10 Kendala yang Dihadapi Mahasiswa Program Doktoral dan Solusinya

PhD

Selama menempuh program studi doktoral, saya mengalami beberapa permasalahan yang sedikit banyak menghambat kelancaran studi. Cerita lengkap tentang bagaimana saya menempuh studi S-3 di Jepang sudah saya tuliskan secara detail di halaman lain. Meski demikian, permasalahan-permasalahan tersebut ternyata jamak saya temukan pada beberapa kolega saya yang sudah atau sedang menempuh studi S-3. Dalam artikel ini, saya mencoba merangkum sepuluh permasalahan yang secara esensial banyak saya temukan pada mahasiswa S-3. Saya juga mencoba memberikan solusinya, dengan harapan rekan-rekan akademisi maupun peneliti yang hendak menempuh studi S-3 dapat mempersiapkan sedini mungkin supaya permasalahan-permasalahan tersebut dapat diminimalisasi.

Permasalahan # 1: Tidak memiliki dasar teori yang kuat untuk membaca paper-paper ilmiah (lemah pada domain knowledge, tidak pernah bersentuhan dengan topik yang sedang dikerjakan).

Permasalahan ini biasanya banyak ditemui pada mahasiswa program doktoral yang mendapatkan tema penelitian yang berbeda (tema baru) dengan tema-tema yang pernah diteliti atau digeluti selama ini. Permasalahan ini juga seringkali ditemui pada mahasiswa yang menempuh studi doktoral pada bidang riset yang bersifat multidisiplin (misal: biomedical engineering atau applied psychology). Bagaimana solusinya? Mempersiapkan diri sejak dini adalah harga mati. Saat ini, fasilitas kuliah daring (online course) sudah sangat melimpah dan Anda bisa memanfaatkannya untuk memperkuat dasar-dasar keilmuan yang perlu Anda ketahui. Hal terpenting yang perlu Anda identifikasi jika Anda mengalamai permasalahan seperti ini adalah: apa mata kuliah dasar yang perlu saya pelajari supaya saya dapat memahami tema penelitian saya? Selain itu, diskusi dengan pakar di bidang yang relevan juga sangat membantu. Perluas jaringan kolega Anda dan banyaklah bertanya pada pakar di bidang yang relevan.

Permasalahan # 2: Tidak memiliki dasar praktis yang kuat untuk merancang solusi terhadap permasalahan penelitian yang diangkat (misalnya: desain eksperimen, teknik survey, programming, statistika).

Beberapa tema penelitian tertentu mewajibkan Anda untuk memiliki pengetahuan dasar tentang hal-hal teknis yang Anda butuhkan supaya penelitian Anda menghasilkan proof of concept atau solusi atas permasalahan yang diangkat. Dalam bidang computer science misalnya, pengetahuan akan algorithm design dan programming adalah harga mutlak yang harus dipenuhi. Tanpa dua hal tersebut, Anda tidak akan pernah bisa melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa metodologi yang Anda usulkan memberikan solusi yang lebih baik dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya. Di bidang applied psychology, pengetahuan tentang analisis statistika adalah hal mutlak yang harus dikuasai. Tanpa pengetahuan ini, Anda tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa suatu treatment pada sebuah grup menghasilkan efek yang signifikan dibandingkan treatment lain, atau dibandingkan dengan grup kontrol (tanpa treatment). Solusinya hampir sama dengan permasalahan pertama, Anda harus mengetahui hal-hal yang perlu Anda kuasai dan segera mempelajarinya sebelum Anda terdaftar sebagai mahasiswa program doktoral.

Permasalahan # 3: Tidak memiliki pengetahuan yang kuat untuk melakukan riset (ethics, research methodology, literature review, critical reading).

Ada perbedaan mendasar antara kemampuan teknis yang diperlukan untuk mendapatkan / mengolah data penelitian dan kemampuan untuk meneliti / mempresentasikan hasil penelitian. Permasalahan nomor 3 ini jamak ditemui oleh mahasiswa doktoral di awal masa studi mereka. Kemampuan untuk menganalisis literatur, kemampuan untuk menemukan celah penelitian, kemampuan untuk menulis karya ilmiah dalam bahasa Inggris, dan kemampuan untuk mempresentasikan hasil penelitian dalam forum internasional adalah hal-hal yang mutlak diperlukan pada saat seseorang menempuh studi doktoral.  Bagaimana cara mengatasi permasalahan ini? Hands-on dan praktik meneliti sepertinya menjadi salah satu cara untuk berlatih. Jika Anda seorang dosen, Anda bisa mencoba “magang” atau melakukan “joint research” dengan universitas lain, di mana Anda bisa belajar dari dosen yang lebih senior di universitas tersebut. Di Jepang, program research student (kenkyuusei) menjadi salah satu pintu masuk calon mahasiswa doktoral.  Rule of thumb-nya adalah: jika Anda bisa menunjukkan karya ilmiah atau publikasi ilmiah yang baik sebagai first author (penulis pertama) sebelum mendaftar ke program studi doktoral, Anda sudah membuktikan bahwa Anda memiliki kemampuan meneliti dan menulis yang baik.

Permasalahan # 4: Tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana menulis ilmiah yang baik dan tidak memiliki dasar bahasa Inggris yang kuat.

Pengetahuan yang kuat tentang scientific writing harus didukung oleh pengetahuan yang baik tentang tata bahasa Inggris dan Academic English / Technical English. Menulis paper ilmiah memilki dua aspek penting : kemampuan teknis (technical skill) dan seni bercerita (art of storytelling). Kemampuan teknis meliputi: struktur paper, tata tulis, tata bahasa, dan tampilan data (grafik, tabel, dan sebagainya). Seni bercerita meliputi: mengolah cerita, memberi impresi kebaruan dalam riset yang dilakukan, dan mendiskusikan hasil penelitian. Saya merekomendasikan buku-buku Adrian Wallwork untuk Anda pelajari (silahkan lihat juga blog pribadi beliau). Saya banyak mengambil manfaat dari buku-buku karya Wallwork, sekaligus menggunakan beberapa tips yang ada dalam buku tersebut pada saat menulis paper. Selain itu, saya merekomendasikan buku karya Joshua Schimel dengan judul Writing Science untuk mengolah “cerita” dalam karya ilmiah Anda.

Permasalahan # 5 : Tidak memiliki dukungan dana yang kuat — tidak memiliki beasiswa atau beasiswa diputus lembaga donor. 


Permasalahan klasik ini sering dijumpai pada mahasiswa doktoral yang memiliki nyali tinggi untuk studi doktoral tanpa bantuan pendanaan yang kuat. Saya tidak menyarankan Anda untuk bekerja sekaligus melakukan riset doktoral. Studi doktoral adalah aktivitas yang menuntut fokus tinggi dan tidak boleh mendapatkan prioritas kedua. Meskipun sekilas aktivitas “belajar” terlihat remeh, studi doktoral bisa memberi beban mental yang cukup berat untuk mahasiswa. Dua hal yang sering membuat mahasiswa doktoral merasakan tekanan psikologis yang berat adalah deadline untuk menyelesaikan sebuah karya ilmiah dan ketidakpastian durasi review dari sebuah karya ilmiah. Studi doktoral memiliki batas waktu, sementara durasi review paper terkadang tidak memiliki batas waktu yang jelas. Seseorang yang tidak memiliki dukungan dana kuat harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan finansialnya. Akibatnya, proses studi akan terganggu. Solusinya hanya satu: carilah lembaga donor atau lembaga beasiswa, dan solusi ini harga mati.

Permasalahan # 6 : Tidak memahami karakter pembimbing (promotor/co-promotor) dan cara membimbing promotor/co-promotor.

Seorang promotor (supervisor) memiliki gaya yang berbeda dalam membimbing mahasiswanya. Bagi seorang dosen yang memiliki jenjang akademik associate professor (lektor kepala), biasanya ia akan lebih rajin dalam membimbing mahasiswanya dan lebih sering memberikan arahan. Selain itu, dosen-dosen ini masih memiliki ketersediaan waktu yang cukup. Meskipun demikian, tuntutan publikasi dari dosen-dosen dengan jenjang ini biasanya lebih tinggi, sebab ia memerlukan publikasi ilmiah sebagai salah satu pendukung untuk promosi karir. Di sisi lain, dosen-dosen dengan jenjang akademik full professor (guru besar) mungkin tidak seketat dan serigid dosen-dosen dengan jenjang akademik lebih muda. Mereka lebih memberikan keluangan kepada para mahasiswa, dan tidak jarang mereka bahkan memiliki aktivitas pribadi yang cukup tinggi, sehingga waktu yang diluangkan untuk membimbing mahasiswa tidak banyak.

Meskipun demikian, jangan lengah dengan keluangan waktu yang diberikan oleh pembimbing. Jika pertemuan rutin dan jadwal bimbingan tidak bisa terselenggara dengan baik, mahasiswa harus rajin memberikan progress report kepada pembimbing, supaya arah riset tetap bisa dikendalikan dengan baik. Mahasiswa harus membiasakan aktif melaporkan hasil kepada pembimbing, tidak takut untuk mengatakan masalah yang dialami selama meneliti, dan menunjukkan kepada pembimbing bahwa ia tetap melakukan riset secara kontinyu. Selain itu, pelajari gaya komunikasi yang pas dengan pembimbing. Ada beberapa orang dosen yang tidak suka berdiskusi dengan email atau sosial media, sehingga cara terbaik berdiskusi dengan dosen-dosen ini adalah bertemu langsung.

Terkadang permasalahan komunikasi antara mahasiswa dan promotor menyebabkan gangguan yang serius selama studi S-3. Menjaga hubungan baik dengan promotor adalah hal yang wajib dilakukan, sebab seburuk-buruk promotor tetap memiliki suara mutlak untuk meluluskan atau tidak meluluskan Anda. Oleh karena itu, mengetahui profil calon promotor melalui testimoni alumni atau mantan mahasiswa yang pernah ia bimbing adalah hal yang wajib dilakukan sebelum menghubungi calon promotor.

Permasalahan # 7 :  Tidak mampu mengatur keseimbangan antara studi – waktu untuk keluarga – kesehatan.

Keseimbangan dalam mengatur aktivitas pribadi, kesehatan, dan waktu belajar di kampus adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh seorang mahasiswa S-3. Studi doktoral ibarat lari marathon. Anda harus memiliki stamina yang kuat untuk menyelesaikan pertandingan. Mau tidak mau, Anda harus berusaha menjaga kesehatan fisik dan kesehatan mental Anda. Saya sangat menyarankan kepada Anda untuk memiliki jadwal yang rigid, target-target yang jelas, dan memiliki rencana cadangan dalam studi untuk menghindari hal-hal yang tidak Anda inginkan. Jika Anda sudah berkeluarga, jangan membawa pekerjaan kampus ke rumah. Luangkan waktu untuk olah raga di akhir pekan. Ingat, studi doktoral ibarat lari marathon. Anda butuh persiapan yang baik serta keseimbangan dalam kehidupan akademis dan non-akademis. Memiliki hobi adalah salah satu solusi yang baik untuk mencegah depresi.

Permasalahan # 8 :   Tidak memiliki komunitas yang tepat untuk berdiskusi dan melepas beban, sehingga mahasiswa mendapatkan problem psikologis (peer group, teman satu negara, keluarga, tetangga). 


Salah satu masalah yang dihadapi oleh mahasiswa doktoral, baik di dalam dan di luar negeri, adalah tidak memiliki teman atau komunitas yang tepat untuk berbagi. Bagi mereka yang sudah berkeluarga, saya menyarankan untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga terdekat dan sebisa mungkin persiapkan kondisi keluarga sebelum Anda menempuh studi doktoral. Keluarga adalah pihak terdekat yang akan membantu Anda pada saat Anda mengalami kesulitan dan hambatan. Teman baik, peer group sangat dibutuhkan–terutama jika Anda memiliki tema penelitian yang sama.

Permasalahan # 9 :   Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan di mana ia belajar atau bertempat tinggal (culture shock).


Masalah ini cukup banyak dialami oleh mahasiswa S-3 yang studi di luar negeri. Negara dengan empat musim sangat mungkin memberikan tantangan yang berat, terutama pada saat musim dingin. Selain itu, kultur dan budaya juga menjadi salah satu penghambat jika tidak disiasati dengan baik. Salah satu cara untuk mengurangi culture gap adalah dengan mempelajari budaya dan bahasa dari negara di mana Anda tinggal. Bahasa menjadi pintu gerbang pertama untuk memahami budaya. Selain itu, memilih teman baik yang berasal dari mahasiswa atau penduduk lokal juga menjadi salah satu cara untuk mengurangi culture gap.  

Permasalahan # 10:   Tidak bisa meluangkan waktu untuk melakukan penelitian (biasanya terjadi pada program industrial Ph.D. di mana mereka melakukan studi doktoral sekaligus melakukan pekerjaan sebagai praktisi di industri).

Problem terakhir yang dihadapi oleh mahasiswa doktoral adalah tidak ada waktu untuk melakukan penelitian, utamanya mahasiswa doktoral yang juga praktisi di industri. Manajemen waktu adalah solusi terbaik,  meskipun saya menyarankan untuk kepada Anda untuk menjadi mahasiswa full-timer.

Permasalahan #1 sampai #5 bisa diatasi dengan melakukan persiapan matang sebelum studi S-3. Permasalahan #6 sampai #10 bisa dilakukan setelah Anda memasuki program doktoral. Hal terpenting yang patut Anda pertimbangkan adalah meminta testimoni sebanyak mungkin dari para senior yang sudah pernah melakukan studi S-3 dan berhasil lulus dengan baik.

NOTE: Anda bisa membaca beberapa slide presentasi saya tentang persiapan studi doktoral di sini.

Be Sociable, Share!
Categories: Research

Leave a Reply