Akuisisi Produk Teknologi oleh Industri

business

Image courtesy of (8plus8techcom)

Sebagaimana kita tahu, salah satu pemasok tenaga kerja IT terbesar di dunia adalah India. Pada tahun 2014, Manila dinobatkan menjadi kota terbesar kedua di dunia yang menyediakan jasa outsourcing IT terbesar setelah Bangalore (lihat data di sini). India dan China menjadi dua negara dengan index viabilitas (tingkat keberlanjutan dan kelangsungan hidup) outsourcing paling tinggi (lihat data di sini). India, lagi-lagi, menjadi negara dengan jumlah start up terbesar setelah Amerika (lihat data ini). Fenomena ini tentunya menjadi pelajaran berharga untuk negara berkembang seperti Indonesia, dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup positif dan diramalkan akan menjadi sebuah negara maju di Asia pada tahun 2030.

Keberadaan internet dan berbagai teknologi yang didukung olehnya memberikan harapan tinggi akan munculnya berbagai macam start up di bidang IT yang, selain menopang ekonomi Indonesia secara makro, juga mampu memberikan lapangan kerja untuk para lulusan perguruan tinggi dengan pendidikan di bidang Teknologi Informasi / Ilmu Komputer. Bila Bangalore dan Manila saja mampu, mengapa Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota lain di Indonesia tidak?

Untuk menginisiasi usaha di bidang IT tentunya bukan hal mudah. Selain survey pasar yang akurat, sebuah produk perlu memiliki branding (merk) yang kuat dan diferensiasi yang cukup untuk keluar dari jebakan “kompetisi”, kalau tidak ingin dikatakan memonopoli pasar. Selain itu, sebuah produk IT perlu memiliki fitur-fitur yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna. Bagaimana memulainya? Salah satu langkahnya adalah mengembangkan produk IT komersial dari universitas.

Universitas, sebagaimana kita tahu, adalah tempat diseminasi ilmu pengetahuan, sekaligus tempat tumbuhnya ilmu-ilmu baru yang berguna untuk kemaslahatan masyarakat. Universitas menghasilkan sumber daya manusia yang (seharusnya) siap guna dan siap dengan iklim industri. Di sisi lain, universitas seharusnya juga menjadi tempat persemaian bibit-bibit baru technopreneur yang siap dengan semangat kemandirian dan prototype produk yang memiliki nilai jual. Setidaknya, di sinilah seharusnya start up IT tumbuh. Dengan bekal pengalaman penelitian yang cukup (melalui skripsi, thesis, atau disertasi), kontribusi peneliti terhadap ilmu pengetahuan dapat dilengkapi, ditambah, diperkaya dengan kesiapan peneliti untuk menyediakan produk IT yang siap diakuisisi oleh industri.

Pertanyaan besar selanjutnya adalah: bagaimana awal proses akuisisi produk teknologi informasi ini ? Bagaimana meyakinkan sebuah industri bahwa produk hasil penelitian kita layak jual ?

Saya ingin berbagai pengalaman yang saya lakukan setahun terakhir. Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI UGM) memiliki sebuah grup riset bernama Intelligent System (i-Sys) yang sangat aktif melakukan riset maupun membuka peluang didapatkannya grant-grant penelitian dan akuisisi teknologi oleh pihak industri. Beberapa peneliti yang tergabung dalam grup riset ini memiliki pengalaman berinteraksi dengan indutri, baik berinteraksi langsung sebagai engineer di bidang RnD sebuah perusahaan besar di Jepang, melakukan proses RnD dengan skema industrial partnership maupun menyediakan proses konsultasi untuk pengembangan teknologi di industri. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, hal-hal penting yang perlu dilakukan untuk pengembangan teknologi “start from zero” sebagai berikut:

1. Kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat 
Mengembangkan produk IT yang bermanfaat untuk masyarakat/pengguna bukan hal mudah. Berbagai pertanyaan terus menggelayuti. Apakah kita harus mengembangkan produk IT untuk pasar yang luas (banyak pemakai) namun bersaing dengan banyak produsen, ataukah kita mengembangkan produk IT untuk konsumen yang sempit (niche) dan tidak banyak produsen yang bermain di bidang tersebut? Saya sendiri masih berusaha mempelajari strategi-strategi yang bisa dikembangkan dengan melihat peluang pasar. Namun jika kita peka, seharusnya kita bisa meramal bahwa tren produk IT di Indonesia ke depan berhubungan dengan :

  • cloud technology dan pervasive computing
  • online/offline healthcare
  • mobile dan web-based application
  • big data, artificial intelligence 
  • location and context-aware application

2. Mencari modal, investasi untuk pengembangan prototype
Modal awal dari bisnis IT adalah kemauan keras. Kenapa saya katakan demikian? Sebab harga laptop, akses internet, dan perangkat bergerak (mobile phone) cukup terjangkau dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Anda bisa membayangkan, 10 tahun yang lalu akan sangat susah untuk mendapatkan laptop dengan harga 3 jutaan, misalnya. Kini, Anda bahkan bisa mendapatkannya dengan harga di bawah 3 juta. Modal kemauan keras, ditambah dengan jaringan kolega yang baik bisa menjadi titik awal untuk memulai usaha. Jangan lupa, beberapa perusahan besar (Bank Mandiri, PT. Telkom, dan sebagainya) menyediakan skema-skema inkubasi untuk pengembangan start up. Salah satunya adalah Jogja Digital Valley. Lalu mengapa tidak mencoba? (Lihat poin 3).

3. Mengikuti pameran dan ajang-ajang perlombaan
Pameran dan ajang lomba menjadi salah satu tolok ukur penerimaan masyarakat / pengguna terhadap ide dan prototype produk IT yang kita kembangkan. Selain itu, pameran juga memberikan spektrum yang cukup untuk membuka mata kita tentang: pesaing-pesaing yang bergerak di bidang yang sama, fitur-fitur yang ada pada produk mereka, bagaimana mereka mengemas produk mereka, pasar yang disasar, dan sebagainya. Menjadi pemenang di ajang-ajang perlombaan bisa menjadi cara yang bagus untuk menarik investor, sekaligus menjadi portofolio yang bagus untuk start up. Contoh bagus adalah NextIn Indonesia dengan produk Lexipal-nya.

4. Membuat publikasi ilmiah
Untuk mahasiswa paska-sarjana, terutama mahasiswa master dan doktor, publikasi ilmiah menjadi salah satu syarat kelulusan. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, publikasi ilmiah menjadi nilai pendukung yang kuat apabila teknologi IT akan diakuisisi oleh pihak industri. Industri akan lebih percaya pada sebuah prototype produk yang telah teruji secara ilmiah atau melalui eksperimen yang bisa dipertanggungjawabkan akurasinya. Publikasi ilmiah juga menjadi salah satu cara untuk meyakinkan pihak industri.  Oya, mengikuti seminar internasional yang bereputasi tinggi dan dihadiri oleh industri juga cukup penting. Saya pernah beberapa kali di-“dekati” secara personal oleh perusahaan di Amerika dan Singapura yang menawar teknologi yang sedang saya kembangkan. Dua perusahaan tersebut tertarik dengan produk teknologi saya saat dipresentasikan di sebuah seminar internasional. Dari beberapa yang berusaha menawar secara langsung, pada akhirnya pilihan saya jatuh pada sebuah perusahaan di Amerika yang tidak hanya membeli teknologi, tapi juga menyediakan peluang untuk industrial partnership pada proyek penelitian yang saya lakukan.

5. Membuat publikasi populer
Selain publikasi ilmiah, publikasi populer dengan demo video atau artikel-artikel yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris cukup penting. Investasi tenaga dan waktu tentunya cukup besar untuk hal ini. Saya pribadi beberapa kali mempublikasikan video beberapa aplikasi yang saya kembangkan melalui YouTube dan beberapa diantaranya menarik minat industri, setidaknya memancing mereka untuk melakukan korespondensi by email.

Lima langkah di atas adalah langkah-langkah riil, nyata, dan sangat mungkin dilakukan oleh kita, baik sebagai mahasiswa, alumni, maupun dosen. Tentunya, tidak ada keberhasilan instan. Semua proses dilakukan secara iteratif dan dari iterasi itulah perbaikan-perbaikan bisa kita lakukan.

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply