Belajar Mengelola Riset dari Malaysia

kunjungan petronas

Tanggal 26-29 September 2018 yang lalu, saya mendapatkan kesempatan yang sangat berharga bersama tim dosen dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengunjungi Universiti Teknologi Petronas (UTP) dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Dua universitas tersebut mewakili universitas di Malaysia yang memiliki performa riset yang luar biasa, meskipun umur mereka yang relatif lebih muda dibandingkan UGM.  Kunjungan tersebut berlangsung lancar dan kami mempelajari beberapa hal penting selain manajemen akademik dan tugas akhir, yakni bagaimana Malaysia memicu produktivitas riset para dosen dan peneliti di negara mereka.

Hal-hal penting yang saya catat sebagai berikut:

A. Aspek pertama: take home pay peneliti

Para Ph.D. holder di Malaysia digaji dengan angka yang cukup tinggi (gaji pokok), sekitar RM 7000 untuk entry point salary, atau setara dengan 26 juta rupiah. Seiring dengan perkembangan waktu, mereka akan mendapatkan kenaikan gaji setiap tahun, sesuai dengan ketercapaian Key Performance Indicator (KPI), atau dalam istilah mereka disebut sebagai Key Amal Indicator (KAI). Dari poin yang pertama ini, kita bisa segera tahu mengapa banyak dosen dan peneliti di Indonesia memilih berkarir di negeri jiran. Ya, negara kita selalu memberi tambahan target luaran (output) kepada para dosen dengan menjadikan Malaysia sebagai benchmark, tapi tak pernah membahas input (baca: gaji) dengan menjadikan Malaysia sebagai benchmark. Akibatnya, banyak dosen dan peneliti yang memilih berkarir di Malaysia karena target luaran konsisten dengan gaji yang mereka terima.

B. Pengelolaan riset dan manajemen keuangan

Pengelolaan riset dikelola secara terpusat oleh universitas. Negara mensyaratkan universitas yang akan mendaftarkan dana riset ke pemerintah untuk menyiapkan dua hal: Research Management Center (RMC) dan Research Management Information System (RMIS). RMC dan RMIS menjadi syarat wajib universitas untuk mendapatkan dana hibah dari pemerintah. Dengan dua hal ini, pengelola keuangan dan pengadaan peralatan riset tidak lagi dikelola oleh peneliti, melainkan dikelola oleh universitas. Bayangkan, peneliti hanya perlu mengisi formulir permintaan peralatan atau biaya perjalanan dalam RMIS dan seluruh proses administrasi akan dijalankan oleh RMC.

Selain itu, peneliti bisa mengawasi keluar masuknya uang penelitian, performa publikasi, performa capaian hibah (submitted dan granted), dan performa personil peneliti melalui RMIS. Dampak dari adanya centralized management seperti ini adalah peneliti berkonsentrasi penuh pada proses penelitian, bukan proses manajemen keuangan riset. Coba bandingkan kebijakan ini dengan apa yang dihadapi oleh peneliti di Indonesia. Peneliti di Indonesia harus berjibaku dengan materai, faktur pajak, proses lelang untuk penggunaan dana riset di atas 200 juta, pengeluaran sesuai dengan standar negara (SBU), dan laporan keuangan. Administrasi penelitian yang rumit membuat peneliti kita tidak berminat melakukan riset.

C. Key Amal Indicator (KAI) yang komprehensif

Mengubah visi universitas menjadi universitas riset tidak sebatas pada wacana atau press release saja. Setiap ada kebijakan baru dari negara, peneliti akan mendapatkan benefit langsung dari KAI. Misalnya, negara ingin memicu tumbuhnya publikasi ilmiah melalui kerja sama internasional. Mau tidak mau, aktivitas untuk membuka kerja sama internasional wajib dimasukkan dalam KAI. Di Malaysia, seorang dosen dan peneliti yang bisa membuka kerja sama internasional dan menghasilkan MoU dengan universitas lain di luar negeri akan mendapatkan nilai (atau mereka sebut sebagai ‘markah’) yang cukup tinggi di KAI. Joint publication—meskipun hanya sebagai co-author—akan mendapatkan penilaian tinggi. Menjadi Editor-in-Chief sebuah jurnal bereputasi atau menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional bereputasi akan mendapatkan penilaian di atas rata-rata. Intinya, semua aktivitas yang berujung pada meningkatnya publikasi dan rekognisi universitas secara internasional dimasukkan dalam KAI. Bandingkan hal ini dengan sistem penilaian angka kredit (PAK) di Indonesia. Saya tak perlu bercerita banyak, tapi bagi Anda yang berprofesi menjadi dosen atau peneliti, Anda akan memahami mengapa tak banyak dosen Indonesia yang “mengejar” posisi sebagai Editor-in-Chief atau membuka kerja sama internasional. Bagi dosen di Indonesia, aktivitas seperti itu hanya membuang waktu karena negara tidak mengapresiasi “proses” untuk menghasilkan kerja sama internasional yang baik.

Selain itu, seorang dosen berhak menentukan persentase KAI yang akan dilakukan pada tahun tersebut, yang berujung pada akumulasi poin untuk kenaikan pangkat. Misalnya, tahun ini seorang dosen akan melaksanakan proses pengajaran sebesar 30% dan penelitian sebesar 70%. Dengan proses penentuan mandiri seperti itu, seorang dosen bisa melengkapi angka kredit untuk kenaikan pangkat dengan dinamis. Seorang senior lecturer di Malaysia bisa saja naik pangkat ke associate professor dengan porsi penelitian lebih besar daripada pengajaran, atau bisa saja dengan porsi pengajaran lebih besar daripada penelitian. Mengapa demikian? Sebab, tidak semua dosen memiliki kecenderungan mengajar atau meneliti. Mereka akan lebih dominan di satu aspek saja, sehingga mekanisme penilaian harus disesuaikan dengan keminatan dosen tersebut. Bagi seorang dosen yang memiliki porsi penelitian lebih besar, ia akan dibebani dengan capaian penelitian yang besar. Bagi seorang dosen yang memiliki porsi pengajaran yang lebih besar, ia akan dibebani dengan capaian pengajaran yang besar.

Lalu, apa yang terjadi jika para dosen dan peneliti tersebut tidak bisa mencapai target yang telah dirancang dalam KAI? Mereka hanya “dihukum” dengan penundaan kenaikan pangkat dan kenaikan gaji tahunan. Ya, kenaikan gaji tahunan saja. Sementara gaji pokok yang mereka dapatkan akan tetap mereka terima.

D. Insentif publikasi penelitian

Berhubung beberapa dosen di UTM sudah kami kenal dengan baik, dalam forum kunjungan tersebut kami tidak lagi malu-malu untuk menanyakan hal-hal yang menjadi “rahasia dapur”, sampai ke angka-angka finansial. Lazim kita ketahui bahwa Malaysia sangat menaruh perhatian dengan metrik dan capaian publikasi penelitian. Pada kesempatan tersebut, kami menanyakan “insentif publikasi” yang didapatkan oleh seorang dosen apabila ia berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal terindeks bereputasi (misalnya, terindeks Scopus dengan rangking Q1 dan Q2). Mereka menyampaikan bahwa satu buah publikasi bisa dihargai oleh universitas sekitar RM 5000-6000 (Rp. 18,5 juta – Rp. 22,2 juta). Menariknya, hal tersebut berlaku di seluruh universitas di Malaysia yang bercorak universitas riset. Di Indonesia, beberapa universitas negeri dan swasta terkemuka sudah menerapkan hal ini, tapi tidak di semua universitas riset.

Hal menarik lain yang kami temukan adalah insentif ini berlaku dengan dua kriteria: quality based atau quantity based. Quality based didapatkan jika seorang dosen di Malaysia bisa mendapatkan satu buah artikel jurnal internasional sebagai penulis pertama. Quantity based didapatkan jika seorang dosen di Malaysia bisa menjadi salah satu co-author dalam publikasi yang dihasilkan dari kerja sama internasional. Misalnya dalam satu tahun, seorang senior lecturer di Malaysia diberi target untuk mempublikasikan 1 jurnal internasional dengan quality based criteria dan 4 jurnal internasional dengan quantity based criteria. Dari cerita ini, saya langsung tahu mengapa peneliti di Malaysia sangat agresif mendapatkan kerja sama internasional yang berujung pada joint publication.

Pada salah satu kesempatan, kami bertanya kepada mereka capaian maksimal yang pernah mereka dapatkan dari bonus insentif tersebut. Dengan sedikit tersenyum mereka menjawab: “Kami bisa membeli kereta baru (mobil baru) setiap tahun lah..”. Kami pun tergelak tertawa. Ya, jika satu buah publikasi dihargai—katakanlah Rp. 20 juta—saja, para dosen tersebut by default akan mendapatkan sekitar Rp. 100 juta berbasis KAI (1 publikasi quantity based dan 4 publikasi quality based). Itu belum termasuk dengan luaran-luaran lain di luar luaran dasar, misalnya jika publikasi yang mereka hasilkan lebih dari 5 artikel jurnal, atau jika mereka mendapatkan award (penghargaan) dan royalti dari hasil penelitian.

Kunjungan tersebut memberikan manfaat yang sangat besar bagi kami untuk menjalin kerja sama penelitian dengan para kolega di Malaysia maupun sebagai bahan bagi departemen kami untuk belajar dan memperbaiki sistem yang sudah ada. Bagi para pembaca blog kami, silahkan mengambil manfaat dan kalau berminat, boleh juga di-share supaya artikel ini viral dan menjadi bahan pertimbangan pengambil kebijakan.

Be Sociable, Share!
Categories: Research

Leave a Reply