Ekonomi berbasis riset dan kualitas pendidikan: belajar dari Finlandia

finland_park

Helsinki park (foto koleksi pribadi)

Catatan perjalanan: Tampere, 16 Desember 2015

Penduduk seluruh Finlandia sekitar 5 juta orang. Bandingkan negara kita yang memiliki “kekayaan demografis” sebesar kira-kira 250 juta orang. Finlandia berhasil beralih dari negara agraris ke negara industri dengan mengeksploitasi sains dan teknologi. Mereka tidak seperti Cina, yang menggandakan produk-produk yang sudah jadi ke harga yang lebih murah. Finlandia lebih mirip Amerika, yang menggunakan riset sebagai basis untuk produk komersial. Alhasil, mereka pernah merajai dunia telekomunikasi dengan Nokia-nya. Merajai game dengan Angry Bird-nya, dan masih banyak lagi.

Hasil ngobrol singkat dengan chief of industrial contact-nya kampus, ada satu hal yang menarik: “Finlandia itu domestic market-nya kecil. Alhasil, kalau kita mau jualan produk, kita harus keluar dari negara ini”

Mungkin ini sebabnya orang Finlandia bisa bicara empat bahasa saat umur mereka 15 tahun: Suomi (bahasa Finlandia), Swedish, English, dan satu lagi biasanya French atau Spanish. Mereka realistis. Manusia-manusia ini perlu dibekali kemampuan dasar untuk bisa survive dan bekerja, bahkan kalau perlu “menjajah” tetangganya dengan produk mereka.

Hasil dari totalitas peralihan ke negara Industri ini berefek ke kualitas pendidikan mereka. Bayangkan, pendidikan dari pre-school sampai S-2 gratis. Guru SD di sini minimal pendidikan S-2. Jangan heran kalau ada mahasiswa S-1 umur 40 tahun. Mereka bukan telat sekolah. Bukan. Mereka sudah punya gelar S-1, S-2 di bidang lain. Mereka ingin belajar ilmu baru dan untuk itulah mereka kuliah.

Dengan pendidikan gratis ini, Finlandia memperkecil gap antara pendidikan tinggi dan pendidikan rendah. Tidak ada gap. Minimalis. Nol, karena semua orang berhak sekolah, tanpa memandang ras, umur, latar belakang, dan kondisi sosial ekonomi. Dengan pendidikan gratis ini, universitas tidak berpikir “merekrut mahasiswa sebanyak-banyaknya supaya kebutuhan operasional tercukupi”. No. Mereka tidak lagi berpikir rasio dosen vs. mahasiswa. Urusan ini sudah beres, final. Mereka tidak menghitung untung rugi, karena urusan finansial mereka sudah selesai. Universitas hanya berpikir, bagaimana kualitas mahasiswa bisa bagus dan bagaimana produk riset mereka berdampak nyata untuk ekonomi negara.

Dengan pendidikan gratis ini, negara memperkecil jurang pemisah antara miskin dan gaya. Inilah konsep welfare state yang ditawarkan oleh mereka. Kalau mau sejahtera semuanya, ratakan akses pendidikan, sehingga tidak ada alasan orang miskin karena tidak memiliki pendidikan yang layak.

Indonesia? Dilirik oleh Jepang, Cina, Amerika, dan negara lain sebagai pasar “ginuk-ginuk”. Gemuk sekali. Ponsel apapun dilempar ke Indonesia pasti ada yang beli. Laku. Dan kita puas sebagai pasar saja. Lalu bagaimana kita mau meningkatkan kualitas pendidikan, kalau anggaran belanja negara saja minus?¬†Kapan kita mau mandiri ? Kapan kita mau memanfaatkan pasar domestik dengan produk kita sendiri?

Saya, sebagaimana masyarakat akademis lainnya, masih percaya bahwa investasi terbesar sebuah negara adalah pendidikan, jika kita menilai manusia sebagai aset paling berharga untuk membangun sebuah bangsa.

Food for thought.
Mudah-mudahan menumbuhkan semangat “wirausaha” juga, setidaknya kalau pendidikan di Indonesia belum gratis, kita tidak terlalu susah payah membiayai anak sekolah.

Bacaan menarik: 

[1] The Key to The Nation’s Success. 2015. Link.
[2] Three Lessons We Can Learn from Finland’s Education Success. Link.
[3] Why Are Finland’s Schools Successful? Link
[4] Why Finland’s Unorthodox Education System is The Best in The World. Link.
[5] Ebook : Finland as a Knowledge Economy 2.0: Lessons on Policies and Governance. Link.
[6] Book by Dr. Pasi Sahlberg: Finnish Lesson 2.0. Link.

Be Sociable, Share!

2 Comments

Leave a Reply