10 Alasan Menulis Publikasi Ilmiah untuk Orang Awam

writing_paper

(Picture courtesy of Gwen Dolin Pafford)

Publikasi ilmiah, atau karya tulis ilmiah yang dipublikasikan, seringkali dilandasi dengan alasan teoritis “publish or perish” (publikasi atau musnah sama sekali). Dasarnya adalah mendokumentasikan ide-ide segar, penemuan, atau kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga penulis memiliki klaim di domain publik yang cukup kuat atas ide yang telah ia tulis. Benarkah demikian? Bagi sebagian orang mungkin ya. Tapi kebanyakan dari kita, menulis karya ilmiah kadang memiliki alasan-alasan lain yang lebih sering dijumpai di kehidupan akademis kita. Apa saja?

1. Menulis berdasarkan pesanan

Saya tak malu mengakuinya, bahwa karya tulis pertama saya dimulai dari permintaan pembimbing akademik. Ya, saat itu salah satu dosen di universitas di tempat saya menimba ilmu sedang giat mengajukan berkas akademik untuk menjadi profesor. Saya adalah salah satu anak didik yang mengerjakan proyek penelitian beliau. Beliaulah yang pertama kali meminta saya untuk merangkum hasil penelitian saya menjadi tulisan yang lebih layak untuk dipublikasikan. Secara jujur, beliau bercerita bahwa beliau ingin segera menjadi profesor dan penelitian saya termasuk yang diharapkan menjadi salah satu kandidat pendukung poin kenaikan pangkat akademik beliau.

Saya tak merasa sakit hati dengan hal ini, karena beliau meminta saya untuk menjadi penulis utama. Saya pun mendapatkan keuntungan karena dengan “pesanan” ini saya justru mendapatkan banyak pengalaman yang bermanfaat untuk karir studi doktoral saja. Bagaimana jika itu terjadi pada Anda? Jika Anda mahasiswa, selalu ambil sisi positifnya. Beberapa sisi positifnya adalah:

  • Bimbingan menulis ilmiah yang intensif. Saat itu, saya meminta bantuan beliau untuk terjun langsung membimbing saya menulis jurnal. Karena beliau membebani saya di luar syarat resmi kelulusan kuliah, beliau menyetujui. Alhasil, saya mendapatkan sesi diskusi khusus untuk training menulis publikasi jurnal internasional, yang jelas tidak didapatkan oleh murid-murid lain. Jika itu terjadi pada Anda, jangan lupa : Anda berhak menuntut hal yang sama, sebagaimana yang sudah saya lakukan.
  • Mengetahui seluk-beluk penulisan ilmiah lebih cepat dari yang seharusnya. Saya termasuk beruntung, karena mengetahui proses penulisan jurnal ilmiah lebih cepat dari yang seharusnya. Saya mendapatkan pengalaman menggunakan LaTeX, men-submit manuskrip jurnal, sampai dengan menjawab semua pertanyaan reviewer (dengan bimbingan dari dosen saya langsung).
  • Langkah awal untuk jenjang yang lebih tinggi. Ya, dengan mempublikasi satu karya tulis, Anda memiliki peluang lebih besar jika suatu saat tertarik untuk studi paska sarjana. Kultur akademik yang berlaku adalah : seorang profesor akan menerima murid berdasarkan potensi akademik yang dimilikinya. Jika ia sudah menghasilkan karya tulis yang bermutu, bisa dipastikan itu menjadi salah satu tiket untuk diterima menjadi mahasiswa bimbingannya.
  • Bagaimana dengan manfaatnya untuk karir? Menulis ilmiah itu belajar berpikir terstruktur. Saya bersyukur, sampai saat ini manfaat dari “pesanan” tersebut terasa. Dalam setiap dokumen yang saya kelola, saya selalu berpikir terstruktur dan berusaha supaya pembaca bisa menangkap pesan melalui tulisan yang saya buat.

2. Menulis untuk syarat lulus kuliah

Lagi-lagi saya tak malu mengakui, bahwa menulis karya ilmiah memang untuk lulus kuliah. Saat saya menempuh studi S2, syarat lulus kuliah adalah memenuhi jumlah SKS (sistem kredit semester) yang telah ditentukan, lulus setiap mata kuliah dengan nilai minimal C, membuat thesis, dan memiliki 2 publikasi setara prosiding di konferensi internasional. Bukan syarat yang mudah. Untuk studi S3, saya harus mempublikasi 2 buah jurnal ilmiah dengan level internasional dan memiliki impact factor. Sangat berat, untuk waktu studi 3 tahun. Tapi demikianlah. The show must go on, karena saya sudah mengambil pilihan jalan hidup.

3. Menulis untuk portofolio

Menulis publikasi ilmiah menjadi salah satu aspek penting untuk memenuhi portofolio atau curriculum vitae. Bagaimanapun, seseorang yang telah menghasilkan karya tulis ilmiah terpublikasi melalui proses peer-review telah terbukti mampu berpikir terstruktur sesuai dengan peraturan yang berlaku. Publikasi ilmiah yang dicantumkan dalam portofolio memudahkan seseorang untuk memperoleh beasiswa, kesempatan studi S2 dan S3, bekerja sebagai peneliti, maupun bekerja di ranah industri. Karena itu, jangan pernah menganggap remeh paper-paper yang telah Anda tulis. Suatu saat, paper-paper itu akan menolong kita untuk memperluas peluang karir.

4. Menulis untuk karir setelah paska sarjana

Sebagaimana yang saya sebutkan pada poin nomor 3, publikasi ilmiah mempermudah para lulusan S2 dan S3 untuk berkarir ke jenjang selanjutnya. Bagi lulusan S2, publikasi ilmiah bisa digunakan untuk bekal dasar tema penelitian yang akan didalami saat S3. Bagi lulusan S3, publikasi ilmiah bisa digunakan sebagai salah satu sarana untuk “promosi diri”, dalam rangka memperoleh posisi tenure sebagai dosen di perguruan tinggi atau peneliti di institusi riset. Selain itu, seorang lulusan S3 juga akan merasakan betapa bermanfaatnya publikasi ilmiah untuk mencari peluang sebagai post doctoral researcher.

5. Menulis untuk bekal kenaikan jabatan

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam jenjang karir peneliti dan dosen, salah satu komponen penilaian kenaikan jabatan adalah aspek penelitian dan publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah menjadi salah satu tolok ukur penting untuk peneliti di institusi negara. Sedangkan untuk dosen, publikasi ilmiah mengisi satu dari tiga aspek tridharma perguruan tinggi. 

6. Menulis supaya dikenal sebagai ahli di bidang tertentu

Meniti karir sebagai peneliti atau dosen tak lepas dari branding dan trademark. Dua hal ini sangat dibutuhkan, terutama untuk lulusan S3. Seorang doktor tentu memiliki publikasi ilmiah yang mengandung orisinalitas, pionir di bidang yang ia tekuni, dan memiliki kontribusi signifikan di bidang yang ia tekuni. Jika ia ingin terus menjadi sumber rujukan peneliti yang lain, ia harus mempertahankan predikat “pionir” ini. Mau tak mau, ia harus memperdalam kembali riset-riset yang berhubungan dengan bidang yang ia minati. Selain itu, ia harus memiliki publikasi ilmiah yang sesuai dengan bidangnya. Semakin produktif ia menulis, semakin pintar memilih jurnal yang memiliki impact signifikan, semakin sering ia berkeliling dunia mempresentasikan hasil penelitiannya, semakin dikenallah ia sebagai seorang pakar di bidang yang ia minati. Tak hanya itu, di era “dunia datar”, di mana batas waktu dan geografis ditembus oleh internet, seorang peneliti dan dosen hampir pasti wajib ‘ain memiliki profil atau laman pribadi sebagai sarana diseminasi hasil penelitiannya dan promosi kepada masyarakat luas. Fasilitas Google Scholar pun cukup membantu untuk mengukur seberapa besar sitasi dan pengaruh dari publikasi ilmiah yang telah dihasilkan.   

7. Menulis untuk syarat pengajuan atau syarat laporan dana hibah

Penelitian yang baik tentu harus ditunjang dengan pendanaan yang baik. Untuk mendapatkan dana penelitian, tak jarang seorang peneliti dan dosen harus menulis proposal hibah. Di dalam proposal hibah ini, profil peneliti dicantumkan dengan selengkap-lengkapnya, berikut pengalaman penelitian yang pernah dikerjakan, jabatan akademik yang ia emban, maupun publikasi ilmiah yang telah ia hasilkan. Dengan melampirkan publikasi ilmiah yang memiliki reputasi, peluang diterimanya proposal hibah akan semakin besar.

Di sisi lain, hasil penelitian yang telah dikerjakan biasanya memerlukan pelaporan, baik dari sisi akademis maupun sisi administratif. Dari sisi akademis, laporan yang diserahkan akan menyertakan publikasi ilmiah yang dikerjakan dengan memanfaatkan dana hibah tersebut. Jumlah publikasi ilmiah yang dilaporkan tergantung kontrak antara peneliti dan pemberi dana hibah. Jenisnya pun beragam, mulai dari internal report, conference paper, sampai dengan journal paper. Untuk penelitian jangka pendek (1-2 tahun), biasanya report dan conference paper menjadi salah satu target. Sedangkan penelitian jangka panjang ( > 2 tahun), biasanya report dan journal paper menjadi salah satu persyaratan laporan penelitian.

8. Menulis untuk mendapatkan hadiah kompetisi internal

Demi menaikkan citra dan nilai akreditasi, tak jarang sebuah universitas menjanjikan hadiah untuk para dosen dan peneliti yang berhasil mempublikasikan karya ilmiah di jurnal yang memiliki reputasi tinggi. Di universitas tempat saya menimba ilmu dulu (KMITL, Thailand), iming-iming yang dijanjikan oleh universitas kepada dosen juga dilihat dari impact factor jurnal target. Seorang dosen yang berhasil mempublikasikan paper di jurnal dengan impact factor tinggi akan semakin besar pula hadiah yang ia terima. Berapa besarnya, saya tidak tahu pasti. Tapi tahun 2009, untuk satu jurnal yang termbus ke IEEE Transactions, universitas berani membayar para penulis paper sampai dengan kurang lebih 30 juta rupiah (untuk seluruh penulis, pembagian diserahkan kepada para penulis paper). Tentu masing-masing fakultas memiliki nominal yang berbeda, sesuai dengan anggaran yang tersedia.

9. Menulis untuk mempertahankan gelar profesor

Di Jepang, dan di beberapa universitas di Singapura dan Thailand, gelar profesor bukanlah gelar seumur hidup. Gelar profesor bisa dicabut jika yang bersangkutan tidak bisa memenuhi “tuntutan dan konsekuensi jabatan”, yang tak lain adalah menghasilkan sejumlah jurnal paper untuk kurun waktu tertentu. Untuk mempertahankan gelar profesor, para dosen harus bersemangat melakukan penelitian dan berburu hibah. Setiap universitas memiliki ketentuan yang berbeda, tentang berapa jumlah paper yang harus dihasilkan oleh satu orang profesor setiap tahunnya. Tentu selain peraturan yang dirasa “keras”, ada penghargaan khusus dari universitas untuk para profesor yang berhasil mempublikasikan papernya, sebagaimana dijelaskan di alasan ke delapan.

10. Menulis untuk hobi dan kemaslahatan umat manusia

Mungkin ini alasan paling absurd yang pernah kita dengar. Setiap orang berhak untuk memilih alasan apapun, selama itu memotivasi dirinya untuk menulis. Bagi seorang peneliti senior yang telah bebas secara finansial dan mapan secara karir, alasan ini cukup relevan dan masuk akal. Menulis paper mungkin sama asyiknya dengan mainan Facebook atau Twitter. Ia tak lagi memikirkan alasan-alasan yang terkesan ‘duniawi’, sebagaimana sembilan alasan yang telah dijelaskan sebelumnya. Seandainya setiap orang memiliki alasan seperti ini, mungkin tidak akan ada rebutan hak cipta atau “perang” antar perusahaan di pengadilan. Tapi realitas tak semulus idealisme dan tiap-tiap orang, sekali lagi, berhak memilih alasannya untuk mempublikasikan karya tulisnya. Tak terkecuali Anda, para pembaca semuanya.

Kira-kira, apa alasan Anda menulis dan mempublikasikan hasil penelitian yang telah Anda lakukan? :)

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

5 Comments

  • muhammad rauful mizan says:

    Artikel yang menarik dan tepat pak sunu. Kebetulan no 1 sedang saya jalani. Saya mau bertanya pak sunu… kalau poster itu yang menyiapkan saat hari-h itu kita sendiri atau panitia ya ? Kita yang cetak sendiri lalu kita bawa di hari-h atau panitia yang menyiapkan segalanya ?

  • zainuri hanif says:

    Siip…sipp mas Sunu. Alasan-alasan itu sangat logis kita temui. Apalagi yang kita sebagai peneliti dan dosen yang dituntut update terus… Semoga bisa belajar banyak dari sampeyan MasDab.

  • elvy says:

    tulisan yang bagussssssss………………..

  • Terima kasih, artikelnya sangat membantu…

  • Dunia kepenulisan sangat menarik, karena tidak terbatas ruang dan waktu. Tapi saya punya kendala dalam komunikasi. Saya sudah sering menulis dan baca, entah mengapa gaya bahasa saya kurang bagus sehingga orang sulit mengerti.

Leave a Reply