Semarak Ramadhan di Thailand – sebuah citizen journalism

Dimuat di harian Republika, 3 Agustus 2011 Islam menjadi sangat istimewa ketika ia dihidupkan di negeri non muslim. Hal inilah yang menjadi kesan saya saat saya menikmati Ramadhan yang kedua kalinya di negeri gajah, Thailand. Masyarakat Thailand mengenal ibadah puasa dengan sebutan lomdhon, tak lain adalah Ramadhan dengan gaya pengucapan Thai. “Sunu, kin kau dy my?” (Sunu, boleh makan tidak?). “My dy, lomdhon na krap” (Tidak bisa, saya sedang puasa), demikian jawab saya setiap kali ditanya apakah hari itu saya bisa makan siang bersama rekan-rekan Thai yang beragama Buddha. Selain beberapa pertanyaan dari rekan-rekan Thai, Ramadhan tahun ini cukup ‘spesial’ … Continue Reading →


Jalur Van di Victory Monument Bangkok Thailand

“MasDab, tahu jalur van ke Ladkrabang? Nge-temnya di mana yah? Saya mau maen ke situ….” “MasDab, kalau ke Rayong atau ke Pattaya naik van yang mana? Saya ndak bisa baca tulisan Thai….” “MasDab, saya pengin ke kantor imigrasi, naik van yang manaaaa?” Yah, itulah sebagian pertanyaan yang dulu tidak pernah bisa saya jawab dengan jelas karena gambaran pangkalan van di Victory Monument Bangkok (Bahasa Thai: อนุสาวรีย์ชัยสมรภูมิ) begitu abstrak. Saya tidak pernah bisa memastikan apakah van yang dimaksud berada di sebelah utara, selatan, timur, atau barat Victory Monument. Van, sebagaimana bus, taksi, dan skytrain, adalah salah satu moda transportasi utama di Thailand, … Continue Reading →


Pernak-pernik Puasa di Indonesia dan Thailand

Alhamdulillahirobbil ‘alamiiin, pada Ramadhan kali ini MasDab bisa merasakan kembali berbuka dan sahur bersama di tanah air. Dua tahun penuh, MasDab berkeliaran mengunduh ilmu yang berserakan di negeri Gadjah Poetih, yang terkenal dengan Red Shirt dan Tom Yam-nya. Pada artikel singkat kali ini, MasDab akan coba sedikit membandingkan pernak-pernik puasa di Indonesia dan di Thailand, mulai dari awal puasa sampai lebaran. Ada suka ada duka. Semuanya menjadi pelajaran dan hikmah yang berkesan di hati. 1. Awal puasa: di Indonesia, awal puasa ditentukan oleh sidang isbat MUI (Majelis Ulama Indonesia). Rapat dilaksanakan sebelum maghrib dan biasanya pengumuman bisa kita peroleh sebelum … Continue Reading →


Homesick (jilid 2)

Hampir dua tahun yang lalu, saya menulis artikel dengan judul yang sama, HOMESICK (tertanggal 3 Juli 2008). Artikel tersebut saya tulis sebagai dokumentasi pengalaman pribadi saya saat pertama kali saya tinggal di negeri gajah putih ini. Kini, penyakit Homesick itu tiba-tiba menyergap saya (lagi), MasDab. Penyebabnya sederhana, foto di atas. “What the **** is this?” barangkali begitu Sampeyan bergumam dalam hati ketika melihat foto lemari saya yang mirip dengan TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Ya, Sampeyan betul. Itu adalah buku-buku koleksi saya yang saya beli sejak SMA. Rak paling atas adalah buku-buku psikologi, koleksi bendel majalah-majalah lama, buku-buku AMT (Achievement Motivation … Continue Reading →


Daftar Rumah Makan Halal & Masjid di Bangkok

Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak-bapak pengajian MMIT (Masyarakat Muslim Indonesia di Thailand) yang telah berkenan berbagi informasi tentang direktori makanan halal dan masjid di Thailand. Direktori rumah makan halal terdiri dari data : 1. Nama Rumah Makan 2. Telepon 3. Alamat lengkap 4. Status kehalalan (apakah pemiliknya muslim atau bukan) 5. Tipe makanan (Indonesia, Thai, dll) Daftar Masjid terdiri dari Nama Masjid dan alamat masjid di Bangkok. Bagi rekan-rekan bloggers sekalian yang memerlukan informasi tentang daftar rumah makan halal dan masjid di Bangkok, Thailand, silahkan download dua file ini : HALALTHAI-01 HALALTHAI-02


Antara "Yin" dan "Fang"

MasDab, sudah beberapa bulan ini saya cukup penasaran dengan penggunaan istilah “Yin” dan “Fang” dalam bahasa Thai. Istilah ini berseliweran begitu saja dan cukup sering saya dengarkan melalui celotehan anak-anak Thai, sehingga saya pun penasaran untuk mengetahui konteks penggunaan dua kata itu. “Yin” atau dalam bahasa Thai ditulis dengan “ยิน” yang berarti “hear” atau “dengar” digunakan jika kita mendengar berbagai macam suara, yang terjadi dalam tempo singkat. Penggunaannya mirip dengan kata “hear” dalam bahasa Inggris. Kalimat “Saya tidak mendengar ledakan itu”, bisa menggunakan kata “yin” dalam bahasa thai. Nah, kata bentuk negatif dari kata Yin ini ternyata memiliki pengecualian : … Continue Reading →


Video Lomba Pidato Bahasa Indonesia 2009

คุณ Khobtam Nilaphaichit และ คุณ Wansiri  ให้พูดเกี่ยวกับ “Indonesia and Thailand Relationship” ใช้ ภาษาอินโดนีเซีย. เก่งจริงๆ ! (Mr. Khobtam Nilaphaichit and Miss Wansiri give speech about “Indonesia and Thailand Relationship” using Indonesian Language. Really smart !) Khobtam (2nd Winner) Wansiri (6th Winner)


Bahasa dan Persahabatan

“Wah, susah Pak. Saya sudah mencoba belajar, tapi susah sekali bahasanya. Nggak ada gunanya belajar bahasa ini” Itulah jawaban yang mengemuka dari seorang senior saat saya tanya bagaimana proses beliau mempelajari bahasa Thai. Ada “traumatic experience” saat beliau mengungkapkannya kepada saya. Saat itu, setahun yang lalu, saya hanya bisa diam. Tak bisa berkomentar banyak, karena saya pun belum merasakan manfaat belajar bahasa Thai secara langsung. Sadar atau tidak, kita sering merasa malu saat kita salah berbicara menggunakan bahasa asing. Ekspresi lawan bicara kita, yang mengerenyitkan dahi atau tersentak kaget saat mendengar kita berbicara dalam bahasa mereka, membuat kita merasa takut … Continue Reading →


Guide To New Immigration Office District I / Bangkok Office

Location : Chaeng Wattana Road, Soi 7, Pathumtani Thailand (Click the Map to see in detail) 1. Go to Victory Monument and take bus number 29. There are three kinds of bus here, normally the red colour, blue-white colour, and yellow (express) colour. If you are hurry, take the express one, 20 bath fee for each passenger. Make sure that you ask the direction to the driver (if you’re not sure, let the driver read the Thai Name) : IT SQUARE Lak Si (ไอทีสแควร์หล้กสี่) 2.  Keep watching the left side. You should go down at small bus stop at the … Continue Reading →


Wai Khru : Cara Thailand Menghargai Guru

Guru –  digugu lan ditiru – dituruti dan diikuti (Indonesia tahun 1960 – 1980) Guru – Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (Indonesia tahun 1980 – 1990) Guru – riwayatmu kini (Indonesia pasca Reformasi) Tiga ungkapan di atas adalah cerminan perlakuan masyarakat Indonesia terhadap profesi guru. Di awal-awal masa bangsa ini membangun dirinya, profesi guru sangatlah dihormati. Demikian hormatnya masyarakat Indonesia pada waktu itu, sehingga lahirlah hari guru pada tanggal 25 November. Hari guru tetaplah hari guru, namun penghargaan terhadap profesinya belumlah semeriah perayaan harinya. Di Indonesia, gaji guru terutama Guru Tidak Tetap (GTT) sangat-sangat memprihatinkan. Coba bandingkan dengan gaji para petinggi … Continue Reading →