sebagaimana ITB, didominasi oleh publikasi ilmiah di bidang ke-teknik-an dengan persentase 26.8%. UGM, didominasi oleh publikasi dari bidang “lain-lain” sebesar 26.8%. Urutan kedua ditempati kedokteran sebesar 17.5%. Hal ini sesuai dengan perkiraan. UGM memiliki fakultas teknik dengan kapasitas dan jumlah jurusan yang cukup besar, sehingga linear dengan perolehan publikasinya.

(terima kasih untuk Erfath yang telah melakukan koreksi atas artikel ini )

Gb. 4. Data publikasi ITB

Gb. 5. Data publikasi UI

Gb. 6. Data publikasi UGM

Gambar 4, 5, dan 6 menunjukkan data lebih lengkap tentang publikasi dan kolaborator dari tiap universitas ini. Menariknya, ITB selain melakukan kolaborasi dengan universitas di luar negeri, juga melakukan kolaborasi bersama LIPI. Di UI, peringkat kolaborator terbanyak justru ITB. Sedangkan di UGM, tidak ada satu pun institusi dalam negeri yang masuk dalam lima besar kolaborator. Satu hal lagi yang menarik dari data ITB adalah, sumbangsih terbesar ternyata dari konferensi internasional yang sudah di-indeks oleh Scopus. Mungkinkah alokasi dana konferensi luar negeri cukup besar di ITB? Wallahu a’lam. Barangkali nanti ada pembaca yang bisa mengkonfirmasi :).

Apa yang bisa kita ambil dari sedikit iseng-iseng ini ? Bagi saya pribadi, fenomena kolaborasi antar institusi dalam negeri ini menarik, karena dengannya dana penelitian dari negara tidak akan “lari” ke luar negeri. Selain itu, kolaborasi dalam negeri setidaknya menghilangkan kendala bahasa, bukan ? Kenapa tak pernah terpikirkan oleh universitas lainnya? UGM misalnya ? Berapa paper yang ditulis bersama dengan peneliti dari BPPT atau dari LIPI?

Poin kedua, adalah fenomena ITB dan konferensinya. Mengapa begitu banyak paper ter-indeks di Scopus berasal dari konferensi? Adakah dukungan dana khusus bagi para peneliti untuk hadir di seminar internasional ? Apakah ada korelasinya, antara kehadiran di seminar internasional dengan jumlah paper yang dihasilkan? Kita bisa melihat, meskipun jumlah fakultas di ITB lebih sedikit dari UGM atau UI, jumlah paper yang dihasilkan lebih banyak. Apa yang melatarbelakangi hal ini?

Pengelola kebijakan yang baik tentu harus serius melakukan riset tentang fenomena ini. Saya pikir label tidak begitu penting. Universitas kelas dunia, bertaraf internasional, national class, city class…dan lain sebagainya, saya pikir tidak terlalu berperan di Scopus. Kalau pencitraan, mungkin iya. Sayangnya, citra saja tak cukup. Masyarakat butuh portofolio. Butuh rekam jejak yang serius. Stanford university tak pernah melabeli dirinya dengan embel-embel apapun. Letak kampusnya pun tak terlalu “strategis”. Bukan di kota besar atau di kota perdagangan. Tapi mereka mampu “bicara”.

Mungkin tinggal menunggu si Willy (baca: good will)….. :D

Be Sociable, Share!

15 Comments

  • Erfath says:

    Maaf, pak. Kalau saya liat yang di pie chartnya UI engineering 9,5% dan yang UGM sepertinya yang 26,8% itu masuk kategori “Others”/”Lain-lain”. Yang ke-teknik-an itu yang 8,5%.

    • Terima kasih mas. Iya betul, saya salah baca. Warnanya memang hampir mirip, terutama yang biru itu. Ternyata UGM masih ‘warna-warni’ ya, yang dominan. Setelah itu baru kedokteran/medicine….

  • Margareth says:

    Kalau menurut saya, salah 1 penyebab ITB jumlah publikasinya banyak adalah topik penelitian tugas akhir mahasiswa dibuat dalam jurnal. Jadi mahasiswa tersebut yg membuat jurnal sendiri dgn bimbingan dosen pembimbing. Jurnal ini sendiri kemudian diikutkan ke dalam seminar2 lokal terlebih dahulu. Kemudian baru pelan2 diikutkan untuk masuk ke dalam jurnal2 atau publikasi internasional lainnya. Dukungan dosen kepada mahasiswa untuk penulisan jurnal juga besar. Mengingat kalau sampai masuk publikasi internasional, bukan hanya nama mahasiswa kan yang masuk, tetapi juga nama dosen dan yg terpenting mengangkat nama universitas itu sendiri.

    • Hakiki says:

      Ini benar Mbak Margareth, di ITB mahasiswa S1 sudah dikenalkan dengan yang namanya paper, merangkum paper, bikin presentasi dari review paper, mengkritisi paper, dsb. Praktikum kalau di Perminyakan ITB, mahasiswa semester 3 sudah ditugaskan untuk merangkum dan diuji pengetahuannya atas sebuah paper sebelum kegiatan praktikum dimulai. Yang paling penting lagi, ITB juga melanggan banyak web/journal yang berbayar, sehingga kita tahu “makhluk” seperti apa sih paper itu.

  • m amien says:

    Assalamu’alaikum, hai Bung Sunu apa kabar? Ratih gimana?
    Yang menarik buat saya justru publisher tempat publikasi itu dibuat. Sebagian besar publikasi ITB yang masuk scopus muncul dari AIP conference. ICEEI conference, mungkin nggak lebih sulit dari pada ikutan JSAP oyo butsuri. Klo mau lebih dalam, harusnya dianalisis dengan memberikan kredit pada jenis publikasi (jurnal or conf), level/cakupan, dan impact factor.
    Tulisan yang bagus…

    • Wa alaikumussalam,
      Sae mas Amien….alhamdulilah.
      Iya mas, memang susah ya menganalisa secara detail. Mungkin hanya Allah SWT dan DIKTI yang tahu (karena tiap tahun ada akreditasi universitas, hehe). Saya sendiri cuman iseng saja awalnya, mempermainkan data Scopus….karena terus terang pengin tahu, bagaimana Scopus “memandang” universitas-universitas di Indonesia dari sisi publikasi :)

  • Albert Sulaiman says:

    Menarik pak…
    menurut saya.. kuantitas lebih dulu setelah itu kualititas mengikuti..dengan sering menulis paper nanti kita akan belajar menulis paper yang semakin bagus dan kualitas penelitian yang semakin tinggi.

  • Bejo says:

    menarik ulasanya. sy pernah jg tengok di univ2 negara tetangga, salah satu yg membuat index scopus mereka tinggi, jg karena mereka punya jurnal yg sdh terindex scopus sejak lama.

  • JayElen says:

    Kualitas keilmuan ditandai dengan jumlah publikasi ilmiah dan patent yang dihasilkan. Dalam hal ini beberapa unibversitas dunia menstandardkan publikasi brdasarkan ISI index ataupun Scopus. Namun dengan semakin ketatnya persaingan antar universitas dunia (yg ditandai dengan rangking Webometric ataupun THES) maka kriteria kualitas itu semakin tinggi yaitu berdasarkan jumlah citation dan jumlah Impac factor. Bagi sebagian universitas tidak susah lagi utk publishkan karya tulis mereka di jurnal internasioanal berindeks, tetapi untuk mendapatkan jumlah citation tentulah karya tulis harus benar2 baik, terbaru dan memang sangat diperlukan bagi pengembangan ilmu ke depan. bagaimaan dengan Universitas kita, apakah sudah berfikir sampai ke sana?

  • Ikuti says:

    Mengenai pertanyaan kenapa banyak publikasi itb yg terindeks scopus berasal dri aip conference jawabannya bukan krena bnyak dana utk conference. Tapi seperti yg kita ketahui banyak universitas kita yg mengadakan conference international, tapi sayangnya mereka hanya membuat proceeding seadanya. Nah sedangkan beberapa tahun belakangan ini teman2 dosen di ITB cukup jeli untuk mengajukan proceeding conference yg mereka buat agar dapat terakreditasi oleh penerbitan milik komunitas seperti AIP tadi. Entah bagaimana mekanisme supaya bsa memasukkan proceeding ke penerbitan milik AIP, Namun yg pasti dengan begitu karya2 teman yg ikut conference dapat diakses di jaringan AIP yg jg diindeks oleh scopus.

    • Terima kasih sudah berkunjung,
      Masukan yang sangat berharga untuk universitas lainnya pak. Memang perlu ada sinergi antar universitas, setidaknya kalau memang mau “naik secara nasional”, harus saling berbagi, “bagaimana mengoptimalkan publikasi di universitas yang satu dan yang lainnya”.

      Salam,

      Sunu Wibirama
      Tokyo, Jepang

  • Sri Harjanto says:

    Mas Sunu, terima kasih banyak info perbandingan publikasi dan paten beberapa PT Indonesia dan regional. Sepertinya data publikasinya masih dicampur antara paper dalam prosiding konferensi yang terindeks dengan paper dalam jurnal terindeks ya?

    Kalau bisa dipisah, akan lebih menarik dalam mengamati komposisi produk diseminasi riset masing2 PT. Pada beberapa kondisi, paper yang dipublikasi dalam prosiding masih dinilai lebih rendah bobotnya dibanding paper yang dipublikasi dalam jurnal, meskipun sama2 internasional dan terindeks.

    • Terima kasih sudah berkunjung,
      Betul pak, memang data itu disediakan secara mentah oleh Scopus. Agak susah juga ya untuk memilah, karena memang tidak ada fiturnya. Semoga besok Scopus menyediakan fasilitas indexing yang lebih mantap

      Salam,

      Sunu Wibirama
      Tokyo, Jepang

  • Rino says:

    Matur nuwun saget infonya Mas Sunu, apakah mas Sunu tahu bagaimana caranya supaya jurnal lokal dapat diindeks di scopus ya?

Leave a Reply