Tips Mempersiapkan Gambar untuk Publikasi Jurnal Internasional

Mempersiapkan Gambar untuk Publikasi Internasional.001

 

Pernahkah Anda membaca paper dengan gambar yang tidak tercetak dengan baik ? Pernahkah Anda mengerutkan dahi karena harus berpikir keras saat melihat ilustrasi hasil eksperimen pada sebuah paper ?
(Catatan: Klik gambar di atas untuk memahami secara cepat isi artikel ini).

Gambar atau ilustrasi memegang sebuah peranan penting dalam sebuah manuskrip jurnal internasional. Sudah puluhan kali saya diminta untuk me-review sebuah manuskrip untuk jurnal internasional dan reaksi pertama saya selalu sama: saya akan melihat dulu gambar atau ilustrasi dalam manuskrip tersebut. Gambar yang dipersiapkan dengan baik menunjukkan kemauan keras dari penulis manuskrip untuk memudahkan kerja reviewer, sekaligus menunjukkan portofolio tingkat kedetailan dalam mempersiapkan manuskrip tersebut. Reaksi pertama saya saat melihat manuskrip dengan gambar yang tidak informatif adalah: tolak manuskrip ini. Membaca manuskrip dengan gambar yang tidak informatif berarti membuang waktu.

Gambar adalah alat pertama yang Anda gunakan untuk menyusun alur cerita dalam manuskrip. Saat Anda menulis manuskrip untuk jurnal internasional, hal termudah yang bisa Anda lakukan adalah mengolah data gambar hasil penelitian sebaik mungkin, memasukkan gambar tersebut ke dalam manuskrip, dan membuat cerita atau deskripsi dari gambar tersebut. Apa artinya? Gambar harus dipersiapkan sebaik mungkin. Harus perfect, tanpa cacat. Kalau gambar Anda cacat, cerita Anda akan cacat juga. Manuskrip Anda tidak terbaca dan berakhir dengan penolakan (yes, meskipun penolakan bisa berarti Anda mendapatkan review gratis yang bermanfaat, tapi tetap saja pahit. Apalagi jika Anda dikejar waktu untuk lulus kuliah dan manuskrip itu menjadi syarat lulus Anda).

Dalam artikel ini, saya akan berbagi best practices yang saya lakukan untuk mempersiapkan gambar dengan baik. Tips di bawah mungkin saja tidak berlaku bagi sebagian peneliti, tapi setidaknya kita semua sepakat bahwa ilustrasi atau gambar dalam publikasi ilmiah harus dipersiapkan dengan baik.

1. Gunakan perangkat gambar profesional

Gunakan perangkat lunak untuk membuat grafik atau gambar yang profesional. Untuk bidang rekayasa, MATLAB, SPSS atau JMP cukup membantu. Kalau Anda pernah belajar desain grafis, Anda bisa gunakan Adobe Illustrator atau Corel Draw (saya pun juga menggunakannya). Pastikan gambar yang Anda buat terbaca dengan baik, meskipun naskah dicetak hitam putih. Tidak semua reviewer memiliki printer berwarna seperti Anda. Oya, tidak semua reviewer berumur sebaya dengan Anda. Bayangkan Anda menyerahkan sebuah gambar ke kakek Anda dan memintanya untuk memahami gambar itu. Hanya gunakan gambar berwarna bila memang benar-benar perlu. Beberapa jurnal internasional bahkan menetapkan biaya tambahan jika Anda memasukkan gambar berwarna dalam naskah jurnal yang akan dicetak dan diedarkan.

2. Pastikan teks dalam gambar terbaca dengan baik 

Cek ukuran font pada gambar. Jangan pernah memberi keterangan di dalam gambar dengan ukuran font yang terlalu kecil. Untuk urusan yang satu ini, jangan pernah membaca dari layar laptop atau tablet. Cetaklah manuskrip dengan printer dan lihat gambar tersebut secara langsung. Konsultasikan ke pembimbing atau dosen yang lebih senior dan bertanyalah: “Apakah keterangan dalam gambar terbaca ?”

3. Buatlah gambar yang “self-contained” dan menarik

Tips nomor tiga ini cukup menantang. Belajarlah dari publikasi-publikasi dengan topik sejenis dan lihatlah bagaimana penulis publikasi tersebut mengemas gambar atau ilustrasi hasil eksperimen. Pembaca harus bisa memahami maksud dari gambar tanpa harus membaca teks secara detail (self-contained). Pastikan keterangan (caption) gambar memberikan informasi yang lengkap untuk memahami gambar tersebut. Gambar yang baik adalah gambar yang mudah dipahami tanpa harus menimbulkan banyak pertanyaan di benak pembaca.

Lengkapi keterangan gambar. Jangan pernah memberi keterangan gambar dengan kalimat, misalnya : “Gambar 1. Hasil eksperimen”, tapi buatlah dengan kalimat : “Gambar 1. Hasil pengukuran akurasi algoritme A dan algoritme B pada dataset X (akurasi ditunjukkan dalam %). Algoritme A memiliki akurasi yang lebih baik untuk oklusi lebih dari 50%…. dst.” Intinya, jelaskan dengan baik gambar tersebut tanpa harus menggunakan kalimat yang bertele-tele. Sekali lagi, pastikan pembaca yang sebidang dan tidak sebidang ilmu dengan Anda bisa memahami, atau setidaknya mengerti maksud dari gambar Anda. Inilah pentingnya sharing dan diskusi bersama rekan satu lab Anda.

Selain itu, gambar Anda harus bebas dari “hiasan-hiasan” yang tidak perlu. Misal, logo-logo yang tidak relevan dengan penelitian atau garis-garis horizontal yang terlalu rapat pada grafik tidak perlu dicantumkan. Semakin minimalis (tapi tetap informatif) gambar Anda, semakin mudah pembaca memahami.

4. Berhati-hati dalam mengolah gambar

Berhati-hatilah dalam mengolah gambar. Beberapa bidang ilmu sangat sensitif dengan gambar yang diolah secara digital karena banyak ditemukan data yang difabrikasi dengan pengolahan gambar. Baca Guidelines for Authors dan Guidelines for Preparing Illustrations dalam jurnal tersebut.

Untuk pembaca dengan bidang ilmu computer science atau IT, Anda bisa membaca buku Writing for Computer Science yang ditulis oleh Profesor Dr. Justin Zobel. Ada satu bab khusus yang membahas tentang bagaimana mempersiapkan gambar untuk publikasi jurnal internasional. Cek juga slide “WBS Thesis Guide to Chart and Table” ini.

Selamat menggambar!

Be Sociable, Share!
Categories: Scientific Writing

Leave a Reply