Simulasi skenario riset tanpa dana

research_grant

Tulisan ini bukan tulisan yang serius. Jadi tidak usah terlalu serius pula menanggapinya. Bicara tentang dana penelitian, kata mereka yang sudah berpengalaman: “gampang-gampang susah untuk didapatkan”. Ada yang bilang, para pengambil kebijakan kadang setengah hati mengalokasikan dana riset karena cuma menghasilkan kertas dan ide saja. Lebih baik dibelikan sarana prasarana karena mudah didapat dan bisa dipegang barangnya. Ada pula yang berpendapat karena anggaran kurang, maka dana riset bukan prioritas utama. Ada kalanya juga bisa didapat, tapi dana turun mepet di akhir masa riset, sehingga para peneliti dipaksa menjadi “pampers setengah jadi” untuk menyerap dana riset. Dan berbagai alasan lainnya yang bervariasi jumlahnya.

Saya coba mensimulasikan, bagaimana kondisinya jika riset tanpa dana sama sekali, alias 0 yen, alias 0 rupiah. Asumsinya, peneliti tidak mengambil uang dapur sama sekali untuk keperluan riset. Dan juga simulasi ini dibatasi pada penelitian di bidang informatika atau ke-teknikelektro-an. Kita mulai dari langkah yang paling awal sampai yang paling buncit, yakni publikasi. 

1.
Literatur review dan download paper: karena tanpa dana, lebih baik minta tolong teman untuk mendownload paper. Atau pergi saja ke universitas terdekat, pinjam login kampus untuk mengakses ezproxy. Cara lain, bisa minta tolong di forum-forum internet untuk mendapatkan akses paper dari user forum tersebut. Bisa juga ke perpustakaan terdekat, tapi agak pesimis karena biasanya literatur perpustakaan tidak terlalu up to date. Intinya, bisa saja download paper, dengan cara merepotkan orang lain atau numpang di kampus terdekat.

2. Perangkat lunak: karena tidak punya duit, pakai perangkat lunak open-source saja. Kalau yang open-source tidak lengkap, bisa pergi ke toko persewaan DVD/CD perangkat lunak di Jalan Kaliurang atau Jalan Gejayan (untuk yang di Jogja), tinggal dikopi terus dijalankan crack-nya. Intinya, bisa riset tanpa dana, dengan software bajakan atau dengan software free.

3. Perangkat keras: karena tidak punya duit, ya sudah tidak usah beli perangkat keras. Atau bisa saja dengan cara “kanibal” hardware penelitian sebelumnya. Intinya, agak susah penelitian 0 Yen 0 Rupiah jika melibatkan perangkat keras. “Muri desu”, kalau orang jepang bilang.

4. Buku: peneliti perlu buku, apalagi kalau tema penelitiannya baru. Buku ini bukan keperluan utama, tapi penting. Jika tidak punya duit ? Bisa download ebook bajakan (baca: pinjam di perpustakaan internet). Atau jika kampus memiliki literatur buku yang kita perlukan, bisa kita pinjam untuk sementara waktu. Bisa juga dengan teknik request “evaluation copy” ke penerbit, meskipun tidak ada jaminan akan dikirimkan (mengingat stok untuk promosi terbatas). Intinya, bisa meneliti tanpa perlu mengeluarkan sepeserpun uang untuk buku. Tapi ya itu tadi, kalau tidak “meminjam di internet”, bisa saja “meminjam di perpustakaan untuk dibawa pulang sementara waktu” :D.

5. Publikasi jurnal: setelah riset ada hasilnya, tentu langkah terakhir adalah mempublikasikan hasilnya. Bagaimana jika tidak ada duit? Bisa mencari jurnal internasional yang tak berbayar, meskipun biasanya jurnal seperti ini seleksinya luar biasa ketat karena biaya penerbitan ditanggung organisasi profesi. Bisa juga mencari jurnal open-access, dan juga tak berbayar (meskipun saya yakin sedikit sekali jumlahnya). Intinya, bisa melakukan publikasi tanpa dana, tapi pilihan jurnalnya jadi lebih sempit. Oya, kalau tidak terlalu ambisius, masukkan saja ke jurnal-jurnal lokal. Mungkin bisa mendapatkan diskon 100% kalau kenal dengan pengurusnya. Mungkin.

6. Seminar: selain diseminasi hasil melalui jurnal, peneliti juga perlu mempublikasikan hasil melalui seminar. Jika tidak ada duit? Pilih seminar dalam negeri, dan kalau perlu cari sponsor untuk mengirimkan paper. Saat ini banyak seminar AKAP (antar kota antar propinsi) yang sudah terafiliasi resmi dengan IEEE. Intinya, bisa mempublikasikan paper di seminar, tapi perlu cari sponsor khusus yang mau membiayai biaya perjalanan dan biaya pendaftaran. Kalau tidak ada sponsor sama sekali?  Ya sudah, paper diupload saja di blog masing-masing. Tapi ya, bukan paper seminar namanya…… :D

7. Gaji peneliti : 0 yen 0 rupiah. Wong tidak ada dana kok minta gaji :D

Riset tanpa dana itu bisa. Tapi terbatas dan menguras energi. Juga kadang-kadang menimbulkan “hantu-hantu” di dalam hati, terutama jika menggunakan perangkat lunak yang tidak legal. Jadi sebaiknya memang ada dana. Kecuali kalau kita niatkan riset sebagai hobi harian, seperti koleksi perangko, fotografi, memasak, main musik, nonton wayang, atau mungkin tidur siang. Jika sudah menjadi hobi, uang dapur pun bisa kita hibahkan untuk membeli komponen elektronik dan software. Tapi tentu ada resiko yang lain jika tidak hati-hati. Bisa-bisa bantal tidur dan selimut kita pindah ke luar rumah…..

Sekali lagi, tidak usah terlalu seriuslah. Santai saja. Keep cool, calm, and confident, kata sebuah iklan rokok. Seperti Indonesia itu lho, autopilot pun masih jalan kok :)

Be Sociable, Share!
Categories: Research

2 Comments

  • Arief Hendra Saptadi says:

    Sekedar menambahkan untuk yang no.3, Pak. Kalau penelitinya itu dosen, bisa agak lebih mudah mendapatkan hardware yang diperlukan. Khususnya dari pengalaman saya pribadi sebagai dosen teknik elektro, beberapa cara ini bisa ditempuh:
    1. Mengajukan permohonan ke institusi untuk membeli perangkat keras tertentu alias sama saja dengan mencari sponsor untuk mendanai itu.
    2. Untuk komponen yang generik (seperti resistor, kapasitor dan semacamnya) bisa langsung mengambil saja dari stok lab. Termasuk pula menggunakan perangkat pendukung seperti alat ukur, pencetak PCB dan semacamnya.
    3. Jika ada komponen penting yang susah didapatkan dari toko-toko elektronik atau kalau pun ada juga mahal harganya, bisa langsung meminta free sample dari vendor komponen tersebut.
    4. Membeli komponen dari situs yang menggunakan Paypal sebagai layanan pembayarannya (seperti eBay). Sedangkan dolar dari Paypal itu diperoleh dari “bisnis” online seperti paid-to-click atau hasil monetisasi situs pribadi, misalnya.
    Sekedar berbagi dan semoga bermanfaat :-)

Leave a Reply