Semarak Ramadhan di Thailand – sebuah citizen journalism

Dimuat di harian Republika, 3 Agustus 2011

Islam menjadi sangat istimewa ketika ia dihidupkan di negeri non muslim. Hal inilah yang menjadi kesan saya saat saya menikmati Ramadhan yang kedua kalinya di negeri gajah, Thailand. Masyarakat Thailand mengenal ibadah puasa dengan sebutan lomdhon, tak lain adalah Ramadhan dengan gaya pengucapan Thai. “Sunu, kin kau dy my?” (Sunu, boleh makan tidak?). “My dy, lomdhon na krap” (Tidak bisa, saya sedang puasa), demikian jawab saya setiap kali ditanya apakah hari itu saya bisa makan siang bersama rekan-rekan Thai yang beragama Buddha. Selain beberapa pertanyaan dari rekan-rekan Thai, Ramadhan tahun ini cukup ‘spesial’ karena cuaca di Bangkok dan sekitarnya sangat panas. Namun kami yakin, Allah SWT akan memberikan kekuatan bagi kaum muslimin yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa hanya untuk mengharap ridho-Nya.

Jumlah kaum muslimin di Thailand memang tidak lebih dari 10% dari total populasi, namun Islam menjadi agama mayoritas kedua setelah Buddha. Penduduk muslim Thailand sebagian besar berdomisili di bagian selatan Thailand, di daerah Yala, Narathiwat dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani. Kultur melayu sangat terasa di daerah selatan. Saat Ramadhan, suasana Islami lebih terasa karena beberapa masjid di sana. Berbeda jauh dengan daerah Bangkok dan sekitarnya.

Suasana Ramadhan tidak terlalu berbeda jauh dengan hari-hari biasa. Tidak ada pernak-pernik lampion, apalagi ketupat lebaran. Meskipun demikian, beberapa masjid di Bangkok tetap konsisten menyelenggarakan buka bersama dan solat tarawih berjama’ah yang dihadiri oleh rekan-rekan mahasiswa Indonesia dan warga sekitar masjid. Tentang masjid di Bangkok, ada salah satu masjid yang cukup istimewa untuk masyarakat Indonesia. Masjid itu, tak lain dan tak bukan adalah Masjid Indonesia. Masjid ini adalah masjid pertama yang berdiri atas prakarsa warga Indonesia yang menjadi warga negara Thailand, salah satunya yang sampai saat ini masih ada adalah Ibu Hj. Hasanee, putri dari pendiri Masjid Indonesia. Saat acara kunjungan mahasiswa Indonesia pada tanggal 31 Agustus 2008 tahun lalu, kami menyaksikan sendiri arsitektur Masjid Indonesia yang kecil dan indah, yang bersebelahan dengan sebuah temple kecil tempat ibadah ummat Buddha. Masjid ini menyimpan dua buah kenang-kenangan, berupa jam klasik peninggalan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Warga sekitar sampai saat ini masih menggunakan Masjid Indonesia untuk keperluan ibadah dan penyaluran zakat fitrah maupun infaq dan shodaqoh. Bulan puasa tahun ini, Masjid Indonesia tetap istiqomah menyelenggarakan buka puasa untuk warga sekitar, kaum muslimin Thailand.
 Selain Masjid Indonesia, pusat keramaian ummat Islam di Bangkok adalah di Islamic Center Ramkhaeng. Gedung ini adalah Islamic Center terbesar di Bangkok. Boleh dikata, nafas keislaman Bangkok bermula dari wilayah Ramkhaeng, Khlong Tan, dan sekitarnya. Setiap hari Jum’at digelar pasar barang-barang kebutuhan sehari-hari, bursa makanan halal dan barang-barang lainnya. Buku dan VCD Islami dari Indonesia pun bisa dijumpai di sini, meskipun tidak sebanyak di Indonesia. Saya sendiri sempat terheran-heran saat melihat beberapa VCD Islami dari Indonesia dan Iqro’ terbitan AMM di sini. Islamic Center ini juga menyelenggarakan buka bersama, sholat tarawih berjama’ah dan I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Pada bulan Ramadhan ini, keramaian Islamic Center melebihi hari-hari biasa karena banyaknya ummat Islam yang singgah dan beribadah di sini.

Suasana Ramadhan juga terasa di Ladkrabang, kota kecil 40 kilometer ke arah timur dari Central Bangkok. Kota ini menjadi muslim city di Propinsi Bangkok karena jumlah ummat Islam yang cukup signifikan. Aktivitas Ramadhan berpusat di masjid dan di moslem club yang dibentuk oleh mahasiswa Thailand. Jumlah mahasiswa muslim di kampus saya, King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang (KMITL) tahun ini meningkat tajam hingga sekitar 150 orang. Tahun sebelumnya tidak lebih dari 50 orang mahasiswa muslim. Aktivitas para pelajar ini pun tidak kalah dari rekan-rekan mahasiswa di Indonesia. Mereka menggalang solidaritas dari kalangan penduduk dan pelajar muslim untuk menyelenggarakan ifthor jama’i (buka puasa bersama) setiap hari. Hal ini tentu bukan perkara mudah, mengingat jumlah kaum muslimin yang tidak terlalu banyak dan didominasi oleh para pelajar. Sholat tarawih pun rutin diselenggarakan di moslem club.

Masyarakat Indonesia juga memiliki banyak kegiatan di bulan Ramadhan kali ini. Untuk anak-anak, ada acara Pesantren Kilat yang diselenggarakan oleh Sekolah Indonesia Bangkok dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok. Selain itu, acara buka bersama dan tarawih berjama’ah juga diselenggarakan secara rutin oleh Majelis Taklim KBRI. Di akhir ramadhan, acara I’tikaf dan penyaluran zakat, infaq dan shodaqoh juga akan dilaksanakan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan kali ini, mahasiswa Indonesia juga semakin memperbanyak agenda-agenda bersama. Selain pengajian rutin dan buka bersama, mahasiswa Indonesia juga akan melaksanakan ngabuburit dan silaturrahim bareng ke universitas-universitas di Thailand. Ramadhan di Thailand menjadi sebuah momen yang ditunggu-tunggu oleh seluruh ummat Islam di negeri ini.

Bagi saudaraku sekalian yang akan mengunjungi Thailand pada bulan Ramadhan ini, hendaknya mempersiapkan alat ibadah praktis yang mudah dibawa. Meskipun terdapat banyak masjid, namun untuk melaksanakan ibadah sholat tidak semudah di Indonesia. Selain itu, makan sahur dengan gizi yang cukup amat sangat disarankan untuk menghadapi teriknya cuaca Thailand. Satu hal terakhir yang tak kalah penting adalah menjalin komunikasi dengan rekan-rekan mahasiswa dan warga muslim Indonesia di Thailand karena dari sanalah kita bisa berbagi informasi tentang pusat makanan halal dan lokasi masjid di Bangkok.

Be Sociable, Share!
Categories: WNI di Thailand

Leave a Reply