Di Balik Layar : Proses Eksperimen

Seorang rekan sedang mencoba sistem yang saya kembangkan

Pengantar

Eksperimen yang melibatkan subjek manusia selalu menarik untuk diperbincangkan dan didokumentasikan. Setiap individu adalah unik dan karena keunikan itulah, ada saja kejadian menarik yang saya alami selama persiapan eksperimen ini. Artikel ini, adalah artikel snapshot, dokumentasi cepat dari apa yang sedang saya lakukan secara marathon selama seminggu ini. Saya memasukkan artikel ini ke kategori scientific writing, sembari berharap pengalaman saya ini menjadi pelajaran untuk rekan semua.

Catatan hari ke 1 dan 2

Alhamdulillah, sudah dua hari ini eksperimen berjalan dan beberapa rekan lab bergabung menjadi sukarelawan. Meskipun percobaan dilakukan melibatkan anggota lab yang mayoritas sudah saya kenal baik, ada saja kejadian menarik dan hambatannya. Dua hari ini, sudah cukup memberikan pelajaran bagi saya, tentang pentingnya multiple plan, rencana A, B, C,….dst.

Kejadian pertama, berawal dari prosedur eksperimen yang tidak selamanya pas untuk peserta. Prosedur yang sudah saya rancang dengan rapi, berikut petunjuknya, ternyata tidak terlalu pas diterapkan karena makan waktu. Akibatnya, saya harus memikirkan petunjuk / prosedur yang SANGAT praktis, dan mengurangi porsi berpikir peserta. Kita tak perlu secara detail menjelaskan apa tujuan eksperimen dan apa yang harus dilakukan operator eksperimen. Peserta, sudah seharunya hanya mengetahui apa-apa yang harus ia lakukan selama berlangsungnya eksperimen.

Kelemahan saya dalam menjelaskan istilah-istilah teknis dalam bahasa Jepang memperparah keadaan. Untungnya, saya sudah menyiapkan plan B, yakni dengan mengembangkan software demo yang bisa digunakan peserta untuk “berlatih”, sebelum menggunakan sistem yang sesungguhnya. Software demo ini menjadi sekoci penyelamat saya, karena peserta dengan mudah memahami instruksi saya yang terbatas.

Kejadian kedua yang tak terantisipasi adalah matinya salah satu perangkat kamera. Entah bagaimana awal kejadiannya, di tengah-tengah pergantian sesi eksperimen, tiba-tiba saja hardware yang saya gunakan ngadat. Panik berat, saya mencoba berkhusnudzon bahwa hari ini akan berakhir baik-baik saja. Sambil terus berdoa, saya mencoba memperbaiki sambungan kabel, serta posisi instalasi hardware tersebut. Alhamdulillah, kamera yang saya gunakan bisa digunakan kembali. Saya pun bersyukur, setelah sebelumnya sempat keluar keringat dingin. Saya membayangkan, jika itu terjadi saat kita melibatkan orang luar (bukan anggota lab), tentu butuh penjelasan rinci, mengapa waktu eksperimen molor.

Kejadian ketiga adalah, bertambah dan berkurangnya peserta eksperimen di luar perkiraan. Seminggu sebelumnya, saya sudah membuat janji dengan peserta eksperimen yang mayoritas pelajar S1. Mereka sudah mengisi form pendaftaran, berikut jam hadir eksperimen. Selain pendaftaran resmi, saya juga membuka pendaftaran tak resmi dengan mengandalkan informasi lisan. Menariknya, beberapa peserta yang mendaftar secara lisan justru hadir (yang sebelumnya saya perkirakan tidak hadir), dan peserta yang sudah mendaftar tertulis justru tidak hadir. Hal ini memberikan sebuah pelajaran penting dalam eksperimen yang melibatkan human factor: rekruitlah sebanyak-banyaknya, karena kita tidak akan tahu berapa orang yang akan hadir. Selain itu, kita juga tidak akan tahu mana data yang bagus dan mana data yang mengandung banyak kesalahan.

Insya Allah, akan kita sambung lagi artikelnya, setelah eksperimen selesai. Wish me luck

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

Leave a Reply