Mahasiswa zaman now dan dunia kerja

Belajar Sprint Design: mahasiswa di kelas saya sedang mempelajari sebuah metode problem solving dan prototyping cepat yang diinspirasi oleh Google Sprint method (koleksi pribadi: (C) Sunu Wibirama 2017)

Pulang dari Jepang tahun 2014, selain berinteraksi dengan dunia penelitian, sedikit banyak saya berinteraksi dengan dunia industri sebagai external supervisor. Jika ada manajer yang mengatakan, “Kebutuhan dunia kerja pada karakter lulusan perguruan tinggi berubah dengan cepat”, saya tidak bisa menolak. Memang demikianlah adanya. Celakanya, dosen di perguruan tinggi “biasanya” termasuk mereka yang perlu berlatih menghadapi perubahan. Di sinilah “gap” yang sering muncul dan mahasiswa adalah pihak yang paling banyak merasakan dampaknya. Lalu, apa saja kebutuhan mahasiswa millenial untuk bertahan dalam dunia kerja?

1. Tidak takut untuk belajar dari kesalahan.
Dunia kita saat ini cenderung menuntut kita untuk “selalu berbuat benar” dari kacamata komunitas dan melakukan rundungan (bullying) pada mereka yang berbeda. Butuh keberanian ekstra untuk tidak takut belajar dari kesalahan yang pernah diperbuat. Butuh kemampuan ekstra untuk bangkit dari kesalahan dan menjadi lebih baik.

2. Fokus dan konsisten pada pekerjaan yang ditekuni.
Fokus adalah kemampuan mahal di era multiscreen. Mahasiswa saat ini dihadapkan pada banyak informasi, tapi kesulitan untuk memilih dan mencerna informasi tersebut. Hal ini diperparah dengan kurikulum SD yang melatih muridnya untuk Googling dengan tablet, sementara anak SD belum paham bagaimana menggunakan dan memilih informasi yang baik. Fokus pada pekerjaan adalah tantangan besar bagi para mahasiswa saat ini.

3. Mempelajari bagaimana sebuah sistem besar berjalan dan beradaptasi dengannya. 
Ketika kita masuk dalam lingkungan baru, hal terpenting yang menentukan keberhasilan kita menjadi bagian dalam sistem tersebut adalah kemampuan adaptasi. Adaptasi tidak selalu mudah karena membutuhkan komunikasi intens dengan orang yang sudah bergabung dalam sistem tersebut, serta mempelajari bagaimana kita bisa ambil bagian dalam sistem. Mahasiswa zaman sekarang lebih senang bermain dengan gawainya, sehingga kemampuan no. 3 ini benar-benar menantang untuk mereka.

4. Berkomunikasi dengan benar dan baik menurut situasi dan kondisi.
Sekali lagi, berkomunikasi dengan gawai tentu berbeda dengan komunikasi langsung (face to face). Mahasiswa zaman sekarang butuh sekali sarana untuk berani mengutarakan pendapat dengan cara yang baik dan benar.

5. Kreativitas.
Sulit mendefinisikan arti kreativitas. Tapi kemampuan no. 5 bisa didapatkan jika kemampuan no. 3 sudah dikuasai. Dunia industri penuh dengan hal-hal yang berada di luar ekspektasi awal. Tanpa kemauan untuk “menjadi kreatif”, cukup berat bagi para mahasiswa untuk belajar hal baru dan memiliki diferensiasi nilai tambah dari mereka yang sudah lama bekerja di industri.

6. Siap untuk membuka lapangan kerja.
Dunia yang berubah dengan cepat tidak selalu menyenangkan bagi mereka yang tidak suka bekerja kantoran. Bagi mereka yang tidak mau diikat dengan banyak aturan, pilihannya adalah membuka lapangan kerja. Menjadi entrepreneur bukan hal gampang, apalagi para dosen cenderung minim pengalaman bisnis, sehingga kesulitan menularkan ilmu bisnis ke mahasiswa. Tapi perkembangan internet memungkinkan seseorang untuk menghasilkan uang melalui internet (saya sendiri pernah melalukannya, saya menyebutnya “digital nomad”). Kuasai kemampuan no. 4 dan 5, sebelum kemampuan no. 6.

7. Membangun identitas digital yang mendukung profil pekerjaan yang diinginkan.
Identitas dan jejak digital kita akan abadi, meskipun kita bisa menghapusnya (ingat archive.org dan wayback machine-nya). Saya teringat pesan senior saya: curriculum vitae itu harus “dibentuk”, diarahkan sesuai profil yang kita inginkan. Kalau kita ingin menjadi pekerja profesional, maka kita harus serius “mengisi” kolom “sertifikasi / training”. Kalau ingin menjadi peneliti, harus serius mengisi kolom “publikasi”. Saya menambahkan satu lagi: identitas digital. Bekal saya sebagai freelance web programmer (saat menjadi mahasiswa) berperan cukup besar bagi saya untuk mengetahui seluk-beluk teknis internet, web, dan mengarahkan seluruh kanal yang bisa saya akses untuk membentuk satu identitas digital. Hal ini bukan perkara mudah jika para mahasiswa hanya menjadi pengguna bukan pemain dalam teknologi tersebut. Pengalaman saya, identitas digital sangat menentukan keberhasilan kita dalam dunia kerja dan meraih kesempatan-kesempatan yang tidak datang secara langsung melalui amplop surat.

Pada artikel mendatang, saya akan mencoba menjelaskan skill digital yang perlu dimiliki oleh mahasiswa zaman now. Untuk mengikuti update artikel di blog ini, silahkan masukkan email dan klik “Subscribe” di bagian kanan atas blog.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply