Jenis program studi doktoral di berbagai negara

PhD_crop380w

Sebagai seorang mahasiswa doktoral tingkat awal, saya dahulu selalu bertanya-tanya di dalam hati, “Apa sih hakikat dari studi doktoral yang sedang saya jalani? Apa sebenarnya yang diinginkan sebuah institusi pendidikan terhadap mahasiswa program doktornya sehingga ia layak mendapatkan gelar “Dr.”, “Ph.D”, “Dr.Ing.” , “Dr.Eng” atau yang semacamnya. Pertanyaan itu, konyolnya, muncul setelah saya menempuh program doktor di bulan pertama. Tapi “tahu setelah terlambat” masih lebih baik daripada “tidak tahu sama sekali”, bukan?

Apa itu studi doktoral ?

Calon mahasiswa doktoral, atau para dosen yang sedang merencanakan untuk menempuh studi doktoral seringkali berpikir bahwa untuk memperoleh gelar doktor diperlukan sebuah tema penelitian yang ‘luar biasa brilian’ dengan biaya pendidikan yang ‘luar biasa mahal’. Beberapa mahasiswa lain berpendapat, gelar doktor adalah ‘magnum opus’ , sebuah penghargaan dari proses riset panjang yang melelahkan dan berakhir dengan beberapa publikasi jurnal bertaraf internasional.

Gambaran-gambaran seperti ini tidak sepenuhnya salah, namun tidak cukup spesifik untuk menggambarkan studi doktoral yang sebenarnya. Studi doktoral, atau yang lebih dikenal dengan Strata-3 (S-3) di Indonesia, adalah jenjang pendidikan dalam perguruan tinggi yang bertujuan memberikan bekal dasar untuk melakukan penelitian dan membangun kompetensi mahasiswanya sebagai peneliti profesional.  Singkatnya, studi doktoral adalah research training yang berujung pada kompentensi dan profesionalisme seseorang untuk melakukan penelitian.

Lalu, apa saja yang dituntut dari seorang mahasiswa doktoral supaya ia layak untuk menyandang gelar doktor? Sebagaimana program studi sarjana (S-1) dan magister (S-2), program studi doktoral biasanya mensyaratkan mahasiswa untuk melakukan proses penelitian dan menulis disertasi. Empat hal yang perlu ditunjukkan seorang mahasiswa doktor dalam karya disertasi doktoralnya adalah:

  • Penguasaan dan minat yang mendalam atas bidang ilmu yang ditekuni
  • Kemampuan dan pengetahuan yang mendalam tentang proses penelitian dan pemecahan masalah dengan penalaran yang ilmiah
  • Kemampuan untuk melakukan penelitian secara mandiri, mulai dari proses memilih topik penelitian sampai dengan mempublikasikan hasil penelitian
  • Kemampuan untuk mengomunikasikan hasil penelitian, baik secara lisan maupun tulisan, dan menunjukkan kontribusi penelitian tersebut pada bidang keilmuan yang ditekuni dan masyarakat umum.

Seorang mahasiswa doktoral memiliki alasan tersendiri yang mendasari pilihannya untuk menempuh studi lanjut. Bagi seorang dosen, studi doktoral menjadi sebuah kewajiban dan tanggung jawab profesi. Bagi seorang peneliti, studi doktoral merupakan tahapan yang harus dilakukan untuk mendapatkan pengakuan formal atas kompetensinya. Bagi masyarakat di luar dosen dan peneliti, studi doktoral adalah langkah awal untuk membuka peluang kerja di dalam negeri dan di luar negeri. Meskipun pilihan untuk studi doktoral bisa dilandasi oleh berbagai alasan, pertimbangkanlah masak-masak pertanyaan berikut sebelum menjalani proses studi yang sesungguhnya:

“Benarkah saya ingin studi doktoral? Apakah saya sudah mengetahui, bagaimana saya mendapatkan pekerjaan setelah lulus studi? Bagaimanakah peluang kerja untuk lulusan PhD, banyak atau terbatas? Mampukah saya mencintai topik penelitian yang saya pilih, suka atau tidak suka? Mampukah saya mengorbankan waktu luang bersama keluarga demi kelangsungan studi? Mampukah saya menjalani proses studi yang panjang, 3-5 tahun? Bisakah saya mencari sponsor atau beasiswa untuk mendanai studi doktoral saya? Siapkah saya berinteraksi secara intens dengan pembimbing akademik?”    

Pertanyaan-pertanyaan di atas mewakili suasana sesungguhnya yang akan dialami oleh seorang mahasiswa doktoral. Studi doktoral ibarat lari marathon: perlu nafas panjang, ketahanan mental dan fisik, serta persiapan dan evaluasi yang matang. Salah satu kunci kesuksesan studi doktoral adalah keminatan dan kecintaan terhadap topik yang dipilih. Rasa cinta dan minat ini akan berperan besar saat penelitian yang sedang dikerjakan menghadapi masalah, atau pada saat mahasiswa menemui berbagai halangan selama proses studi. Seberat apapun proses studi, keminatan tersebut harus terus dirawat dan ditumbuhkan.

Berbagai tipe program studi doktoral

Studi doktoral di berbagai negara dan universitas memiliki tipe yang berbeda-beda. Meskipun demikian, gelar doktor yang diperoleh seseorang di sebuah negara diakui secara internasional. Beberapa tipe studi program studi doktoral di antaranya adalah:

1.     Program doktoral murni (Full-time PhD program)

Program inilah yang sering dijumpai di berbagai universitas. Sebagian besar proses studi dititikberatkan pada penelitian mandiri. Mahasiswa dibimbing oleh seorang pembimbing akademik (supervisor / advisor / promotor). Proses transfer ilmu dan kemampuan meneliti diajarkan secara bertahap. Di awal studi, mahasiswa akan bergantung pada pembimbing akademik dalam menjalani proses penelitian. Seiring dengan waktu, mahasiswa dituntut untuk mandiri dalam melakukan penelitian dan manajemen waktu. Penilaian kelayakan seorang mahasiswa untuk menerima gelar doktor dilakukan dengan mengevaluasi kehadiran di seminar rutin, frekuensi konsultasi dengan pembimbing akademik, jumlah publikasi ilmiah, naskah disertasi, dan ujian disertasi. Ujian disertasi seringkali terdiri dari ujian tertutup (hanya dihadiri oleh komite penguji) dan ujian terbuka (dihadiri oleh masyarakat umum). Di Inggris dan Jepang, program studi doktoral murni mendominasi kurikulum studi doktoral di universitas. Di Indonesia, beberapa universitas menerapkan tipe program studi ini.

2.     Program doktoral berbasis proyek (Project-based PhD program)

Universitas seringkali bekerja sama dengan pusat studi atau industri dalam sebuah proyek penelitian tertentu. Dana proyek penelitian ini memungkinkan sebuah laboratorium untuk merekrut mahasiswa doktoral, dengan dibimbing oleh dua atau lebih pembimbing akademik. Bila proyek tersebut melibatkan universitas dan industri, pembimbing akademik akan mewakili dua pihak tersebut. Bila proyek tersebut melibatkan dua fakultas yang berbeda dalam satu universitas (sebagai contoh: fakultas teknik dan kedokteran), pembimbing akademik terdiri dari dua orang dosen dari fakultas tersebut. Salah satu kelebihannya: mahasiswa akan terpacu untuk menyelesaikan proses studinya dalam kerangka waktu dan target yang jelas. Salah satu kelemahannya: mahasiswa harus mampu menyeimbangkan pekerjaan yang bernilai akademik dan pekerjaan yang bersifat aplikatif. Pekerjaan yang bernilai akademik inilah yang akan dinilai untuk proses evaluasi studi. Sementara itu, pekerjaan yang bersifat aplikatif dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditentukan.

3.     Program doktoral dengan kuliah (Coursework PhD / Master plus PhD )

Program doktoral ini jamak dipraktikkan di Amerika Serikat. Mahasiswa doktoral akan menghabiskan waktu sekitar satu atau dua tahun untuk menempuh kuliah. Mata kuliah yang diambil terdiri dari topik-topik lanjutan dan topik yang berhubungan erat dengan tema penelitian mahasiswa tersebut. Setelah mahasiswa menyelesaikan kuliahnya, mahasiswa akan menjalani proses evaluasi tertulis dan lisan. Proses evaluasi ini sering disebut sebagai ujian komprehensif atau PhD qualifying examination. Ujian komprehensif lisan dilakukan dengan menguji pengetahuan mahasiswa doktoral terhadap topik-topik penelitian yang berhubungan dengan tema disertasinya. Bila mahasiswa tersebut lolos dari ujian komprehensif, mahasiswa diijinkan untuk melakukan proses penelitian secara penuh. Di Eropa, proses perkuliahan ini diambil sebagai bagian dari program magister (master). Apabila mahasiswa berhasil lulus dalam ujian masuk program doktoral, mahasiswa diijinkan untuk melakukan penelitian untuk menyelesaikan disertasinya.

4.     Program doktoral berbasis industri (Industrial PhD)

Program doktoral berbasis industri lazim diselenggarakan di Eropa. Program ini menggabungkan dua kepentingan: penelitian produk di sebuah perusahaan dan penelitian akademik di sebuah universitas. Sebuah perusahaan biasanya memiliki divisi RnD (Research and Development) yang bertugas mengembangkan produk-produk perusahaan dengan inovasi baru. Untuk menekan pembiayaan riset, perusahaan bisa mencari rekanan universitas yang menyelenggarakan penelitian dengan tema yang serupa. Dengan memberikan skema beasiswa Industrial PhD, perusahaan tersebut bisa melaksanakan pengembangan produk dengan harga yang lebih murah, terjadwal, sekaligus bernilai saintifik. Unsur saintifik sangat diperlukan manakala perusahaan akan mengajukan paten atas produk yang mereka pasarkan. Di pihak universitas, skema kerja sama industri-universitas sangat menguntungkan, terutama dari sisi pendanaan penelitian dan dukungan teknis berupa alat-alat atau laboratorium khusus yang disediakan oleh perusahaan.

5.     Program doktoral berbasis publikasi (PhD by publication)  

Skema program studi doktoral yang juga lazim dilaksanakan di Jepang adalah PhD by publication. Program ini biasanya dilaksanakan berdasarkan kerja sama antar institusi penelitian, antar institusi pendidikan, atau antar institusi pendidikan dan penelitian. Institusi penelitian biasanya mewajibkan seluruh stafnya untuk memiliki gelar doktoral sebagai salah satu syarat untuk menjadi ketua penelitian atau mengajukan hibah penelitian. Meskipun demikian, staf institusi terkadang tidak bisa mengambil cuti panjang (lebih dari satu tahun) dan hanya diperbolehkan mengambil cuti pendek (2-3 bulan). Untuk mengatasi kendala tersebut, dibukalah program PhD by publication yang menitikberatkan proses studi doktoral pada publikasi paper di jurnal-jurnal berkualitas tinggi. Program ini biasanya dilaksanakan dalam jangka waktu 3-5 tahun dengan syarat setidaknya enam publikasi di jurnal internasional.

Be Sociable, Share!

1 Comment

  • Bedok says:

    Pak, bagaimana cara nya menempuh propgram pasca sarjana , bila rencana study program pasca sarjana yang akan ditempuh berbeda dengan program study selama sarjana,
    Saya ingin menempuh S2 Math. Namun S1 saya adalah Geologi

    Wassalam

Leave a Reply