Berapa Gaji Dosen Muda di Indonesia?

wage

Berapa gaji dosen di Indonesia ?
Bisakah kamu hidup sejahtera?

Dua pertanyaan itu beberapa kali pernah saya dengar, terutama saat saya berbincang dengan sesama dosen dari luar negeri. Rata-rata mereka penasaran dengan gaji dosen di Indonesia, terutama dosen muda yang baru saja pulang dari studi lanjut S-3.
Saya biasanya hanya tertawa.

Jawaban saya biasanya begini, “Take home pay tidak hanya datang dari gaji, tapi juga dari bermacam-macam pendapatan di luar itu. Alhamdulillah, selama ini kok saya dicukupkan dengan apa yang saya terima. Mungkin ini rejeki anak shalih, hahaha… “.

Pertanyaan menggelitik itu terkadang muncul kembali saat sedang tidak ada kerjaan (literally, maksud saya ketika mandi, atau makan,  begitu….). Jawaban-jawaban yang pernah saya lontarkan atas pertanyaan itu biasanya berdasarkan asumsi, bukan berdasarkan fakta. Maka belum lama ini, saya mencoba melakukan analisa yang serius tentang gaji dosen muda di Indonesia, subjeknya ya saya sendiri, haha…

Note: masalah take home pay ini sensitif, tidak semua orang mau berbagi tentang berapa rupiah yang ia terima per bulan.  Maka saya mengambil contoh ekstrim saja, data saya ambil dari pengalaman pribadi. Bisa jadi apa yang saya terima tidak jauh berbeda dengan kebanyakan yang diterima oleh dosen-dosen muda lain, terlepas dari di mana ia mengajar dan berapa mata kuliah yang diampu. Bisa juga apa yang saya sampaikan ini berbeda jauh dengan Anda. Kalau Anda dosen dan anak presiden atau anak pengusaha LNG, mungkin uang saku dari Papah dan Mamah Anda jauh lebih besar dari uang saku Pak Menteri Ristekdikti. Bisa juga berbeda karena Anda (mohon maaf) sedang studi lanjut dan Anda terpaksa harus menggunakan uang pribadi untuk membiayai studi Anda. Variabelnya sangat beragam.

Anyway, mari kembali ke perbincangan kita. Singkat kata, saya mencoba melakukan analisa dari sistem payroll kantor yang menyingkap tabir misteri munculnya angka-angka aneh di rekening saya setiap bulannya. Dalam analisa ini, saya mencoba memisahkan antara gaji pokok yang saya terima dan honor-honor lain yang muncul dari aktivitas akademik dan aktivitas struktural. Oh ya, saya lupa bercerita kepada Anda. Selain mengajar, saya pernah diamanahi untuk membantu manajemen kantor sebagai sekretaris bidang akademik. Amanah itu mulai saya terima per 1 Juli 2015 sampai dengan 31 Desember 2015.

Setelah melakukan analisa sederhana dengan Microsoft Excel, muncullah tabel di bawah ini.

Screen Shot 2016-07-23 at 17.25.52

Gambar 1. Grafik Pendapatan Sebagai Dosen PTN dengan Golongan IIIB / Tenaga Pengajar.
Sumbu horizontal adalah nama bulan dan sumbu vertikal adalah besaran pendapatan dalam Rupiah.

Rumus:

Take home pay = gaji pokok + remunerasi

Dari grafik tersebut, bisa kita lihat bahwa gaji pokok (warna biru), remunerasi (merah), dan take home pay (abu-abu) sangat berbanding lurus dengan kalender akademik universitas. Remunerasi yang diterima per bulan biasanya berasal dari berbagai macam aktivitas yang kita lakukan (akan saya terangkan kemudian). Pada bulan Januari dan Februari, seorang dosen harus pintar-pintar mengatur keuangan karena pemasukan yang diterima per bulan tidak lebih dari apa yang tercantum dalam SK Pegawai yang ia terima (literally seperti itu).

Bulan Maret sampai dengan Juli, aktivitas belajar mengajar dan aktivitas akademik secara umum mulai dilakukan. Dengan demikian, remunerasi yang diterima pada bulan-bulan tersebut sangat berbanding lurus dengan seberapa banyak pekerjaan yang harus ia lakukan dalam kurun waktu satu semester. Pekerjaan-pekerjaa selain mengajar/membuat bahan ajar/menguji/membimbing skripsi biasanya muncul dari pengabdian masyarakat (ceramah, seminar), penelitian, amanah struktural, dan kepanitiaan. Masing-masing pekerjaan ini, sekali lagi, sangat bervariasi jenisnya (dan tentunya…..insentif yang didapatkan).

Bulan Juli sampai dengan awal September biasanya diisi dengan libur panjang. Perlu dicatat, aktivitas perkuliahan tidak dilaksanakan, namun aktivitas administratif lain tetap dilaksanakan. Artinya, seorang dosen yang diminta membantu di ranah manajemen kampus sebagai pejabat struktural tetap diwajibkan untuk hadir dan memberikan pelayanan, baik kepada masyarakat umum (orang tua mahasiswa), mahasiswa, maupun dosen dan staf kependidikan. Dari Gambar 1, grafik remunerasi tidak menunjukkan penurunan karena saya mendapatkan insentif dari amanah struktural yang saat itu saya ampu.

Bulan Agustus menjadi istimewa karena adanya Tunjangan Hari Raya dan beberapa insentif lain yang turun (honorarium mengajar selama bulan Februari s.d. Mei). Selain itu, beberapa honorarium dari research grant dikirimkan pada bulan ini. Bulan Desember pun demikian karena beberapa insentif aktivitas mengajar dikirimkan, berikut beberapa insentif lain yang terkait dengan aktivitas akademik (pembuatan bahan ajar dan menguji skripsi / thesis).

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimanakah pengaruh honorarium tersebut pada take home pay? Lebih jelasnya, manakah honorarium yang memberi kontribusi terbesar pada take home pay dosen ?

Tabel 1. Peringkat Top Income komponen remunerasi dosen

Screen Shot 2016-07-23 at 17.05.50

Tabel 1 menjawab pertanyaan tersebut. Pendapatan terbesar selama satu tahun ternyata berasal dari insentif penelitian, baik insentif yang berupa honorarium peneliti maupun insentif yang diperoleh karena beberapa karya ilmiah kita diterima oleh jurnal internasional / seminar internasional terindeks Scopus. Honorarium kedua yang terbesar adalah insentif jabatan struktural. Di luar insentif-insentif tersebut, honorarium aktivitas akademik cukup besar, tentunya (sekali lagi) sesuai dengan jumlah mata kuliah yang diampu. Catatan, remunerasi yang saya peroleh tidak termasuk sertifikasi dosen (sebab saat ini saya belum eligible untuk itu). Catatan lain, data di atas adalah income yang diperoleh dari universitas, tidak termasuk income sebagai expert/professional di luar universitas.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah: cukupkah gaji yang didapat dengan biaya hidup rata-rata di Yogyakarta ?

Pertanyaan ini sangat susah untuk dijawab, karena biaya hidup masing-masing keluarga sangat tergantung dari gaya hidup. Namun dari survey yang saya dapat di web ini dan web ini, bisa disimpulkan bahwa pengeluaran rata-rata per bulan sebuah keluarga dengan dua anak adalah 4,5 – 6 juta / bulan. Ini sudah termasuk biaya pendidikan anak, biaya silaturrahim, biaya religi (infaq, zakat, shadaqah), biaya listrik, biaya air, belanja harian, hiburan, dan biaya komunikasi (internet dan telepon).

Kesimpulan

Dari riset kecil-kecilan yang saya lakukan, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan:

  • Gaji pokok PNS, apapun jenjangnya, menurut saya masih jauh dari kata layak. Saya pernah diwanti-wanti oleh senior saya, “Mas, PNS, kaya, dan jujur itu tidak pernah berkumpul dalam satu orang. PNS yang kaya biasanya tidak jujur. PNS yang jujur biasanya tidak kaya. Kalau seseorang itu kaya dan jujur, kok biasanya dia bukan PNS”. Perkataan ini ada benarnya, tapi tidak selalu. Case by case, but generally it’s true. 
  • Seorang PNS dosen, biasanya memiliki tipe-tipe income yang lain selain gaji pokok. Dari beberapa rekan kerja yang pernah saya ajak berdiskusi, sebagian besar mengakui bahwa insentif dan honor-honor memberi kontribusi yang besar pada take home pay dosen secara keseluruhan.
  • Seorang dosen, sebenarnya memiliki banyak peluang untuk hidup layak di Indonesia. Ada dua syarat: dia harus mengetahui bagaimana cara mengelola keuangan (Financial Planning & Management) dan bagaimana dia mengkapitalisasi kelebihan / keunggulan yang ia miliki, baik dari sisi penelitian, manajemen, maupun komunikasi publik. Bagi seorang dosen dan peneliti, artikel ini dan artikel ini rasanya perlu dibaca. Belajar dari pengalaman saya sendiri, semakin awal seseorang melek dan cerdas finansial, semakin pandailah ia mensiasati keadaan. Buku-buku Pak Safir Senduk bisa menjadi referensi yang cukup bagus. Saya sendiri mempelajar financial planning sejak tahun 2008.
  • Data-data yang saya peroleh ini semakin menguatkan pendapat saya, mengapa sampai saat ini riset di Indonesia sangat susah untuk sustain, meskipun dewasa ini banyak bermunculan hibah-hibah penelitian nasional dari LPDP, DIPI, dan Kemenristekdikti (dan saya mengapresiasi langkah pemerintah ini). Riset di Indonesia secara menyeluruh sangat dipengaruhi oleh kebijakan finansial sebuah negara. Indonesia adalah sebuah negara yang dikenal sangat “gemar” menghabiskan APBN untuk belanja pegawai (dari data di internet, belanja pegawai berkisar antara 26 – 30 persen dari jumlah APBN). Hal ini kemudian membentuk mindset seorang dosen, bahwa karyanya di jalur struktural jauh lebih dihargai daripada karya-karya ilmiahnya sebagai peneliti. Seorang dosen sekaligus pejabat struktural akan mendapatkan insentif rutin tanpa harus berkompetisi dengan membuat proposal dan menghasilkan karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi. Di sisi lain, seorang dosen dianggap memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai peneliti, sehingga otomatis karya-karya dan proses yang dijalani sebagai peneliti tidak mendapatkan insentif / reward rutin, sebagaimana seorang dosen yang juga pejabat struktural.
  • Belajar dari pengalaman pribadi, beberapa hal yang layak dipertimbangkan seorang dosen agar tetap komitmen dengan penelitiannya adalah:
    • Arahkan penelitian pada sisi dasar (basic) dan sisi aplikatif (development / application). Penelitian dasar biasanya akan berkontribusi besar pada saat seorang dosen harus menulis publikasi ilmiah. Sementara itu, penelitian yang sifatnya development / application akan berkontribusi besar pada sisi insentif untuk dosen dan lab / research group yang dipimpin oleh dosen tersebut.  Penelitian yang sifatnya aplikatif HARUS DAPAT menopang penelitian dasar secara finansial.
    • Berpikir dengan market global. Tanpa kita sadari, negara-negara tetangga kita melakukan hilirisasi penelitian dengan orientasi market tidak lagi nasional, tapi regional dan internasional.
    • Banyak membaca referensi yang terkait dengan customer development dan lean manufacturing, terutama untuk dosen-dosen yang berkutat dengan penelitian di bidang computer science atau information technology, meskipun customer development dan lean manufacturing  tidak terbatas pada dua bidang ilmu ini. Customer development dan lean manufacturing akan mempengaruhi seberapa besar usaha yang diperlukan untuk melakukan komersialisasi produk hasil penelitian.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat.
Selamat berakhir pekan.

——————————————————–—————————-

Disclaimer:
Artikel ini adalah opini pribadi dan tidak terkait dengan institusi apapun.
Semua data yang ada dalam artikel ini diperoleh secara legal dan sah, tanpa maksud mendiskreditkan institusi manapun.

————————————————————————————

Be Sociable, Share!
Categories: Educational Notes

8 Comments

  • Wah terima kasih sharing infonya pak. Sangat detail dan ini menjadi informasi berharga bagi kami-kami yg mau berkarir menjadi dosen sekaligus peneliti di Indonesia.

  • Adi says:

    Istri saya dosen dan ngerasa bener bahwa pendapatan dosen jauh banget dari kata layak menurut saya mengingat prasayarat menjadi dosen di tempat kami sangat tinggi masuk harius s2 dan segera s3, akhirnya proyek menjadi andalan. Tetapi bagi saya sendiri realita itu bukan sesuatu yang harus di ributkan, saya selalu menekankan kepada istri mengajar bukan untuk mencari duit tetapi mengabdi dan mengembangkan diri urusan duit suami yang akan mencari. Barovo dosen indonesiaa

  • Suharyanto says:

    Coba datanya ditambah payroll sejak 2016 (Januari-Juni 2016) Mas Sunu…. saya yakin trend akan berubah karena pola Pak ABJ dalam mencairkan renumerasi berbeda dari sebelumnya, yaitu lebih rapid dan agresif…

  • Mohamad Rachmat Mulia says:

    Tulisan yang penuh makna, klo menurut sudut pandang saya. setuju kebutuhan sangat relatif, tapi bagaimana mengikapi agar mencukupi kebutuhan itu yg penting “rejeki tidak hanya dari gaji saja” sangat setuju… sukses terus buat dunia dan akhirat

  • Agus says:

    kira2 bisa tidak dihitung kebutuhan layak seorangvdosen, jadi kita bisa tahu takehome pay yg ditetima sudah cukup apa belum…

  • Bismo says:

    Balik lagi ke passion mas.. :)

  • indra purba says:

    Menjadi dosen adalah suatu profesi intelektual untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat dan bangsa….ini adalah profesi pengabdian tidak semua harus diukur dengan gaji /pendapatan….rezeki bisa datang dari mana saja…piss

    • sunuwibirama says:

      Terima kasih atas komentarnya. Pola pikir “pengabdian” itu selalu muncul sebagai apologi. Saya tidak suka dalih “pengabdian” muncul saat kita mendiskusikan gaji / take home pay, sementara tuntutan kerja dosen begitu tinggi dan selalu dibanding-bandingkan dengan negara tetangga. Itu hal yang menyakitkan. Kalau kita ingin kualitas pendidikan tinggi kita maju, kita harus adil.Boleh saja kita membanding-bandingkan output dosen Indonesia dan negara tetangga, tapi tolong input-nya di-benchmark juga.
      Soal rezeki datang dari mana saja, itu di luar konteks diskusi kita. Saya setuju, tapi itu tidak bisa kita jadikan dalih saat pemerintah menuntut profesionalisme dosen.

      Salam kenal dan terima kasih sudah berkunjung.

Leave a Reply