Blusukan-nya PM Naoto Kan, Tak Hanya Jokowi

[Gambar courtesy Kompas, 23 Maret 2011]

Di Indonesia, sedang ramai istilah ‘blusukan’. Blusukan, yang diambil dari bahasa Jawa, memiliki arti bepergian ke pedalaman atau daerah yang jarang dikunjungi. Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, menghiasi media massa karena sering mengadakan kunjungan mendadak untuk memeriksa kondisi lapangan langsung. Beberapa pihak, anggota dewan, politikus, pengamat, berkomentar positif maupun negatif. Mereka yang berkomentar positif mengatakan, “Pak Jokowi merombak birokrasi Indonesia”. Mereka yang berkomentar negatif mengatakan, “Ah, Pak Jokowi hanya carmuk, alias cari muka”.

Ada yang menarik di sini. Blusukan bukan budaya baru sebenarnya. Sejak Umar bin Khattab jadi khalifah pun, blusukan sudah dilakukan. Bahkan beliau memanggul sendiri beras untuk ibu dan anak yang kelaparan, yang tidak memiliki bahan untuk dimakan. Bagaimana dengan di Jepang? Saya ambil contoh dari kunjungan Perdana Menteri Naoto Kan ke daerah Fukushima. Blusukan kali ini beda. Beda dengan yang ada di Indonesia. Sampeyan bisa lihat videonya dan simak diskusi mereka……

Sebagaimana kita tahu, Jepang mengalami bencana gempa bumi dan tsunami yang cukup besar pada tahun 2011. Bencana ini disusul dengan rusaknya reaktor nuklir no. 1 di Fukushima Prefecture. Kasus radiasi nuklir ini kemudian merebak ke kota-kota kecil di propinsi ini, dan sebagian besar penduduknya harus diungsikan ke barak-barak pengungsian demi keamanan mereka. Sudah jadi tontonan yang cukup lazim di Jepang, bagaimana pemimpin benar-benar harus turun ke bawah. Gambar di atas, yang saya ambil dari Harian Kompas cetak tanggal 23 Maret 2011 (saya scan langsung dan saya simpan di komputer) menunjukkan Wakil Presiden dari Tokyo Electric Power Co (Tepco) Norio Tsuzumi (berdiri ketiga dari kiri) meminta maaf dengan melakukan o-jigi, menundukkan badan dalam-dalam, kepada para lansia yang harus dievakuasi dari rumah mereka.

Video PM Naoto Kan kena marah warga : 

Ada sebuah peristiwa yang menarik saat PM (perdana menteri) Naoto Kan mengunjungi pengungsi di Ookuma, yang lokasinya dekat dengan Genpatsu (PLTN) Fukushima. Bukannya mematikan kamera perekam, para wartawan terus saja merekam curhat para pengungsi kepada PM Naoto Kan. Percakapan ini cukup menarik, karena mewakili kata hati saya yang dulu pernah jadi korban gempa Jogja tahun 2006. Terasa saat itu, betapa lambatnya respon dari pejabat yang berwenang, sampai-sampai para korban harus membentuk tim relawan sendiri. Saya sendiri selama 2 bulan lebih akhirnya terjun menjadi relawan di daerah Prambanan dan Gunung Kidul, 2 bulan bersama relawan UGM dan 2 minggu bersama Tim Penanggulangan Bencana Jogja. Sudah barang tentu, tidur di tenda dan kedinginan adalah pengalaman yang kami rasakan waktu itu.

Berikut ini sepintas terjemahan dialog dari percakapan di atas. Melihat dari cara para pengungsi mengekspresikan perasaan hati mereka, sudah cukup memahami bahwa kondisi mereka jauh dari layak dan mereka sudah tak tahan lagi dengan apa yang mereka  alami. Terjadi percakapan antara PM. Naoto Kan (N), seorang bapak (B), dan seorang Ibu (I).

Bapak (B): Sudah mau pulang ya? (memanggil beberapa kali)

PM. Naoto Kan (N) : Oh, belum. Apa ada yang mau dibicarakan…..?

Ibu (I) : Kami ini bukan warga kota Ookuma, tapi sebagian besar dari kami adalah pengungsi. Anda tahu tidak, rasanya kalau dicuekin?

N : Mohon maaf yang sebesar-besarnya…

B : Kita-kita ini terus gimana nasibnya? Kita yang ada di sini…..ini yang segini ini (sambil menunjuk sekeliling dia).

: Maaf, maaf, ee…..begini. Tolong ceritakan dulu masalahnya. Saya tidak bermaksud seperti itu.

I : Penduduk dari Ookuma juga penting, akan tetapi kami sudah 1 bulan lebih mengungsi di sini.

N: Dari mana ya asalnya….?

B: (langsung menyela tanpa ba bi bu), kalau dicuekin begitu, terus nasib kami-kami ini bagaimana ?

I : saya sangat sakit hati

N : Saya mohon maaf, karena saya tidak tahu akan hal ini

B: (nada bicara mulai naik, agak marah)
Ya jangan ngomong nggak tahu kayak gitu! Kita ini sudah nunggu dari tadi !
(dengan mata melotot ke perdana menteri)

I : Ini saya bawa cucu. Meskipun sejak Perdana Menteri datang kami sudah nunggu di sini, Anda hanya melintasi jalan ini saja. Tahu tidak, bagaimana perasaannya, kalau cuman dilewati begitu saja ?!

N : saya benar-benar mohon maaf, saya tidak bermaksud seperti itu
Karena saya tidak bermaksud untuk hanya melewati Anda saja

I: Seharusnya Anda bisa dipercaya…
Ternyata Anda tidak bisa dipercaya ya…

N : (beralih perhatiannya dari si Ibu, yang terus bicara perasaan)
(Bertanya pada Bapak) Bagaimana kondisinya ?
Pasti sangat berat, tapi..sudah 40 hari ada di sini

B: sudah cukup ini ! (maksudnya sudah tidak kuat lagi ngungsi)
Senin minggu depan saya sudah tidak akan datang ke sini lagi
Saya punya rumah. Saya juga pengin balik ke rumah!

I : Saya pengin anak-anak kecil ini aman. Pokoknya kami ingin cepat ! Kalau kami nggak ada giliran nggak papa, tapi ini anak kecil harus sekarang. Anda ngomong , “Ya sedang saya kerjakan, ya sedang saya kerjakan”. Benar-benar kali ini tidak melihat ketidakamanan ini ya. Ini semua yang ada di sini ini menderita, ternyata tidak dilakukan juga. Kalau perlu seluruh orang yang ada di DPR itu…..orang-orang itu suruh datang ke sini, suruh melihat dan merasakan kondisi kehidupan yang sebenarnya di sini. Saya pengin tahu pendapat mereka tentang kondisi di sini….

Kami sedang kelaparan (jadi kurus) di sini….
Sudah lebih dari satu bulan kami menjalani kehidupan di sini
Karena itu tolonglah …(si Ibu matanya mulai berkaca-kaca)
Pembangkit nuklir (genpatsu) atau apalah itu namanya…itu tolong diatasi pak !

Itulah. Saya sendiri tercekat ketika mencoba menerjemahkan…..meskipun banyak kosakata yang harus dilihat di kamus. Tak mudah jadi pelayan rakyat.

Semoga kita segera dianugerahi pemimpin yang amanah. Yang siap disemprot oleh masyarakat dan tidak mencari alasan apapun untuk membenarkan tindakannya yang keliru….yang siap bertanggung jawab dunia dan akhirat.

Aamiin Ya Robbal ‘alamiin.

 

Be Sociable, Share!
Categories: Japan

Leave a Reply