Titik lemah dalam disertasi doktoral (extended version)

PhD_crop380w

Beberapa kali saya diundang menjadi penguji luar (external examiner) ataupun penguji internal disertasi di bidang teknologi informasi atau ilmu komputer. Hal-hal yang menjadi titik lemah dalam disertasi tersebut selalu sama. Berhubung sudah berulang kali saya menjumpai hal serupa, maka saya mendokumentasikan titik lemah tersebut. Inilah beberapa titik lemah sebuah karya tulis disertasi doktoral:

  1. Permasalahan penelitian tidak spesifik, terlalu umum. Research gap dari penelitian sebelumnya tidak valid (tidak diturunkan dari analisis literatur yang mendalam).
  2. Kontribusi penelitian tidak disebutkan secara eksplisit. Terlalu banyak literatur yang dibahas, tapi tidak memahami perbedaan literatur yang sudah dipublikasikan dengan penelitian yang dikerjakan.
  3. Klaim kebaruan (novelty) tidak didukung oleh data eksperimen.
  4. Prosedur penelitian tidak rigid, hanya berdasarkan asumsi, dan tidak bisa diulang oleh peneliti lain (unrepeatable).
  5. Bekerja pada data / objek penelitian yang bertema sempit, tapi hasil dan judul penelitian digeneralisir untuk data / objek yang temanya lebih luas.
  6. Tidak ada benchmark / perbandingan dari hasil penelitian yang dilakukan. Metode yang diusulkan harus dibandingkan dengan metode yang sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain, sehingga improvement / peningkatan akurasi / penurunan waktu komputasi dapat dilihat dengan objektif.
  7. Tidak ada referensi ilmiah / acuan pada variabel-variabel yang sifatnya pre-defined, misalnya threshold atau konstanta sebuah persamaan.
  8. Komparasi yang keliru. Membandingkan hasil penelitian yang dilakukan dengan hasil penelitian lain yang ada dalam paper ilmiah, namun demikian data yang digunakan untuk proses pengujian tidak sama (hanya mengambil angka akurasi, tanpa mengimplementasikan metode yang ada dalam paper tersebut pada data yang digunakan untuk pengujian).
  9. Tidak menjelaskan variabel-variabel dalam persamaan matematis.
  10. Penyebutkan istilah-istilah dalam naskah disertasi dilakukan secara tidak konsisten.

Selain beberapa permasalahan di atas, permasalahan lain yang sangat mendasar adalah kurangnya kemampuan supervisor dalam metodologi dan penulisan karya ilmiah. Kekurangan-kekurangan ini sebenarnya bisa diperbaiki dengan beberapa cara:

  1. Secara kelembagaan, harus ada mata kuliah yang khusus ditujukan untuk mahasiswa doktoral dengan topik-topik pokok:
    – Bagaimana melakukan riset di bidang teknologi informasi atau ilmu komputer
    – Membaca dengan pemahaman yang kritis (critical reading)
    – Memahami karakteristik dasar novelty dalam bidang tersebut.
    – Menulis ilmiah yang efektif
    – Melakukan systematic literature review (SLR)
    Kurikulum mata kuliah dan materi bisa mengacu ke beberapa universitas terkenal di Indonesia maupun di luar negeri. YouTube dan e-Learning online adalah sumber yang berlimpah untuk hal-hal seperti ini. Tentunya, pengajar mata kuliah tersebut harus memiliki best practices yang kuat dalam bidang riset.
  2. Pelatihan berkala bagi para (calon) supervisor. Ada anggapan bahwa jabatan akademik yang tinggi berhubungan erat dengan kemampuan mengajarkan pengetahuan tentang riset kepada para mahasiswa. Meskipun belum ada penelitian tentang hal ini, saya tidak yakin hal ini berkorelasi. Menekuni penelitian dan mengajarkan kepada orang lain bagaimana melakukan penelitian adalah dua hal yang berbeda. Mengajarkan penelitian memerlukan kemampuan pedagogy dan empati yang tinggi. Dua hal itu hanya bisa diraih melalui pelatihan dan praktik langsung.
  3. Memperkaya referensi ilmiah di lingkungan kampus. Banyak buku-buku yang mengajarkan tentang bagaimana menulis thesis yang baik, atau menulis ilmiah yang efektif. Ada baiknya, sesekali waktu mahasiswa dilibatkan dalam talkshow atau bedah buku yang khusus membahas tentang topik-topik bagaimana melakukan riset. UGM sudah melakukannya beberapa kali, dan saya salah satu dari tim pemateri yang dilibatkan untuk memberi bekal bagi adik-adik mahasiswa. (Salah satu videonya bisa Anda lihat di sini).
  4. Selenggarakan seminar rutin mingguan yang melibatkan dosen-dosen dalam satu lab atau satu kelompok berbasis keilmuan (KBK/research group) dan mahasiswa yang menjadi bimbingan dari dosen tersebut. Dengan seminar rutin, kemajuan mahasiswa akan terpantau.
  5. Dosen perlu meluangkan waktu. Kurangi pekerjaan di luar kampus yang tidak ada hubungannya dengan penelitian. Mulai menjadwalkan diri untuk membaca buku dan menulis ilmiah, sebagaimana menjadwal diri untuk mengajar. Saya pribadi menganggap jadwal menulis sama pentingnya dengan jadwal mengajar.
  6. Gunakan sistem pemantauan online semacam Trello untuk mendokumentasikan pekerjaan mahasiswa. Pak Romi punya banyak cerita tentang ini.
  7. Saya sendiri memilih cara yang tradisional, meminta mahasiswa menuliskan kemajuan penelitian bulanan. Lihat artikel saya untuk tahu lebih detail apa yang saya maksud.
  8. Wajibkan para mahasiswa (dan supervisor, kalau perlu) untuk membaca artikel saya di bawah ini:

Kualitas penelitian di negara kita sebenarnya sudah cukup bagus, apalagi didukung oleh dana yang saat ini cukup melimpah. Meskipun demikian, jika peneliti tidak memahami cara-cara melakukan penelitian yang baik, hasil yang didapat tidak akan berdampak besar.

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply