Mengapa perlu menyusun rencana publikasi saat studi doktoral?


cover

Salah satu tujuan fundamental dari proses penelitian adalah: TRANSFORMASI. Transformasi dari pengonsumsi pengetahuan menjadi pemroduksi pengetahuan. Transformasi dari ketergantungan menjadi ketidaktergantungan. Transformasi dari mahasiswa menjadi kolega. Proses transformasi ini tidak lepas dari satu hal penting yang melandasi penelitian itu sendiri: PUBLIKASI.

Artikel ini saya ambil dari buku yang sebelumnya sudah kita bedah, “How to Write a Better Thesis” (HTWBT) [1, 2]. Di Chapter 12, para pengarang buku memberikan sebuah gambaran yang sangat jelas akan pentingnya rencana publikasi dalam penulisan disertasi doktoral. Apa itu rencana publikasi?

Sebagaimana kita ketahui, mahasiswa doktoral diharapkan melakukan publikasi hasil penelitiannya selama masa studi tersebut. Di Jepang sendiri, mahasiswa doktoral diminta setidaknya mengirimkan satu buah publikasi jurnal internasional. Di beberapa universitas, syarat kelulusan bahkan melibatkan dua atau tiga publikasi jurnal internasional. Bahkan saya pernah mendengar informasi dari rekan yang berada di sebuah universitas Eropa yang mensyaratkan empat buah jurnal internasional dalam waktu 4 tahun. Disertasi doktoral itu sendiri tersusun dari publikasi-publikasi kecil yang sudah kita lakukan. Dengan kata lain, antara satu publikasi dengan publikasi lainnya harus membentuk narasi besar yang perlu disusun secara cermat.

Beban ini luar biasa berat. Lalu, bagaimana mensiasati ini semua?

Para pengarang buku HTWBT mengungkapkan “cara berpikir” yang diperlukan untuk mensiasati persyaratan lulus ini. Cara berpikir yang diperlukan adalah dengan melihat rencana publikasi ini sebagai “tantangan berseri” atau “milestone”, di mana setiap tantangan ini berisi potret dari elemen-elemen disertasi yang sedang dikerjakan.

 Di sinilah makna penting dari supervisor. Dalam buku “Writing for Computer Science” [3], Professor Justin Zobel mengungkapkan “peran penting dari seorang supervisor mahasiswa doktoral”, yakni:

“Area yang membutuhkan keahlian (pengalaman) dari supervisor adalah bagaimana menentukan lingkup dari studi yang sedang dikerjakan. Supervisor adalah orang yang mampu “membagi” sebuah tema studi besar menjadi tema-tema kecil yang memiliki kebaruan tersendiri. Area ini butuh keahlian yang tidak dimiliki oleh orang lain, karena pengalaman akademik dan wawasan supervisor sangat menentukan kesuksesan perannya.”

Dari pernyataan di atas, bisa kita ambil sebuah pelajaran:

  1. Dalam sebuah pekerjaan besar (tema riset S3), perlu ada tema-tema kecil di mana setiap tema tersebut memiliki nilai kebaruan tersendiri (novelty).
  2. Setiap milestone ini menjadi landasan mahasiswa S3 untuk melakukan publikasi dari penelitiannya.

Kembali ke topik tulisan ini, pertanyaan yang biasanya muncul adalah: “Mengapa kita perlu repot-repot membagi tema besar itu menjadi tema-tema kecil? Bukankah akan lebih baik jika kita langsung memikirkan tema besar itu sejak awal?”

Milestone penelitian diperlukan karena beberapa hal ini:

  1. Menulis tema-tema kecil akan mempermudah kita untuk menyusun disertasi / menulis tema besar dari studi kita. Setiap jam dan usaha yang kita curahkan untuk menulis tema-tema kecil tersebut akan mempermudah penulisan tema besar yang kita ajukan dalam studi S3.
  2. Menyusun rencana publikasi dan milestone akan mempermudah kita untuk mendapatkan funding yang bermanfaat : untuk biaya seminar internasional, untuk menyusun proposal penelitian, untuk biaya submission journal, dan masih banyak lagi. Di samping itu, rencana publikasi sangat bagus untuk menentukan di jurnal apa kita melakukan publikasi (jika kita diberi kebebasan oleh supervisor untuk menentukan jurnal yang kita tuju).

Apa saja topik atau kerangka untuk menyusun milestone tersebut? Di sinilah istimewanya para penulis buku. Mereka menawarkan dua buah solusi, masing-masing untuk ilmu sosial dan ilmu sains/rekayasa.

Solusi pertama: 

Untuk ilmu sosial, milestone publikasi penelitian bisa dilakukan dengan memuat tema-tema berikut ini:

  • Pembahasan tentang tema utama penelitian (bisa dengan review paper)
  • Hipothesis lanjut dan latar belakang penelitian
  • Studi pilot (dengan sampel kecil)
  • Studi riil dengan sampel besar dan rekomendasi berdasar hasil studi
  • Relasi tema besar studi, hasil studi riil dengan bidang lain yang berhubungan langsung dengan bidang penelitian kita.

Solusi kedua: 

Untuk ilmu sains atau rekayasa, penulis pun memberikan alternatif:

  • Penyelidikan berjenjang. Semakin tinggi jenjang, metode dan langkah yang digunakan semakin detail. Data yang digunakan semakin besar dan variabel problem semakin rumit.
  • Penyelidikan atas satu tema besar dengan berbagai metode (teknik, algoritma, atau langkah evaluasi).
  • Penyelidikan pada tema-tema kecil yang membentuk kesimpulan atau cara pandang terhadap satu pertanyaan besar.

Kapan dan bagaimana melakukannya?

Ini pertanyaan susah yang lagi-lagi melibatkan peran supervisor. Tapi berdasarkan pengalaman saya pribadi, supervisor memberi target enam bulan pertama masa studi S3 saya untuk menulis satu paper seminar internasional. Enam bulan kedua: jurnal pertama. Enam bulan ketiga: jurnal kedua. Berikutnya ditutup dengan seminar internasional.

Target ini bisa saja berubah sesuai dengan kesepakatan mahasiswa dan pembimbing karena hasil penelitian bisa saja melenceng dari perkiraan. Belajar dari pengalaman kami, setiap awal semester selalu ada evaluasi atas rencana publikasi ini. Saya sendiri mengalami dua kali perubahan rencana publikasi dan alhamdulillah karena saya sudah diminta sejak awal untuk menyiapkan Plan A, B, C untuk topik-topik paper, perubahan rencana publikasi ini tidak terlalu berimbas besar meskipun tema penelitian saya saat ini berubah cukup signifikan dari tema awal yang kami sepakati pada tahun 2011.

Inilah yang membuat studi doktoral berat. Tidak hanya perlu kemampuan teknis dan kemampuan menulis, tapi juga kemampuan untuk melakukan manajemen waktu dan berpikir terstruktur atas apa yang kita kerjakan. :)

Referensi: 

[1] Evans, David, Paul Gruba, David Evans, Paul Gruba, and Justin Zobel. How to write a
better thesis
. MUP, 2011.

[2] Wibirama, Sunu. Apa yang diharapkan dari sebuah disertasi doktoral, 2013

[3] Zobel, Justin. Writing for computer science. Taylor & Francis US, 2004.

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

Leave a Reply