Sepuluh tips publikasi artikel di jurnal ilmiah tanpa banyak revisi

Publikasi Minim Revisi.001

Saat memberikan kuliah ke mahasiswa S3, saya ditanya sebuah pertanyaan simpel yang jawabannya “tidak simpel”: “Pak, apa resepnya supaya jurnalnya bisa accepted tanpa banyak revisi?”
Duh…apa yaa. Mungkin ini beberapa poin-poin kunci yang perlu diperhatikan:

1. Paper yang di-submit ke jurnal ilmiah berbeda dengan seminar internasional. Jurnal-jurnal papan atas (dengan impact factor tinggi, atau masuk dalam rangking Q1/Q2 ScimagoJR) biasanya sangat melihat problem riset yang diangkat. Problem riset yang diangkat sebaiknya bukan problem yang sepele (trivial). Anda harus bisa menjawab “so what question” dari problem yang diangkat: Kalau problem itu bisa diselesaikan, so what? Apa implikasinya? Jangan-jangan problem itu belum pernah diselesaikan sebelumnya, bukan karena “baru”, tapi problem itu problem remeh yang memang tidak perlu diselesaikan?

2. Tunjukkan kontribusi / signifikansi riset yang dilakukan dan kebaruan riset yang dilakukan. Ada kalanya, kita harus menunjukkannya tanpa basa-basi, dengan menggunakan kata-kata “novel”, “new”, “cutting edge”. Untuk melihat contohnya, Anda bisa cek paper saya di sini dan baca di bagian abstrak paper tersebut: http://doi.org/10.1016/j.entcom.2018.02.003 

3. Tunjukkan perbedaan antara riset yang dilakukan dengan riset-riset yang sudah ada (saya biasa melakukannya dengan menggunakan tabel untuk melakukan analisis komparasi, meskipun tidak selalu melakukannya di semua publikasi yang saya tulis). Contoh bisa dilihat di paper dari sebuah grup riset di Korea : http://doi.org/10.1016/j.optlaseng.2011.12.001

4. Bahasa Inggris level native speaker, harus sempurna tidak ada kesalahan ketik (typo) dan kesalahan grammar. Perhatikan penggunaan tense yang berbeda untuk bagian yang berbeda (misalnya: Introduction: present tense / past tense. Method: past tense. Result: past tense kalau membahas eksperimen, present tense kalau mendiskusikan hasil). Intinya, common sense bahasa Inggris harus jalan. Kalau membahas sesuatu yang sudah dilakukan, gunakan past tense. Kalau membahas/mendiskusikan metode, gunakan present tense. Sewalah proofreader profesional jika Anda tidak percaya diri untuk urusan yang satu ini. Buku yang harus Anda baca adalah seri buku menulis bahasa Inggris karya Adrian Wallwork: (i) English for Writing Research Papers, (ii) English for Academic Research: Grammar, Usage and Style . Selain itu, saya menyarankan Anda membaca buku karya Stephen Howe, Ph.D. yang berjudul PhraseBook for Writing Papers and Research in English. Di samping grammar, Anda perlu “bercerita” dengan baik. Logika antar paragraf harus “nyambung” dan intuitif. Silahkan cek buku Writing Science karya Prof. Joshua Schimel untuk mempelajari trik membuat cerita ilmiah yang intuitif dalam menulis paper untuk jurnal internasional.

5. Pada bagian Introduction, tunjukkan kontribusi riset Anda, sekaligus lakukan sintesis terhadap literatur yang sudah ada, sehingga pembaca terbantu untuk memahami konteks riset Anda. Usahakan juga Anda memberikan “informasi baru” di bagian Introduction atau Related Works (misal: Anda membuat klasifikasi/penggolongan metode-metode riset yang sudah ada sebelumnya). Dengan cara seperti ini, Anda tidak hanya menyodorkan metode baru, tapi juga membantu pembaca untuk menambah pengetahuan tentang posisi riset Anda di antara riset-riset lain (saya sebut sebagai: research positioning). Silahkan lihat contoh penulisannya di sini: http://doi.org/10.1016/j.entcom.2017.04.003 . Di paper tersebut, saya menuliskan kalimat seperti ini:

Current 3D gaze tracking systems can be categorized into remote [17,18] and head mounted [19–23] system. Remote system generally uses single or stereo camera to obtain user’s line of sight in 3D space. The system is unobtrusive since the user does not need to wear any gaze tracking glasses or helmet. Shih and Liu [17] proposed the usage of stereo camera to extract 3D line of sight from user’s eye that was reflected on planar mirror. The proposed system was validated using 2D plane containing multiple validation points. Hennessey and Lawrence [18] proposed a remote gaze tracking system consisted of single camera and infrared illuminator to estimate point of gaze in 3D space. By using corneal glints and modeling light refraction inside eyeball, 3D point of gaze could be computed over a workspace volume of 30 23 25 cm. Five target points on 2D plexiglass plane that could be move in depth direction was used to validate the proposed method.

In contrast to remote system, head mounted system captures user’s eye from close distance. Normally, the eye camera is installed on special glasses or helmet. To estimate distance of object in 3D space, single or stereo scene camera is incorporated in the gaze tracking system. By calibrating eye and scene camera simultaneously, correspondence between eye coordinate and 3D gaze point can be estimated. Mitsugami et al. [19] proposed a head mounted system con- sisted of binocular eye cameras and one scene camera. A flat wall positioned perpendicular to the viewing axis of scene camera was used to validate the proposed system. Munn and Pelz [20] pro- posed a mobile gaze tracker consisted of one eye camera and scene camera. A rigid 3D cubic structure installed inside large experi- ment room was used to validate accuracy of the proposed method.

6. Pahami ekspektasi reviewer. Lihat review criteria jurnal tersebut dan ikuti secara ketat, jangan sampai ada yang terlewat. Silahkan lihat contoh review criteria dari sebuah jurnal IEEE di sini. Contoh lain untuk kriteria manuskrip yang dikirimkan pada publikasi di IEEE Signal Processing Society bisa dilihat di sini. Lihat juga contoh lain untuk IEEE Power & Energy Society Transactions di sini. Di panduan tersebut disebutkan:

In essence, our criterion should match what the publisher of any high quality journal wants to provide — thought or information which is unique and cannot be found in another place in this form, or as a variant of it.

The above requirements suggest the following criteria for papers that should and should not appear in the Transactions.

Papers of archival value should:

  1. Present new methods of analysis or experimentation.
  2. Present a new process, design, or technology.
  3. Discuss and provide fresh thoughts on the effects of evolving public and environmental policies on the technologies we address and operate.
  4. Be written in clear and understandable language.
  5. Be of interest to the reader of our journals.
  6. Be of long-term value for the profession because of the above attributes.

Such papers are not those that:

1. Plagiarize or regurgitate old and well-proven thoughts.

2. Represent a minor variant of an old thought or analysis.

3. Are written exposing the same or similar ideas in other journals or proceedings.

4. Have copied others’ ideas without proper acknowledgment.

5. Are poorly written, or written in an obscure manner.

7. Diskusikan hasil dengan melakukan komparasi hasil riset Anda dan riset sebelumnya. Tunjukkan unexpected result yang menarik untuk komunitas/society di bidang Anda. Hal ini adalah hal paling sulit dari semua proses penulisan karena Anda harus bisa menghubungkan prior knowledge dari hasil membaca literatur secara masif dan hasil analisis Anda. Berdasarkan pengalaman yang saya jumpai, reviewer yang baik dan memiliki niat untuk meningkatkan kualitas paper yang masuk akan berusaha menggali berbagai kemungkinan untuk memperluas diskusi dari hasil penelitian yang Anda tampilkan. Dengan kata lain, Anda perlu menyiapkan diskusi yang komprehensif tentang hasil penelitian Anda, sebelum reviewer membaca paper Anda. Jika masih penasaran dengan contohnya, silahkan lihat paper ini: http://doi.org/10.1016/j.entcom.2017.04.003  .

8. Anda harus tahu bagaimana berkelit dari permintaan reviewer yang bersifat substansial. Tidak semua permintaan harus dipenuhi, bisa jadi permintaan tersebut tidak menambah bobot riset Anda, hanya menambah halaman paper Anda. Saya memiliki banyak trik, tapi rasanya terlalu banyak jika diceritakan. Next time saya buatkan artikel sendiri ya, ditunggu saja. Oya, tahun 2014 saya pernah menulis sebuah artikel tentang tips menjawab review. Anda bisa melihatnya di sini.

9. Pahami “diskusi” yang sedang terjadi di society yang menaungi jurnal target Anda. Anda harus paham betul, apa topik-topik yang sedang hangat di jurnal tersebut. Ikutlah berkontribusi secara positif dengan mensitasi dua-tiga paper yang telah terbit di jurnal tersebut supaya Editor in Chief paham bahwa topik Anda relevan dengan topik jurnal.

10. Berdoa. Berharap Anda dapat reviewer mahasiswa S2/S3 yang ditugaskan oleh supervisor-nya. Sama-sama pemain baru, hasil review-nya bisa jadi tidak begitu galak (case-by-case ya, mudah-mudahan seperti itu). Berdoalah agar hasil review yang Anda terima adalah review yang sifatnya membangun, bukan review yang menghambat publikasi Anda.

Semoga sukses untuk rekan-rekan yang sedang berjuang lulus dengan publikasinya!

Be Sociable, Share!

1 Comment

  • Tika nirmala sari says:

    Assalamualaikum…pak sunu wibirama
    saya mohon masukan atau arahan dari bapak dalam menulis jurnal. Sebagai pemula dalam menulis jurnal, dimana ini (menulis) merupakan kewajiban baru yang harus saya penuhi. Masih banyak yg tidak saya kuasai.
    Mohon maaf sebelumnya pak, kalo jadi agak melenceng dari topik pembahasan, tapi terus terang, saya masih bingung untuk memulai dari mana untuk menulis jurnal saya. Bagian mana yang pertama sekali harus saya fokuskan dari beberapa kriteria penilaian dalam penulisan jurnal ini pak? Apakah template, content atau structure-nya dahulu?
    Saya ucapkan banyak terima kasih bila bapak berkenan memberikan bimbingan kepada saya
    Wassalamualaikum wr wb…

Leave a Reply